Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2015

Daftar Putar Hura-hura

      Dalam mengonsumsi karya seni musik, setiap orang pasti memiliki cara dan porsi yang berbeda. Cara dan porsi tersebutlah yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat candu seseorang terhadap musik. Ada yang tingkat candunya sudah kronis. Orang dalam kategori ini biasanya akan merasa tidak enak badan dan alergi jika sedetik saja tidak mendengarkan musik, ada yang mendengarkan musik hanya ketika butuh. Tipe orang di kategori ini biasanya tidak bisa beraktivitas tanpa mendengarkan musik, mungkin saya termasuk kategori ini, lalu ada juga yang mendengarkan musik secara musiman, ini adalah tipe orang yang kurang saya suka, mereka mendengarkan sebuah lagu tertentu karena pengaruh zaman dan takut dibilang tertinggal zaman, bukan karena prinsip dan kesukaan pribadi. Jadi menurutku, mereka bukan penikmat musik, melainkan penikmat zaman. Tipe orang di kategori terakhir ini mudah saja ditemukan di manapun, yaitu ketika ada lagu semacam Roar atau Wrecking Ball berkumandang, orang yang memutar lagu tersebutlah yang saya maksud penikmat zaman. Saya berani bertaruh jika penikmat zaman tak pernah menikmati sebuah lagu lebih dari sebulan, jika ada yang lebih dari sebulan, itu mungkin karena belum ada lagu akhir zaman yang tercipta lagi. Lagu akhir zaman memang menyeramkan dan terlalu bahaya untuk didengarkan, dan bagiku itu lebih menyeramkan dari pada grind core bahkan death metal sekalipun. Sudahlah, lebih baik jangan mengusik kehidupan mereka. Jangan pernah mengajak mereka berhenti mendengarkan lagu-lagu akhir zaman, karena saya pernah melakukannya dan akhirnya malah cemoohan tertinggal zaman yang kudapat. Sialan.

      Daftar lagu yang akan saya bagikan kali ini berisikan lagu-lagu yang dapat menimbulkan candu. Saya tidak ngawur menuliskan ini, karena setelah bertahun-tahun mendengar lagu-lagu berikut, saya tidak pernah bosan. Subjektif memang, tapi ada baiknya anda juga mendengarkan. Inilah mereka:

      1.    Girl From The North Country

      Bagi siapa saja yang sudah tahu, saya yakin tidak akan ada yang menyangkal jika lagu ini sangat menyejukkan, memang begitulah musik folk. Penyanyi yang bagus ialah penyanyi yang karismatik. Bagiku, tak ada yang bisa mengalahkan karisma John Lennon. Banyak sekali umat rock yang memujanya meski suaranya tidak sejernih Paul McCartney. Tak terkecuali juga pelantun lagu Girl From The North Country, Bob Dylan. Berbekal suara yang dingin dan bersahaja, saya yakin beliau adalah tipikal pria yang dipuja banyak wanita seperti Casanova. Tembang yang termaktub dalam album The Freewheelin’ Bob Dylan ini sangat sederhana dan berdurasi cukup pendek. Alat musik yang digunakan pun tidak beragam, hanya gitar dan harmonika. Mengapa saya sebut menyandukan? Karena saya kurang lelap tidur jika tidak seraya memutarnya. Oh iya, ada baiknya jika anda mendengarkan semua lagu di album The Freewheelin’ Bob Dylan, karena saya benar-benar sangat menyarankan itu.

      2.    Twist and Shout

      Mungkin lagu ini akan menjadi berkesan mainstream bagi yang sudah mengenal akrab bahkan menggilai The Beatles. Namun entah mengapa, dari pertama mengenal lagu ini sampai sekarang, lagu ini berat sekali saya hapus dari track list penghantar lelap di ponsel saya. Mungkin gaya vokal yang urakan ala John Lennon dan instrumen yang cerialah penyebabnya. Selain Twist and Shout, ada juga lagu-lagu The Beatles lainnya, yaitu Please Please Me, I Should Have Known Better, When I’m Sixty-Four, Ask Me Why, Do You Want to Know a Secret, dan Ticket to Ride. Hm. Andai saja sebuah laptop yang berisikan lagu The Beatles lengkap itu masih bisa terselamatkan dan hidup kembali, pasti semuanya akan terasa lengkap. Hm. Album Please Please Me memang sangat mendominasi daftar penghantar lelap di ponsel saya, karena itu adalah album terbaik menurut saya. Meski Sgt. Pepper’s lonely Hearts Club Band disebut sebagai karya terdahsyat sepanjang masa The Beatles.

      3.    Danny Says

      Tebakan anda benar, bandit-bandit punk asal Amerika Serikat, The Ramones adalah dalang dibalik terciptanya lagu ini. Namun bukan versi mereka yang saya maksud, melainkan versi cover yang dimainkan oleh Foo Fighters, band yang dipelopori oleh mantan drummer Nirvana, Dave Grohl. Meski tidak berbeda jauh, tapi Danny Says versi Foo Fighters lebih segar dan pas, juga berdurasi lebih pendek karena kecepatan lagu ditambah. Baik The Ramones maupun Foo Fighters yang membawakan, lagu ini tetap saja tidak bisa hilang dari ingatan dan tergerus oleh rasa bosan.

      4.    Waterfall

      Entah pantas atau tidak jika saya menyebut lagu ini sebagai lagu pengundang candu, karena saya baru mendengarnya beberapa bulan yang lalu. Lagu bergenre alternative rock ini dibawakan oleh band asal Britania raya, The Stone Roses. Saya hanya berani mengira-ngira bahwa kebosanan terhadap lagu ini tidak akan pernah menghampiri saya. Karena jarang sekali saya bisa menaruh hati pada sebuah lagu pada putaran pertama seperti saat mendengarkan lagu ini. Hal yang sama juga saya rasakan ketika pertama kali mendengar Twist and Shout-nya The Beatles dan Up and Down-nya The SIGIT.

      5.    Up And Down

      Saya tahu lagu ini berkat Bang Yutup sekitar tiga tahun lalu, itu tuh kakaknya Bang Yusup. Jadi ceritanya begini, pada sebuah malam, gelap menyita seluruh keramaian, sepi, ke warnet saja saya, iseng nyari bokep biar ramai. Tidak jadi ah, iseng lihat striptease di YouTube dulu kayaknya lebih enak. Eh, iseng lihat band-band keren dulu saja gimana? Sambil nunggu downloadan bokepku kelar gitu, dari pada nanti ejakulasi dini pas lihat striptease dan tidak tegang lagi pas lihat bokep? Kan rugi. Dimulailah perselancaran panjang saya di YouTube dengan bermula pada kata “rock” di search engine. Hingga akhirnya saya bertemu dengan video underground yang raw dan unsophisticated shound banget, sejenak kutengok proses downloadan bokep saya, masih kurang dari lima puluh persen, kembali lagi ke YouTube, kemudian segera saya klik link watch video, alamak! What a cool song! Judulnya Up and Down, dibawakan oleh The SIGIT, siapa sih The SIGIT itu? Saya cari di Gugel, ketemu, saat itu pula saya misuh karena kaget. Saya tidak menyangka ternyata The SIGIT berasal dari Bandung, Jawa Barat, Indonesia, karena saya kira The SIGIT adalah band dari luar negeri. Sangkaan itu muncul setelah saya mendengar dan menonton video Up and Down. Soal lirik? Up and Down membuktikan bahwa lagu percintaan tidak harus cengeng dan merengek.  Dari situ saya mulai mencintai The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, dan sampai saat ini, saya belum juga bosan mendengar Up and Down, bahkan sesekali juga melihat videonya di YouTube. Very addicted.



     Daftar lagu di atas berisi lagu-lagu yang sudah lama sekali bertengger di ponsel kecuali Waterfall. Mungkin mereka akan tinggal di situ secara permanen hingga ponsel saya terjual atau hilang. Berbeda lagi jika anda bertanya tentang musik apa yang akhir-akhir ini sedang saya gilai, karena daftar lagu ini yang sifatnya temporary. Meski temporary, sebenarnya saya tak pernah bosan dengan musik apa pun yang pernah saya gemari, hanya saja yang ini membutuhkan jeda beberapa waktu untuk mendengarkannya lagi agar musik itu menjadi hidup kembali. Berikut daftarnya:

1.      Danzig – 777

      Band Heavy Metal dari Amerika Serikat selalu meiliki taring dan tanduk guys. Lamb of God adalah contoh konkrit lainnya. Meski begitu, perbedaan Danzig dan lamb of God sangat mencolok, jika Lamb of God mengusung filosofi brutal ala metalcore, Danzig lebih menyeramkan dengan doom metal-nya.

2.      Lamb of God – Still Echoes

      Still Echoes adalah single pertama untuk album baru Lamb of God yang masih sangat hangat karena baru rilis 24 Juli lalu yaitu VII: Sturm und Drank. Still Echoes sendiri dirilis pada tanggal 8 Mei. Saya yakin, kini umat metalcore sedang berpesta pora menikmati album ini. Untuk siapa saja yang ingin menikmatinya juga, pesan langsung di website resmi Lamb of God.

3.      The Mahones – Drunken Lazy Bastard

      The Mahones adalah band celtic punk yang lahir di Irlandia tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh, dipelopori oleh Finny McConnell. Seperti band celtic punk pada umumnya, musik The Mahones benar-benar memiliki instrumen tradisional Irlandia dan Skotlandia yang ceria dan ugal. Alat-alat yang digunakan pun tradisional semacam bagpipe, biola, timah peluit, akordeon, mandolin, dan banjo. Tak pelak jika personil band dalam musik ini pasti lebih dari lima orang. Aliran ini sudah ada pada tahun 60an dan benar-benar masih asli, dipelopori oleh The Dubliners. Saya sendiri pernah menonton band celtic punk asal Surabaya pada saat diadakan acara punk di kampus. Nama band itu adalah Charlie’s Rum and The Chaplin. Tema umum yang digunakan dalam celtic punk yaitu politik, budaya, kepercayaan, dan mabuk. Tidaklah perlu saya jelaskan Drunken Lazy Bastard termasuk dalam tema yang mana, anda pasti sudah bisa menebak. Dengarkan juga Queen and Tequila, Paint The Town Red, dan Whiskey Devils. Rasa senang mendengar lagu-lagu oleh band ini timbul lebih besar saat mengetahui akun twitter saya mendapatkan follow back dari akun @THEMAHONES. Hahaha

4.      Wolfmother – Dimension 

      Diawali dengan teriakan, dimainkan dengan nge-blues, dilantunkan dengan lirik yang mengandung banyak metafora, lagu ini benar-benar memiliki dimensi lain.

5.      The Stone Roses – I Am The Ressurection

      Menyegarkan pada awalan hingga pertengahan, kemudian diteruskan dengan alunan drum yang bertalu-talu dan iringan gitar dan bass yang padat dan renyah hingga akhir lagu, lagu ini seperti memiliki dua sisi yang berbeda dan terdapat keistimewaan pada tiap sisi. Seharusnya saya menaruh lagu ini di track list pengundang candu, tapi sudah tidak ada tempat dan ada satu tempat kosong di track list ini. Namun hal semacam itu sepertinya kurang patut dipermasalahkan, tapi hal yang patut dipermasalahkan adalah, ketika tidak ada seorang pun yang mau mendengar satu lagu pun dari semua lagu yang telah saya bagikan. Sungguh, itu merupakan masalah besar.

Kamis, 26 Maret 2015

505

In 2009

Ingin sekali membuat tulisan yang begitu keren tapi apa daya jemari, semua itu masih dalam tahap yang sangat jauh bagi saya. Saya akan sangat bangga mengakui bahwa saya adalah seorang pemula yang masih belum bisa sepenuhnya mencintai kegiatan menulis pun bahkan hasil tulisanku sendiri. Saya masih dalam tahap suka-suka dalam kegiatan menulis (tolong jangan memaknai kata suka-suka sebagai kata sukarela). Saya malah sering sekali menertawai tulisan saya sendiri yang masih dipenuhi dengan hal bodoh. Namun, jika saya tengok lagi ke belakang, ternyata sudah ada perkembangan yang menurut saya itu cukup membangggakan pun itu sedikit dan kecil sekali persentasenya. Memang benar, manusia diciptakan untuk berkembang, tak terkecuali saya. Saya adalah tipe orang yang sangat menyukai pujian. Saya sudah sering sekali menerima pujian dari berbagai kalangan untuk perihal kebodohan, keteledoran dan ketidakteraturan saya. Ada yang memuji saya ini adalah tipikal orang bermasa depan suram dan terjal, ada yang memuji saya dengan kata-kata kurang ajar, ada yang menyebut saya ini sangat mesum, ada yang memuji saya begitu berantakan, ada yang memuji saya ini orangnya gila, dan yang paling baru, kemarin ada yang memuji saya sebagai pemuja setan setelah menunjukkan salah satu artwork The SIGIT kepada sang pemuji tersebut. Jadi, jangan sungkan untuk memberikan pujian terhadap saya jika anda rasa tulisan ini sangatlah bodoh atau bahkan terlalu bodoh untuk dibaca, karena sebenarnya saya juga sedang dilanda kebingungan luar biasa saat mencari-cari di mana letak kebodohan saya yang lain, seperti puisi yang begitu ijay, cerpenku yang membuang waktu bagi para pembaca, pengalaman hidup yang very forgottable dan beberapa gambar yang not for appreciated di postingan saya sebelumnya. Maka bolehlah saya segera mengakhiri tulisan bodoh ini, tetapi setelah yang satu ini. Dalam postingan sebelumnya, saya juga dengan bangga memamerkan kebodohan saya yang lain berupa tulisan tentang musik yang mungkin bahkan sama sekali tidak bisa dijadikan sebuah referensi bagi siapa pun. Memujilah, karena kali ini saya akan kembali memaksa anda untuk mendengarkan sebuah tembang berlabel indie namun bernuansa gelap semacam 505 oleh Arctic Monkeys. Arctic Monkeys? Grup band macam apa mereka? Seperti apa penampilan mereka? Jawabannya satu, mereka keren! Memang ada sedikit rasa sebal jika mengingat band ini adalah percikan yang muncul akibat ledakan The Strokes dkk di abad ke-20 yang acap kali disebut sebagai "The saviours of rock n roll" itu, namun saya selalu meyakini, Arctic Monkeys adalah percikan terdahsyat di alam Britania raya dari ledakan tersebut, sebab banyak sekali band-band dari Inggris-- yang seangkatan dengan Arctic Monkeys-- yang sempat terkenal pada awal karirnya seperti The Libertines, Franz Ferdinand, Bloc Party, Editors, The Fratellis, Placebo, Razorlight, Kaiser Chiefs and The Kooks namun mengalami kemerongsotan tajam dalam hal finansial dan akhirnya memilih untuk beristirahat berkarir dalam dunia musik. Kembali ke 505. Selain lagu Arctic Monkeys yang berjudul When The Sun Goes Down dan Fluorescent Adolescent, saya juga sangat menggemari lagu 505. Lagu ini memikat saya lewat awalan yang kelam memikat kemudian klimaks yang hebat pada pertengahan lagu. Sebuah lagu yang entah apa maknanya namun saya meyakini lagu ini diciptakan oleh seorang bajingan yang gelisah terhadap perpisahan dengan seorang yang ia cintai. Gelisah yang ia rasakan berhasil tertuang angkuh di dalam lagu dan menyebar spiral dalam imajinasi saat saya mendengarkannya. Apakah anda sependapat dengan saya bahwa semua ini merupakan sebuah penjelasan yang amat bodoh bagi sebuah lagu yang sangat bagus (atau malah bodoh juga?). Entahlah, namun anda dapat bernafas lega, karena semua kebodohan di dalam kebodohan ini telah berakhir. Jangan lupa, segera dengarkan 505!

Kamis, 12 Februari 2015

(Re-remember) 5 Album Penyelamat

Kemarin malam waktu ngopi bareng di gang VII, Tito menanyakan kepada saya tentang musik apa yang saat ini saya gandrungi. "Sharing po o cuk!" ketusnya. Saya bingung dan diam sejenak. Karena saat ini, saya seperti umat rock yang ling-lung. Saya belum memiliki referensi apa-apa soal perkembangan musik saat ini. Selain karena laptop saya yang sudah dijemput sang malaikat maut, saya juga kurang bisa menabung dengan baik untuk berlangganan majalah musik. Biasanya saya hanya pergi ke warnet dengan paket malam Rp 5000/4 jam untuk sekadar melihat-lihat geliat hiruk-pikuk perkembangan musik favorit. Saya dengan enteng mengaku saja kalau saya sedang kosong dan hampa. Untuk mengalihkan rasa malu dan rasa berdosa saya, saya asal-asalan bilang saja kalau sekarang saya lagi mengingat ulang atau menggandrungi kembali musik-musik pertama saya dulu. Yaitu musik-musik yang menyelamatkan saya dari kekacauan dan krisis musik berkualitas di Indonesia pada waktu itu. Benar, ini resiko umat yang lahir di abad ke-20 seperti saya. Pertamanya memang asal-asalan menjawab, tetapi kemudian saya berpikir kembali menggunakan otak bodoh saya, bahwa ternyata saya telah melupakan banyak sekali album-album pertama saya waktu itu. Maka saya putuskan untuk mendengarnya kembali. Membenahi dan menghafalkan kembali bagian lirik-lirik yang mulai kabur dari kepala. Benar juga, saya adalah seorang medioker yang dangkal pengetahuannya mengenai musik, maka dari itu, musik yang saya dengarkan mungkin sudah didengarkan oleh kebanyakan orang. Ya, saya akui itu. Tetapi saya akan menyangkal bahwa musik yang saya dengarkan adalah musik super menjana seperti musik labilnya Last Child atau Killing Me Inside yang sok-sokan frustasi itu. Saya akan membagikan beberapa album yang berhasil meniriskan saya dari badai krisis musik berkualitas. Saya menyebut mereka album penyelamat. Monggo:  

1. Guns N' Roses - Appetite for Destruction (1987)


Waktu itu saya masih berseragam putih abu-abu. Saya akui lagu-lagu seperti Permintaan Hati dan Betapa Aku Mencintaimu masih hinggap dengan bedebah di ponsel saya yang saat itu masih labil. Saya enggan menyebut nama bandnya. Saya malu. Tetapi kemudian, teman sekaligus kakak kelas saya yang melanjutkan pendidikan di luar kota pulang kampung dan memamerkan lagu yang saat itu belum kuketahui. Namanya Usman, dan lagu yang dipamerkan adalah Sweet Child O' Mine oleh Guns N' Roses. Saya dengan sangat malu juga akan mengaku bahwa waktu itu saya sempat memaki semacam "Lagu macam apa sih?" juga "Lagune wong gendeng" kemudian memamerkan balik lagu-lagu merengek yang baru kucomot dari ponsel teman se-labil saya di sekolah. My sin. Tetapi ternyata Usman sangat berwibawa dan secara dingin mengatakan, "Lagu ngonoiku bahaya. Kon gelem dadi koyok Rangga?" Lagu seperti itu berbahaya. Kamu mau menjadi seperti Rangga? ia berujar. Rangga sendiri adalah tokoh misterius di desa kami yang sering dianggap psikopat karena kurang berbaur dengan masyarakat dan pernah dianggap membunuh salah satu warga desa yang disebabkan oleh masalah sepele. Oke oke, saya juga akan mengakui bahwa, dulu saya mendengar Sweet Child O' Mine karena tidak mau dianggap norak oleh Usman, juga karena momok yang menakutkan. Menjadi seperti Rangga. Pertama saya mendengar lagu ini, kesannya biasa saja. Mungkin karena saya masih murtad dan belum tersadarkan. Saya putar lagi, kepala saya mengangguk-angguk tanpa saya perintah. Dan setelah berkali-kali mendengarnya, saya mulai mencintai lagu ini. Juga Guns N' Roses, juga alirannya. Saat di warnet, saya sudah tidak lagi mengetik kata kunci "Peterpan" pada kotak search engine, tetapi "Guns N' Roses". Karena saya masih mualaf dan bodoh, saya tak terlebih dahulu membaca informasi dan awal mula band ini terbentuk, melainkan langsung menuju pada deretan album mereka. Ternyata Sweet Child O' Mine termaktub dalam album Appetite for Destruction. Bersanding dengan lagu-lagu yang belum pernah kuketahui sama sekali. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendownload semua lagu di album tersebut, kecuali Sweet Child O' Mine tentunya. Hingga saya sangat tergila-gila dengan lagu-lagu nakal seperti Welcome to The Jungle, Rocket Queen, Out ta Get Me hingga You're Crazy. Sebenarnya waktu itu saya juga sudah mengetahui paling tidak beberapa band seperti Avenged Sevenfold, Sum 41 dan Green Day. Tentu bukan karena benar-benar suka, melainkan karena ingin tampil keren dan sok-sokan menjadi rocker. Setelah saya sudah sedikit sadar, saya menghapus semua lagu-lagu penuh borok di ponsel saya, kemudian dengan bangga memamerkan lagu-lagu dan prinsip hidup saya yang baru kepada teman-teman yang masih setia dengan St12 maupun Armada di sekolah. Tak jauh berbeda dengan saya waktu pertama dulu, umpatan semacam "Lagu macam apa sih?" juga "Lagune wong gendeng" mencuar pedas dari mulut mereka. Aduh, saya jadi bingung, saya mau menyadarkan mereka dengan cara apa? Saya tak mungkin memakai cara Usman. Masalahnya, saya tidak tahu nama-nama orang gila di desa mereka masing-masing. Masa iya saya akan memakai nama Rangga? Tentu tidak mungkin. Tapi sudahlah, biarkan mereka mencari jati diri mereka masing-masing sesuka hati mereka. Yang penting saya sudah punya Guns N' Roses di ponsel saya. Saya tidak akan merengek lagi. Maafkan saya jika begitu telat dewasa. Setidaknya, pintu gerbang yang di dalamnya terdapat guncangan sudah mulai terbuka walau sedikit.

2. Megadeth - Rust in Peace (1990)


Setelah berhasil teradiksi oleh Guns N' Roses, saya menyebut diri saya sendiri dengan sebutan anak rock baru melek (baru lahir). Benar, saya merasa seperti baru saja diadakan di bumi ini. Karena masih bayi, saya begitu ingin tahu lebih mendalam mangenai musik rock. Saya banyak membaca artikel di Wikipedia (saya mana tahu kalau saat itu sudah ada Webzine seperti Rolling Stone atau situs mengguncang seperti Metalhammer?). Ternyata unsur labil masih sedikit ada yang melekat di otak saya. Saya belum bisa mencintai suatu jenis musik saja, semuanya kulahap. Satu syarat yang saya wajibkan saat itu adalah, musiknya tak boleh merengek dan harus bisa membuat saya teriak-teriak saat mandi. Baiklah, ternyata itu dua. Tetapi intinya memang satu, saya tak akan lagi menyimpan apalagi membanggakan Peterpan yang mendayu-dayu itu. Saya berjanji. Balik ke cerita. Saya yang belum bisa membedakan genre atau bahkan subgenre dari musik rock malah sempat nyasar ke ranah thrash metal waktu itu. Tetapi abaikan saja istilah nyasar atau tersesat, saya malah menyebut ini sebagai proses yang berharga. Hangar 18 dan Take No Prisoners adalah lakon utama penyebab saya mencintai thrash metal. Mereka berada dalam album ke-empat Megadeth. Rust in Peace. Perjalanan yang menyenangkan. Mungkin akan ada yang memaki saat membaca album nomor tiga. Karena selain hair metal, saya juga menggandrungi grunge!

3. Nirvana - Nevermind (1991)


Untuk para umat hair metal, saya mengerti jika kalian sangat ingin melempari saya dengan botol dan kaleng bir. Sedikit yang saya tahu, musik grunge telah menimbun dan menuntaskan aliran hair metal. Saya tahu kalian sepenuhnya membenci Nirvana dan Nevermind seperti Tuhan yang mengutuk iblis beserta keturunannya. Namun saya tak bisa memungkiri, saya sangat mengagumi Kurt Cobain. Beliau keren, chaos, rasa frustasinya berhasil tertuang penuh dalam lagu-lagunya. Tidak seperti lagu-lagunya Last Child itu. Dan jujur sampai saat ini, saya masih menganggapnya sebagai dewa. Dosakah saya? Mungkin kalian akan menjawab kata benar dengan sangat lantang. Saya bisa mendengarnya. Maafkan saya, saya memang labil dan berusaha menutupinya dengan kata omnivora musik agar tidak malu. Pertama saya mengenal Nirvana, sangat tidak terduga. Waktu itu handphone saya rusak dan sudah tidak bisa lagi diperbaiki, maka dengan sangat memelas, saya minta dibelikan ponsel genggam baru kepada orang tua saya. Saya juga masih ingat, waktu itu Bapak hanya sanggup membelikan ponsel second kepada saya, saya tidak masalah. "Sing penting iso diisi lagu sing akeh pak." yang penting bisa diisi banyak lagu pak, kataku. Ponselpun dibeli, saya sangat girang. Sebentar lagi saya bisa kembali menikmati musik saat sebelum tidur maupun teriak-teriak saat sedang mandi. Setelah ponsel berpindah tangan, saya segera mengaktifkannya dengan gembira. Saya membuka pemutar musik. Hei, ternyata sudah ada isinya! Kebanyakan adalah lagu Barat pula. Seingat saya, antara lain:

- Nirvana - The Man Who Sold The World (David Bowie Cover)
- Nirvana - Smells Like Teen Spirit
- Nirvana - Come As You Are
- Nirvana - Lounge Act
- Green Day - American Idiot
- Guns N' Roses - Sweet Child O' Mine
- Guns N' Roses - Don't Cry
- Nirvana - Breed
- Linkin Park - Numb
- Linkin Park - Breaking The Habit
- Linkin Park - Figure
- St12 - Putri Iklan (Then deleted soon)
- Peterpan ft. Crhisye - Menunggumu (Only hear once, then deleted)

Aduh, yang lain lupa. Pokoknya track list itu didominasi oleh Nirvana. Band macam apa itu? Alirannya apa? Pengaruhnya bagaimana? Lagunya kok kacau begini? Setelah pikir panjang, akhirnya saya menyisihkan uang saku untuk mencari informasi tentang Nirvana di warnet. Akhirnya saya sedikit mengetahui tantang grunge, pula Kurt Cobain, sosok yang membuat saya ingin sekali memiliki rambut pirang yang berantakan menutupi seluruh raut wajah dan menyileti bagian lutut pada celana jeans saya waktu itu. Dan setiap ditanya apa cita-cita saya, saya selalu menjawab ingin seperti Kurt Cobain. Dasar anak kecil nan ingusan. Sebenarnya keinginan itu masih ada setidaknya untuk saat ini. Tetapi sayang, wajah saya tidak cocok berambut pirang. Maka dengan sebuah pertimbangan takut dikira bencong narsis maupun emo labil, saya mengurungkan niat untuk merubah warna rambut saya, dan menguburnya dalam-dalam. Tetapi untuk mengagumi sosok Cobain yang kacau itu, rasa-rasanya tak akan pernah berujung. Sebentar sebentar, ngomong-ngomong, Linkin Park itu siapa lagi sih?

4. Linkin Park - Meteora (2003)


Endusan saya merambah hingga nu metal. Alasannya sama, yaitu karena amat sangat penasaran. Numb adalah dalang dibalik semuanya. Saat mendengar, urat nadiku dipenuhi rasa berdesir. Saya ke warnet lagi. Meteora sudah ada di ponsel. Instrumen yang memikat adalah senjata utama mereka. Lagu-lagu seperti From The Inside, Don't Stay, Easier to Run dan Breaking The Habit menjadi penyebab hari-hari saya lebih banyak saya gunakan untuk diam dan merenung. Saya jadi lupa mengerjakan tugas, jadi malas bersekolah, jadi banyak merokok, kurang peduli urusan perempuan dll. Kecil-kecil sudah brutal!

5. Green Day - American Idiot (2003)


Sebenarnya, musik punk rock sudah saya kenal sebelum empat genre di depan. Saya sudah mengetahui band-band "darah muda" seperti Blink-182, Sum 41, Good Charlotte dan System Of A Down. Tetapi saya menuliskan ini di akhir, karena dulu, saya mendengar Green Day secara sungguh-sungguh memang setelah keempat grub band di depan (Guns N' Roses, Megadeth, Nirvana dan Linkin Park). Sebelumnya, saya hanya mengikuti arus saja, teman-teman saya suka Green Day, maka saya begitu juga. Tetapi kalau sekarang, saya berani bersumpah, saya tidak peduli jika tidak ada seorangpun yang menyukai Green Day, saya akan tetap suka. Berawal dari lagu Boulevard of Broken Dreams, saya berhasil masuk dalam deretan pemuda yang (merasa dirinya) paling berbahaya. Dangerous!

***

Kelima album tersebut merupakan awal perjalanan saya dalam menggemari musik rock. Gerbang menuju kegaduhan. Sejak saat itu, saya jadi sering ke warnet. Tanpa pikir ini itu, pencomotan file secara ilegal dari 4shared pun saya lakukan hari demi hari. Saya lambat-laun mulai paham tentang musik rock dan metal. Saya mulai tahu band ini itu, webzine ini itu, konser sana-sini. Hidup saya mulai penuh guncangan, dan itu sangat menyenangkan. Saya tak akan pernah peduli jika mereka saling berbenturan dan berbeda pandangan, saya tak akan pernah sanggup membenci apalagi mengutuk salah satu dari mereka. Saya yang sangat lalai dan mudah pikun ini berjanji, akan kembali memutar kelima album tersebut kemudian mempelajari kembali lirik-liriknya. Saya bersungguh-sungguh, tidak mengasal-asalan lagi. Dan jujur, saya akui, hingga saat ini, saya masih dengan keras kepala menyebut diri saya sebagai omnivora musik. Hm, dasar remaja labil.

Senin, 09 Februari 2015

5 Lagu Frustasi Akibat Perempuan

Kamu perempuan? Saya menyarankan untuk tidak membaca tulisan ini lebih lanjut. Karena tulisan saya— yang tidak pernah berguna— ini merupakan penguakan sisi pemberontakan lelaki terhadap perempuan. Pria terhadap wanita. Kamu lelaki? Mari kita jujur saja, pasti pernah ada perempuan dalam kehidupan anda yang membuat anda frustasi. Jangan bilang tidak! Jujur saja, saya juga lelaki yang sangat doyan perempuan (meski banyak yang menyangkal), makanya saya tahu— karena saya pernah setidaknya beberapa kali menjalin hubungan asmara dengan perempuan— bahwa lelaki tak jarang frustasi akibat perempuan dan memendam rasa sebal terhadapnya. Tentu karena banyak sebab. Bisa karena dia(she) yang banyak ngibul, banyak ngomel, banyak protes dll. Bahkan tak terkecuali bagi para rocker yang berandalan dan tukang bikin onar. Ternyata perempuan juga bisa membuat mereka mengeluh perih karena sakit hati dan frustasi. Untung Bunga— pacar saya— anaknya baik dan manut. Uhuk. Inilah berbagai pengakuan para berandalan yang sakit hati dan frustasi:


1. Guns N Roses - Used To Love Her

Dengan gemuruh balada, Axl dkk berhasil membuat suasana frustasi— yang sering diilustrasikan pedih— menjadi lelucon yang menyenangkan dan renyah. Konon tokoh "I" dalam lagu ini frustasi karena "she" yang cerewet dan suka ngomel.

I used to love her, oh yeah but I had to kill her
I used to love her, yeah but I had to kill her
I knew I'll miss her so I had to keep her
She's buried right in my back yard
Oh yeah, oh yeah, oh yeah, oh

I had to put her six feet under
And I can still hear her complain

She bitched so much, She drove me nuts
And now I'm happier this way, yeah
Whoa, oh yeah


2. The S.I.G.I.T - Live in New York

Sekilas lagu ini tidak terdengar seperti lagu frustasi, melainkan lagu yang menggambarkan seseorang bermimpi tinggal sebagai rockstrar di New York. Itu memang benar, seseorang dalam lagu ini memang ingin tinggal di New York, tetapi bukan lain adalah karena rasa frustasi akibat dikhianati perempuan yang matrealisme.
“…
Looking me and my big scar
Now don’t you miss me, I missing somehow 
Get my cash, get my carrier
You want my money don’t get near dear
Bite the finger no I don’t care
This is my sweet revenge 
...“
Dan gambaran kehidupan di New York yang tampak menggiurkan merupakan pelampiasan yang sempurna.
“… 
But if you find me don’t miss me around
Get girls left and right
Gonna sleep all day and drink all night...
Coming talking on the radio
...
‘Cause people going back to rock ‘n roll
…“
Yeah, if only I could live in New York.


3. The Beatles - Not A Second Time

Ketika di masa lalu kau pernah disakiti oleh perempuan hingga menangis semalaman kemudian sekarang dia kembali lagi dalam kehidupanmu yang mulai berubah membaik tanpanya, apa yang akan kau lakukan? Kalau saya dengan mantap akan mengatakan, tidak! Tidak untuk ke dua kalinya!
Setidaknya begitulah yang telah dialami tokoh "I" dalam lagu ini.

You know you made me cry
I see no use in wondering why
I cry for you


You're giving me the same old line
I'm wondering why
You hurt me then
You're back again
No, no, no, not a second time
Not a second time
Not the second time
No, no, no, no, no
No, no no



4. Hericane Alice - Too Late

Lagu ini bertema sama dengan lagu nomor tiga. Hanya saja sedikit berbeda, jika di nomor tiga tidak disebutkan secara jelas apa penyebab sang lelaki sakit hati atau apa yang dilakukan oleh perempuan itu sehingga membuat sakit hati, maka di sini disebutkan penyebab rasa sakit hati atau apa yang dilakukan perempuan. Ketika kau sedang berbunga-bunga dan berbahagia menyadari bahwa kau telah memiliki pasangan yang menurutmu dia begitu bahagia pula. Tetapi tiba-tiba pasanganmu mengatakan bahwa sekarang dia ingin kalian berteman saja tanpa kau tahu apa alasannya dan menyuruhmu untuk menunggunya dalam beberapa waktu. Dan pada suatu hari, kau memergokinya tengah asyik berjalan dan bergandeng tangan, tentu tidak lagi sendirian, tentu dengan seseorang. Maka anda harus berkata lantang, terlambat! Semuanya telah berakhir! Menunggumu adalah hal yang paling memuakkan. Terlambat! Aku tidak bodoh! 

We had the lovin', baby, now it's gone
I don't wanna see you again
So don't come cryin', won't ya leave me alone
Remember you said let's just be friends

Oh no
Too late

I tried to call you, you were never home
Remember when you pushed me away
I saw you walkin' and ya, you weren't alone
Why'd you have to hurt me this way, baby?
You said it's over, well I guess that's true
You tried to make a fool out of me
Well, now you're knockin' and I, I'm not your fool
Listen, baby, take it from me

It's too late
Oh, babe, did you expect me to wait
Oh, how long, how long, baby
Now it's too late
Too late...
How long, baby, oooh how long
Too late...



5. Suicidal Sinatra - Dusta Jelita

Dusta jelita? Dari judul saja kau akan dengan mudah mengetahui lagu tentang apa ini. Mungkin anda tidak mau tahu tentang ini, tapi akan saya jelaskan. Bahwa dulu lagu yang bertajuk punk rock nu skool atau punk rock psychobilly ini pernah saya pakai sebagai anthem for the broken heart. Ya, tentu, dulu saya pernah patah hati karena perempuan. Itu adalah pengalaman berharga, setidaknya itu adalah pembelajaran secara nyata bahwa memilih perempuan untuk dijadikan pasangan bukan hal yang dapat dilakukan secara sembarangan, bukan melulu soal cantik dan menarik, bukan melulu soal pantas atau tidak, bukan melulu 'dijalani aja dulu'. Bukan sama sekali. Perihal pasangan, itu bukan merupakan hal yang main-main dan tidak bisa dibuat main-main. Bolehkah saya bercerita sedikit tentang kehidupan saya dan pasangan saya saat ini? Tentu boleh, ini tulisan saya kan? Baiklah, kalau anda tanya pengertian pasangan kepada saya, maka jawabannya adalah sederhana, pasangan adalah mereka yang merasa diri mereka masing-masing tidak pantas satu sama lain. Kok gitu? Aneh kan? Haha. Kami— saya dan pacar saya— memang aneh. Jika kebanyakan dengan bangga membeberkan "kita sama, kita jodoh", maka kami akan tertawa sekeras mungkin. Tidak ada kesamaan sama sekali di antara kami. Saya malas, dia rajin. Saya mesum, dia polos (meski tidak sama, yang ini namanya cocok haha). Saya badung, dia berbudi luhur. Saya nokturnal, dia diurnal dll. Perbedaan pendapat yang dapat menimbulkan perdebatan adalah hal yang lumrah bagi kami. Namun sebetulnya, ada hal yang sama di antara kami, merasa diri kami masing-masing tidak pantas satu sama lain. Ya, saya sering bilang bahwa saya ini sama sekali tidak pantas untuknya begitu juga sebaliknya. Jangan salah kira, justru itu yang membuat kami sama-sama tidak ingin kehilangan satu sama lain. Entahlah, tapi begitulah pengertian pasangan. Tak harus sama, tak harus terlihat cocok dan pantas, dan tak harus memesan pakaian yang gambarnya serba couple. Entah kenapa saya jadi ingat lagu ini tadi. Mengingat betapa bodohnya aku dulu— yang salah pilih pasangan dan disakiti— kemudian menertawai itu semua. Saya bahkan sudah tidak sakit hati jika mengingat perempuan itu. Saya sudah menganggapnya angin lalu, angin perubahan, angin yang merambahkan saya ke kehidupan yang lebih baik. Nyatanya sekarang saya sudah sangat baik, bahkan jauh lebih baik. And now I'm happier this way.

Ditemani cadillac yang malang
Alkohol pun ku tuang
Bersama lewati malam panjang
Kau tak kunjung datang

Ku bosan dan tinggal kan semua
Persetan dengan dirimu
Pergi tuk dapatkan kembali
Kesenangan yang telah hilang


Ditemani sebotol whiskey
Ku bernyayi dan lupakan semua
Hati iblis yang berwajah geulis
Kau wanita jelita palsu penuh dusta


***

Ngomong-ngomong, bolehlah perempuan juga menulis lagu tentang rasa frustasi akibat lelaki. Karena tak dapat disangkal, banyak juga lelaki— yang membuat saya sebal— yang gemar menyakiti hati perempuan. Kebetulan juga, Bunga dulunya disakiti berkali-kali oleh mantannya yang banci itu. Kami sama-sama datang dari hati yang sakit dan sama-sama sudah belajar apa arti sesungguhnya berpasangan. Baiklah, itu kesamaan kita yang nomor dua setelah kesamaan yang merasa bahwa kami tidak pantas satu sama lain. Jadi, mau menuliskan 5 Lagu Frustasi Akibat Lelaki kan bung?

Senin, 05 Januari 2015

5 Album Peninggi Darah Versi Pribadi


Jujur, deretan lagu-lagu yang akan saya bagikan kali ini bukan semata-mata dikhususkan untuk para penderita anemia. Jadi, siapa saja boleh membacanya hingga tuntas. Tulisan ini saya buat bukan karena permintaan dari seseorang melainkan memang sudah saya rencanakan sebelumnya. Memang benar tadi siang ada salah seorang teman yang meminta saya untuk membuat sejumlah daftar lagu kesukaan pribadi, lagu-lagu untuk bercinta misalnya. Tetapi kali ini saya memilih untuk membangkang, karena saya sudah berjanji secara pribadi bahwasanya tidak akan pernah menulis tentang lagu seperti Belah Duren maupun Cinta Satu Malam. Haha just kidd bro! Sekali lagi, ini benar-benar menurut hobi dan kebiasaan. Terutama minggu ini, saya telah sukses teradiksi tembang-tembang bertajuk metalcore. Lajunya menggebu, membuat gendang terasa gempa, detak jantung tanpa jeda, dan yang terpenting saya bisa merasakan hasrat kebuasan saya meningkat pesat menjebol presentase seratus persen. Musik metalcore lebih tertata rapi ketimbang grindcore dan goregrind. Tetapi tetap saja mereka sama-sama membunuh! Tanpa ampun! Dalam musik ini anda tidak akan disuguhkan pemandangan nan elok, eksotik maupun nyentrik. Tak ada penari latar maupun gegoyang dumang. Hanya simbol kekurangajaran: alam buas, hingar bingar, kekacauan menyenangkan, dunia tanpa pengampunan, juga kebebasan. Hey jude! It's like when you reconcile your pain in the loneliest refrain, and crawl tied and bound to the one thing you can't leave behind! Hellyeahaha!

Berikut album-album yang dapat membuat kegaduhan:


1. Resolution

Album pertama yaitu album Resolution-- album yang akan segera dicopot labelnya sebagai album baru dari band cadas asal Virginia, Amerika Serikat yaitu Lamb of God. Mengapa segera dicopot? Karena mereka akan segera merilis album baru di tahun 2015 ini. Saya yakin album baru inilah yang tengah membuat para umat metalcore mengeram ereksi. Maka sembari menunggu klimaks, kusarankan untuk mendengar lagu-lagu mematikan dalam album Resolution terlebih dahulu. Sebut saja Desolation, Cheated, Invictus, Ghost Walking, The Undertow, To The End, dan delapan lagu lainnya. Saya memang sangat menggemari enam lagu ini. Rata-rata lagu dalam album ini bertempo meledak-ledak serta menggilas. Tidak tanggung-tanggung, tempo ganas selalu dihidangkan sejak awal instrumen. Tidak seperti lagu terdahulu mereka yaitu Vigil dalam album As The Palaces Burn dan Walk With Me in Hell dalam album Sacrament yang klimaksnya berada di tengah lagu. Menurutku Resolution adalah pilihan tepat untuk disantap saat beraktivitas, apalagi untuk anda yang sering loyo gegara ketagihan masturbasi seharian. Memang sangat salah jika saya menyebut deretan lagu ini cocok disandang sebagai lagu-lagu cemilan. Karena mereka adalah hidangan utama. Absolutely, Resolution will give us hell!


2. 5 The Gray Chapter

Album selanjutnya adalah album yang baru dirilis akhir 2014 kemarin. 5 The Gray Chapter oleh Slipknot. Kumpulan horror track seperti Skeptic, Custer dan Sarcastrophe terangkum di sini. Jujur saja, saya baru mendengar beberapa lagu saja yaitu 3 lagu di atas, kemudian The Devil in I, Be Prepared for Hell, The Negative One, dan Funny. Itupun baru kemarin. Seperti biasa, Slipknot selalu menghadirkan atmosfir yang mencekam dan mengerikan dalam lagu-lagu mereka. So, are you ready to cringe?


3. Reincarnate

Album yang akan membuat anda ketakutan selanjutnya yaitu Reincarnate. Dirilis pada awal 2014 oleh band asal Amerika yang acap kali dianggap mirip dengan Marilyn Manson yaitu Motionless in White. Karena lagu-lagunya yang kebanyakan bertema kegelapan dan kegelisahan, maka aliran dari band ini sering disebut horror metal. Dalam album ini, Unstoppable dan Dead as Fuck akan saya anggap sebagai pentolan album, meski sebenarnya pentolan sebenarnya adalah lagu berjudul Reincarnate yang dijadikan sebagai judul album. Ini adalah pandangan secara pribadi, jadi saya leluasa memilih mana yang menurut saya itu bagus. Meski mencekam, lagu-lagu dari band ini tidak sama persis dengan milik Slipknot. Jika Slipknot membawakan lagunya dengan sangat memikat dan merasuk seperti dengan mantra, maka Motionless in White akan menyeret anda secara paksa dengan ledakan. Jika Slipknot membuat anda merinding, maka Motionless in White akan membuat anda gelisah dan jantungan. Jangan coba-coba mendengar!


4. Sacrament

Lagi-lagi album oleh Lamb of God. Lamb of God layak dapat penghargaan penuh, karena band inilah yang menyeret hasrat saya untuk masuk (atau tepatnya keluar) ke ranah metalcore. Dan single dari mereka yang pertama saya dengar ada dalam album keempat mereka ini. Yaitu single andalan Lamb of God yang sering mereka gunakan untuk mengaduk dan mengoyak penonton saat konser. REDNECK!!!


5. Vulgar Display of Power

Album terakhir yang akan saya bahas yaitu Vulgar Display of Power. Merupakan album keenam dari band heavy metal asal Amerika yaitu Pantera. Mungkin anda akan berpikir ini agak menyimpang dari pembahasan (metalcore) bukan? Jangan salah paham, meski nama Pantera selalu kental akan unsur heavy maupun groove metal, tetapi saya menemukan sedikit unsur doom metal dan extreme metal pada beberapa lagu di album ini. Sebut saja Walk dan Rise. Jadi bisa disebut juga ada unsur metalcore meski sedikit maksa. Hehe-- Memang kenapa? Langsung saja dengar lagunya jika berani. Lagipula ini adalah tulisan saya pribadi. Now you can judge!


Kelima album diatas telah menjadi teman sehari-hari. Saat berak-tivi-tas pagi, saat mandi, hendak tidur, saat mengerjakan tugas dan lain-lain. Umpamakan saja berbagai track di atas sebagai latihan keras untuk mencapai kekuatan maksimal. Saya yakin, ketika kekuatan maksimal berhasil anda peroleh, maka segala hal akan terasa enteng dikerjakan. Atau abaikan saja perumpamaan bodoh tadi, langsung saja dengar dan nikmati semua lagunya!

Sabtu, 08 November 2014

Just "Mezmerize" for this Fucking Days!


Kembali hati terbakar saat mengingat kekasih pernah manis manja dengan lelaki lain. Kembali gundah saat mengingat uang sewa kos harus segera kubayar. Kembali tangis haru saat mengingat suara ibu di ujung telepon, terlebih ketika beliau berucap, "Kuliah sing tenanan le, bayare larang. Ojo boros. Ojo lali sembahyang. Sing pinter yo le." Kuliah yang benar ya nak, bayarnya mahal. Jangan boros. Jangan lupa ibadah. Jadi anak yang pintar ya nak-- Duh bu, maafkan anakmu, semua arahan dan nasehatmu belum sama sekali bisa aku perbuat. Apalagi mengingat kelakuanku yang akhir-akhir ini bisa dikata amburadul. Berantakan. Sering bolos kuliah; boros di saat kebutuhan meledak; jarang beribadah; sering foya dan lain-lain. Maafkan anakmu bu, segala hal di hari-hari belakangan ini memang sangat menyulitkan. Seolah semuanya berjalan tanpa ada harapan. Aku kesulitan; kelabakan. Namun tak sebenarnya seperti itu. Ada hal yang perlu kuceritakan. Bukan tentang acara sinetron Indonesia yang semakin hari semakin hilang asal-usulnya. Tidak jelas. Ini tentang hiburan yang menurut saya benar-benar menghibur. Lewat lagu dari pemusik favorit. Meski dalam kesulitan, tetap kucoba ucap persetan dan membuang jauh kepenatan dengan sekadar mendengarkan bahkan ikut melafalkan. Secara suka-suka, seenak jidat. Tolong hapus ingatan kalian tentang intermezzo tidak penting di atas. Mari perhatikan hal-hal menyenangkan yang biasa disebut kebiasaan. Memang benar akhir-akhir ini hari-hari terasa sulit dijalani, tak segampang ocehan motivator penuh pencitraan, tetapi selalu ada solusi yang entah darimana datangnya. Menurutku itu akan datang saat kau benar-benar dalam keadaan buntu, putus asa, pasrah dan kau memilih untuk berhenti berpikir kembali tentang masalah yang sedang kau hadapi. Kemudian saat solusi itu datang secara tiba-tiba kau akan mengolok diri sendiri dengan kalimat: "Mengapa daritadi tidak begini atau begitu saja?", "Mengapa baru terpikirkan?" dan sebagainya. Hm, lagi-lagi bahasan yang tidak penting. Ngomong-ngomong soal solusi, ia akan datang saat kau berpikir santai, saat pikiranmu lepas tanpa paksaan untuk berpikir. Kembali ke topik kebiasaan. Kebiasaan yang menyenangkan akan membuat pikiran nyaman, santai bak sedang di pantai. Lalu apa kebiasaanku yang sekiranya dapat membuat pikiranku kembali santai dan yang kemudian dapat menghadirkan solusi saat ku dikepung masalah?-- Kalau hari-hari belakangan ini sih hanya kegaduhan yang dibuat oleh System of a Down. Grup band yang mengidentitaskan diri sebagai band bertajuk alternative metal itu memang gaduh dan riuh. Saya ingatkan, lagu-lagu dari mereka tidak ada yang enak didengar. Mereka selalu liar dan terkesan tanpa ampun saat membawakan lagu. Suara yang mistis dari front-man Serj Tankian dan tambahan vokal dari sang gitaris Daron Malakian yang membuat lagu mereka terdengar meriah. Tambah ngeri ketika sang bassis Shavo Odadjian menjadi backing vokal dengan nada suara yang tinggi. kemudian tabuhan drum yang menggebu oleh John Dolmayan membuat lengkap suasana mirip seperti penghancuran. Karena lirik-lirik mereka yang kental dengan ide, pandangan-pandangan tentang masalah-masalah sosial-politik, band keras ini pernah diartikelkan Kompas sebagai band anti kekerasan. Album mereka yang saat ini sedang kugilai adalah Mezmerize (2005). Album nomor urut dua dari belakang setelah Hypnotize (2005) ini pernah mendapat gelar Grammy Award pada tahun 2006 untuk penampilan hard rock terbaik. Lagu-lagu di dalamnya pun menurutku sangat menarik. Seperti Violent Pornography yang isinya mengarah pada perlawanan terhadap televisi. Terutama dalam hal korporasi besar atau komersialisme. Mungkin juga bentuk pemberontakan terhadap hal-hal mengenai kekerasan seksual pada tayangan televisi. Pengertian itu bisa kau temukan pada lirik "It's the violent pornography. The kind of shit you get on your TV" pada lagu ini. Melihat ironisnya tayangan televisi di Indonesia, andai saja di Indonesia ada grup band yang lagunya berisi tentang kritikan terhadap tayangan televisi, tentu akan sangat menarik dan menyeret penghargaan dari publiik. Kemudian lagu penggugah kekacauan yang lain yaitu B.Y.O.B (Bring Your Own Bombs). Lagu yang sudah dapat dikata sangat mainstream bagi kalangan pecinta musik rock. Juga lagu penenang yaitu Lost in Hollywood. Mengapa lagu penenang? Ya karena lagu ini yang menurutku paling tenang dan memang menenangkan setelah mendengar deretan lagu yang menegangkan. Lost in Hollywood dapat menjadi refleksi yang dingin setelah imajinasi terkoyak panas oleh lagu-lagu keras di album Mezmerize lainnya. Mezmerize memang tiada duanya, setidaknya untuk saat ini. Dan well, pada kenyataannya aku masih bisa menghadapi bahkan melewati masalah apapun meski terasa berat dan terasa penuh keputus asaan. Karena solusi siap didapat saat pikiran tenang, dan pikiran tenang siap didapat saat mendengar Mezmerize. Yeah!!!

Jumat, 08 Agustus 2014

Punk Rock Bernuansa Cowboy sedang Berkuda (Social Distortion)


Punk Rockstar's Jumping

Dalam kalangan anak muda, biasanya punk rock lebih dominan di minati ketimbang sub-genre rock lainnya, karena dengan gaya aliran ini yang sangat agresif, menggambarkan jiwa muda yang pemberani dan sebagai jiwa pemberontak. Dan punk rock seakan telah melekat dan telah menjadi bagian penting dari semangat kaum muda yang dinamis dan energik. Maklum lah, darah muda bung!

Personil Social Distortion

Adapun band-band pentolan punk rock yang cadas sesuai khas dan ciri mereka masing-masing, Social Distortion misalnya. Social Distortion adalah sebuah band punk rock Amerika yang dibentuk pada tahun 1978 di Fullerton, California. Band ini saat ini terdiri dari Mike Ness (vokal, gitar), Jonny Wickersham (gitar, backing vokal), Brent Harding (bass, backing vokal), dan David Hidalgo, Jr (drum). Band bertajuk punk rock atau rockabilly dengan suara punk melodic yang jelas dan yang khas dari mereka sendiri. Musik dari band ini sangat dipengaruhi oleh Johnny Cash, Bob Dylan, Eddie Cochran, The Rolling Stones, The Sex Pistols, The Clash, New York Dolls, Johnny Thunders, dan The Ramones. Dan telah mempengaruhi band-band seperti Pennywise, Face To Face, Green Day, Rise Against The Machine, Blink-182, Pearl Jam, Rancid, The Offspring, Thrice dan ada yang pernah bilang bahwa band ini juga sangat mempengaruhi band punk rock legendaris asal Indonesia, Superman Is Dead. Band ini mulai bermain dengan band-band yang satu wilayah dengannya di Orange County, California, seperti The Adolescents, Cina White, Shattered Faith, TSOL dan The Crowd sebagai bagian dari gerakan hardcore yang baru lahir. Musik itu cepat, menghentak dan energik. 

Jika ditanya menurut pribadi, saya senang menyebut Social Distortion sebagai band rock pacuan kuda. Karena musiknya yang berpacu, cepat dan teratur seperti suara seorang cowboy berkuda yang siap berperang dengan pistol dan talinya. Apalagi saat mendengar hentakan lagu-lagu dari album Greatest Hits mereka yaitu: Mommy's Little Monster, Reach For The Sky, Ring Of Fire, Bad Luck, Story Of My Life dan lain-lain.

Mommy's Little Monster
Mommy's Little Monster
Mommy's Little Monster
Cover Album Greatest Hits

Benar-benar seperti sedang terseret ke dalam padang tandus penuh bebatuan (Rocks) di Amerika utara sana. Dan saat ini saya sedang menggilai album baru mereka yang berjudul Hard Times And Nusery Rhymes. Lagu-lagu dalam album ini mereka kemas lebih rapi dan terdengar sedikit kurang liar dari lagu-lagu dalam album-album mereka sebelumnya. Namun tetap saja, seberapapun kadar liarnya, musik punk rock tetap menakjubkan. 
Jangan terlalu cepat menanggapi, toh ini semua hanya soal sensasi. Tentu anda boleh juga membeberkan sensasi apa saja yang anda rasakan saat mendengar lantunan hangat dari mereka. Tetapi tentunya, anda tak akan menyangkal bahwa mereka memang hebat, kan?