Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Agustus 2015

Sungai Di Sore Hari

Keringat para penambang membalut ragamu yang telanjang
Matahari siap direnggut dari punggung retina
Kau bercerita pada daun gugur tentang hujan yang menjauh
Jua air yang semakin keruh

Rerumpunan takut dan menggigil melihat tepi yang terkikis
Ada rindu yang mulai mengeruh di matamu
Bocah pinggiran menggerutu pada kail dan umpan
Jarak pandang para ikan tiada sejengkal

Kecemasan menjadi benalu di mahkotamu
Malam tak pernah segan meski langit bermurah hati
Waktumu berakhir dengan mesin yang masih berbunyi
Segalanya habis direnggut sungai malam hari

Selasa, 11 Agustus 2015

Ketika Aku Membenci Warna


Merah biru kuning bercampur
Warna-warni kupandangi langit itu
Terus bercampur dan melebur
Selalu bermunculan warna baru
Hijau jingga ungu dan nila
Terus kucari hitam dan putih
Tapi selalu saja warna baru
Kau kalian dia mereka
Menimbun banyak kenangan
Membunuh perasaan
Kini suasana memusuhiku
Waktu mengutukku
Langit menertawaiku
Semua menjauh
Kecuali rindu dan sesak
Hitam putih dasar langit
Hilang dihapus warna
Habis dimakan masa
Hanyut terbawa angin
Aku sendiri

Senin, 10 Agustus 2015

Kita Mandikan Muara dengan Keringat Mandikan Kita dengan Muara Mandikan Kita dengan Keringat Mandikan Muara dengan Kita

Kunyah apel saat pagi dan malam
Emut gula-gula merah bila perlu
Berhenti membuang keberuntungan
Berhenti membuang sisa umur
Tundukkan pandang pada air pun penuh limbah
Akar enceng gondok saja enggan melihat langit
Air tak akan jernih bila kita diam saja
Dayung tak akan peduli jika air tak jernih
Mendung semakin angkuh jika dayung tak peduli
Burung pemakan padi mengutuk kala mendung
Padi kesepian dan mati bila tak ada burung
Kita makan kerikil saja jika itu terjadi
Atau kunyah apel di pagi dan malam
Emut gula-gula merah bila perlu
Berhenti menunggu pertolongan
Berhenti membayar pelacur
Berhenti membuang sisa umur
Muara itu semakin hening
Menunggu siapa saja datang
Membawa keringat dan sampan
Bukan pelacur

Selasa, 14 April 2015

Kopi Dalam Peraduan

Cecap pertama
Kepulan menari di hadapan
Bendansa bersama sinar lampu bohlam
Nikmat mereguk remang
Sekat demi sekat meleleh
Mencair terseret arus
Menyebar di kerongkongan
Gelisah digoyah hingga lapuk
Berguguran hingga menghumus
Dada pun sedikit lapang
Tinggal rindu yang sesak risau
Aduhai, halaman tempat lahir
Aku akan segera kembali
Cecap demi cecap terlewat
Beriring gelak tawa jantan
Cecap terakhir
Penuh kemenangan
Hari esok tiada sabar menanti
Mari pasangkan ombak
Layar kembali mengembang
Mari kembali beradu, karang

Kisah Para Buyung

Suatu siang satuan buyung mencerna terik
Halaman rumpun tempat bersimpuh
Beratap rindang pohon asam yang gagah
Bermain melawan arah detik jarum jam; mempersetankan waktu
Kepulan warna-warni melayang lewat keringat yang terseduh
Satuan buyung beraroma mentari
“Jangan kauambil mentari” pinta mereka pada jingga
Langit sore tetap angkuh tanpa suara
Mereka melemparinya dengan kerikil
Sebab sayap yang masih kerdil
Aduhai, senja tinggal sekian kedip mata
Dedaunan mulai menggigil
Para buyung berlarian pulang meninggalkan cerita
Berpangku badan pada kebesaran nurani bunda, lantas mengadu
Begitu esok dan lusa menjadi kian lalu
Relakan masa indah penuh imaji tersapu oleh waktu tanpa jeda
Buyung kini telah dewasa
Mengembara jauh keluar sarang
Tak perlu lagi melempari langit dengan kerikil
Sebab sayapnya kian menjelma
Tinggal rindu tempat bermain dan pohon raksasa
Teduhnya mengawang dalam ingatan
Tinggal menerka daun-daun kecil yang gerimis
Menyeka air mata di tanah peraduan
Menyapa pohon dalam hamparan keterasingan
Jauh sirna; pohon kini tergerus tamak
Tanpa menyisakan nyawa

Minggu, 08 Februari 2015

Lukisan

Siapa wahai terpandang
Diam bagai bisu
Hati memburu jawab
Kaukah yang kutatap
Atau aku yang kautatap
Salingkah kita menatap
Kaukah yang kubicara
Atau aku yang kaubicara
Bisakah kita bicara
Siapa yang fana
Siapa yang maya
Siapa yang hidup
Siapa yang mati
Siapa yang melukis
Siapa yang dilukis
Siapa yang membincang
Siapa yang dibincang
Siapa yang merusak
Siapa yang dirusak
Mana yang dunia
Ataukah keduanya
Apa kita sama fana
Apa kita sama hidup
Apa kita sama melukis
Apa kita sama membincang
Apa kita sama merusak
Jika benar kau ada
Hati membuncah iri
Duniamu semerbak cahaya
Tanpa gulita
Kalaupun gelap
Tanpa gemerlap
Tanpa waktu yang berjalan
Tak akan ada yang dikenang
Duniamu Satu
Tanpa kerusakan
Selalu hidup
Bertanyalah apa benar aku ada
Maka akan kujawab ku tiada
Aku malu dengan duniaku
Duniaku tanpa pasti
Selalu ada perubahan
Membuat kenangan muncul
Rindu gelap kala gemerlap
Rindu cahaya kala gulita
Duniaku bermacam
Pula penuh kerusakan
Duniaku bisa mati
Lalu tiada

Hitam Bibir

Merah di punggung bibir; kian merekah; asam manis; cahaya menyatu: menyilau mata yang hendak
Jingga di pundak bibir; kian pasi; asap tertegun; hirup desah mengepul: silau memudar
Violet di leher bibir; kian lebam; debu mendaging; menggores keriput: menebal tahan gempur
Hitam di seluruh bibir; kepul demi kepul; waktu ke waktu; bara menjadi kawan: asap abadi

Bibir-bibir
Berhenti pada hitam
Abadi kelam

Senin, 29 Desember 2014

Cabut


Pulang berpikul ribuan mendung
nestapa nggunung

Dari mata ngepul kabut
solek berparas ngabu kalut

Nafsu tumbuh belukar berserabut
cinta tinggal dongeng hijaunya rumput

Mari senyapkan dengung
mari kepala digantung

Sabtu, 29 November 2014

Hujan 2


Deras mengubur jalanan
Daun ditekuk ranting ditekuk dahan
Berkaca pada genangan
Mengawang jauh akan kenangan

Surabaya, 2014

Hujan

Langkah para jejak seketika senyap
Bergilir dengan syair mengalir
Mengalir tanpa hilir

Para buyung meraih kepak yang tertunda
Ribuan sampan kertas mereka rebah sejenak
Melayang bebas tertimpa deras

Menjelajah setiap kecipak merdu
Mengibas sayap menyibak hiruk pikuk
Membanjiri setiap keriput dahan

Sedang sayapku masih entah
Kuawali pada secicip cangkir arabica
Kupu-kupu berwarna menyebar lewat kepulan

Mahatahu tahu kita lelah
Mahakuasa kuasa mengguyur letih
Mahamegah hujan beserta derasnya

Jumat, 21 November 2014

Kantuk

Sememikat ini kau pagi
Sesuatu di balik jendela berbingkai
Peluk kucumbu cahaya menguningpadi

Adakah kutulis janji
Menyimpan nafas pagi dalam laci
Lagi kemudian esok pagi

Walau punggung mentari
Tak terjamah melalui jemari
Biarlah pagi tetap menggoda

O aku mulai mengingatnya
Ia kugeletakkan kemana
Di sanakah di sana?

Kuteliti cecer kotoran burung pada serambi
Malah sisa kelu cinta semalam tersaji
Selembar permadani

Sayang, jawablah
Di mana mata dengan menggurat merah?
Apakah di bibir kembang merekah?

Biar kupelihara bisu
Beri saja aku bibir manismu
Biar Tuhan yang Mahatahu

Kamis, 20 November 2014

Peperangan

Bebatuan bata saling tumpang
Tiada jendela berbingkai menyela tengah badan
Hanya kaku potret kehidupan tanpa balut selimut
Telanjang

Cinta maupun amarah tersuratkan
Remang si neon meringkih di pundak
Bebatuan bata menyeka buih asin
Bulir kecut setiap punggung yang bersandar
Menopang rekaman jejak tapak bertaburan
Terisak

Tinggal rindu mencabik kulit jantung
Banyak kata tersirat
"Dulu aku menebar hangat pada tuan dan nini. 
Menjalar hingga meradang patah kini. 
Saling dendam, jadikanku tak berarti lagi."

Memeriuk api itu kian menjadi pundi kelam
Tinggal rindu mencabik kulit jantung

Sekarat sudah
Tinggal jerit sepatah
"Hentikanlah!"



Rabu, 19 November 2014

Takdir Rembulan

Hawa rembulan memang memikat kala angin bersiur
Cahayanya gugur menerpa dedaunan melur
Berdesing-desing seperti badai yang mengguyur lebur
Tak seperti matahari yang pendarnya berangsur

Kiat-kiat para takabur yang pandai bertabir
Dan kufur yang menyelilit di sela-sela bibir
Menjerit kepada takdir yang mengalir:
"Aku sedang sekarat di tubir!"

Semula takdir tetap diam menggelontor
Cintanya hinggap pada pucuk awan bersama sekawan kondor
Menjawab teka-teki yang membising sembari berselonjor:
"Sayang, rembulan tak selebar daun kelor."


Surabaya, 19 November 2014

Rabu, 05 November 2014

Daun 2

Tulang punggung bagi para partikel lainnya
Kutukan yang tak dapat kusangkal
Maka lebih terkutuklah aku
Jika aku hanya berbaring pada penyerahan

Tak peduli kau yang manis
Aku terguyur debu dan arang
Tersabit angin malam; tertusuk terik
Tak peduli apapun kau ganggu

Aku harus selalu terjaga, setiap detik
Hap-hap! Kusergap satu persatu butiran cahaya yang lewat
Kuolah, kemudian kupersembahkan
Agar ia dan kami tetap hidup


*Lanjutan puisi berjudul Daun

Rabu, 22 Oktober 2014

Tuang - Tenggak

Seperti sakit yang kau tuang
Mengambang seperti sandal tanpa pasangan
Seketika kutenggak
Kutenggak!
Lubang pipi kerontang
Kisut keriput dehidrasi sela jemari
Mimpi menancap bulat beraksara nisan
Urat leher yang kemudian mencekik
Gundah membuncah kala sakit lagi kau tuang
Geram kugenggam
Dan kutenggak
Kutenggak!
Riak yang mengulum habis kesabaran
Dendam mengelabuhi palung rindu
Hitam menyelimuti rerumputan pada awan
Ketika kembali kau tuang
Lagi kutenggak
Kutenggak!
Butiran manis; botol nan halus; asap padat
Gigi bocor; akal sehat; iman berotot
Kutenggak!
Habislah sudah
Kureguk, dan kutenggak
Maka seberapapun kau tuang
Dengan senang hati kutenggak
Kutenggak!

Jumat, 26 September 2014

Daun

Kau terpenjara oleh ranting;
Kakimu teikat
Rupa-rupanya kau tak bisa berontak
Haram jua dalam berkalimat
Hanya menggosok tubuhmu dengan-mu yang lain
Meronta dan menggeliat di tempat agar kau cepat gugur
Namun seseuatu berbicara lain
Membuat pelepah itu lupa siapa dirinya
Sedang parasmu masih belia
Kau berharap segerombolan predator memakanmu
Agar kau bisa mati dan melupakan semuanya
Tanpa melawan takdir yang menancap samar dalam tanah


Sabtu, 20 September 2014

Kopi Pagi

Mana peduli buku pelajaran pagi, coba saja untuk beralih pergi; gali hasrat duniawi, lupakan otak keladi, ia bukan sejatinya inspirasi, bukan pula soal imajinasi, buang gundah akan begitu banyak caci, temui dirimu sendiri, kemudian basahi mata dengan syair-syair kopi.


Surabaya, 21 September
Dan akhirnya aku lebih memilih ngopi di kantin daripada mengikuti kuliah pagi

Kamis, 18 September 2014

Siklus Sajak-sajak

Tatapannya hinggap teduh
Bahkan ketika berawang-awang
Berkisar jutaan sajak gemulai
Kepayang dibuai sepoi
Beriringan tawa bawa cinta
Menyebar ke seluruh alam
Melahap setiap sudut kosong semesta
Para sajak menyisir samudera belai awan-awan
Memetik ranum buah mendung
Sementara waktu mereka saling melepaskan
Kemudian hempaskan tubuhnya hingga deras
Tiada yang luput, cinta maupun dosa terbasahi
Kembali sajak-sajak menjadi para sajak
Menyatu kembali dalam aliran
Berhanyut hingga arus itu berakhir
Dan berdenyut hingga siklus itu berhenti

Penggali Kubur

Tuan, lelaki tua bermahkotakan senja yang kian luntur
Hilir keringat mengalir di tengah kubur
Mengais mimpi; terus mengais hinga lebur
Tak mungkin cahaya itu gugur
Tak mungkin secepat itu harapan hancur

Tetapi tuan, kau tampak lelah
Matamu berdarah-darah
Lidahmu bernanah-nanah
Lehermu geliat daki dan goresan tanah
Tulang yang hampir patah
Tuan, segeralah

Oh tuan, mereka mulai mendekat!
Menyingkirlah cepat! 
Tertawalah sejenak, tengok mereka yang sedang bermunajat
Beberapa waktu kemudian, kembalilah erat
Raih cangkulmu dan singkirkan itu mayat
Oh jangan lupa tuan, hadapkan ia ke barat

Senin, 11 Agustus 2014

Tamat Riwayat

Kala sejuk itu selalu kuingat
Rumput abu-abu berombak padat
Disana membentuk lingkaran kurang bulat, kita duduk berempat
Berceloteh omong kosong coba usir penat
Kita selalu percaya bahwa esensi alkohol dapat menyekat
Maka bir pun melekat
Tak peduli pekat maupun dihujat
Kita sama-sama tahu; kita sedang tak dapat dihambat
Kala itu kita tengah asyik penuh hikmat
Terkekeh saja kita dengan saling melihat
Pikir kita muda, sedangkan mereka sudah berkarat
Hingga salah satu dari kita sekarat
Hingga ia dan riwayat itu tamat
Benar, benar-benar tamat