Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Oktober 2014

Budak Sungai



Entah apa yang membuatku betah lama-lama menunggunya di pinggiran sungai seperti ini, mungkin lengkuk tubuhnya, derai rambut yang ia biarkan terurai hingga setengah badan. Oh, mungin juga dua belahan yang tak mungkin bisa diabaikan begitu saja oleh pandangan para pria desa sepertiku. Dada dan tulang ekor yang menggoda itu. Tak sabar ingin segera kulahab dengan mantabnya. Tak peduli binatang buas yang katanya dapat menelanku utuh tanpa ampun; penunggu sungai yang katanya sedang mencari budak baru; bapak-bapak penjaga pos ronda yang biasanya keliling desa untuk memastikan bahwa desa benar-benar aman. Aku mana peduli? Aku sudah ereksi sejam dua jam yang lalu. Membayangkan ia datang dan memelukku dari belakang dan payudaranya yang menggembul menggemaskan itu akan menghangatkan punggungku. Oh Yulia. Segeralah datang, abang sudah lama menunggumu.

Sudah setengah bungkus asap kretek kutelan. Bau minyak wangi oplosan di bajuku juga sudah mulai luntur. Aku mulai mengingat omongan warga yang menyebutkan bahwa penunggu sungai dekat tempatku singgah ini sedang mencari tumbal untuk dijadikan penggawa istananya. Namanya sungai Denai. Kata mereka, biasanya mereka langsung saja membawa korban, tetapi ada juga yang menyamar menjadi manusia terebih dahulu kemudian merayunya dengan sihir gaib dan sang korban akan hilang kesadaran begitu saja. Dan orang yang dijadikan samaran biasanya diambil sekalian rohnya. Di desaku memang sudah ada sekitar tujuh pria yang kabarnya digondol oleh sang penunggu. Sebagian percaya, tetapi para pemuda seperti aku malah girang akan berita tersebut. Karena dengan begitu, kita dengan leluasa dapat menggunakan tempat ini untuk berbuat hal-hal tidak senonoh. Seperti yang akan kulakukan saat ini. Oh, soal orang-orang yang hilang tadi, aku percaya bahwa binatang buaslah yang menelan mereka secara utuh-- Rokokku tinggal sebatang, ia belum datang juga. Sialan! Jangan-jangan ia menipuku. Mana mau dia bercinta denganku? Pemuda yang dikata pas-pasan, dompet amatir, bahkan pengalaman bercinta yang masih nol. Tidak tidak tidak! Ia pasti sempat lupa ada janji denganku disini, dan setelah ia mengingatnya, ia akan kebingungan untuk berdandan secantik mungkin, atau mungkin, ia masih membantu ibunya mengemas barang dagangan yang biasanya memang tutup jam delapan malam. Hey! Ini sudah jam sembilan malam! Sialan! Mungkin ia memang melupakan janji denganku dan kencan dengan anak kepala desa yang pasti juga menggilainya. Setelah kupikir-pikir, sebaiknya aku segera pulang, melampiaskan nafsuku dengan onani di kamar mandi. Aku mana tahu jika ada sekumpulan binatang buas yang kelaparan sedang asyik mengintai mangsanya. Aku. Ah tidak! Kenapa tidak kuhabiskan dulu saja rokokku, lagi pula pemandangan di sekitar sini cukup melegakan. Mungkin juga para binatang buas sedang menghabiskan sisa-sisa tulang mangsanya hasil perburuan kemarin, sehingga malam ini mereka cukup menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan di sarang sambil mengelus perut saja.

Kutengok arloji klasikku, sudah setengah sepuluh malam. Rokok amblas, badan apek, mata ngantuk dan dingin malam ini munkin cukup untuk dapat mendinginkan air mendidih hanya dalam hitungan menit saja. Sudah cukup, Yulia. Aku pulang. Aku beranjak dari tempat terkutuk itu. Berjalan sambil bersiul mengusir penat-- Siapa itu? Tubuhnya seperti Yulia, bahkan lebih aduhai. Wajahnya samar-samar memang mirip sekali dengannya, bahkan lebih menggoda. Beginikah ia saat rembulan pada tanggal limabelas menyoroti wajahnya lewat celah-celah dedaunan yang bergoyang terhembus angin malam? Aku meladeni rasa penasaranku dengan menghampirinya pelan-pelan. Ia menatapku, bibirnya senyum membuat pipi lembabnya terangkat. Semakin dekat, sudah sangat dekat.

"Kenapa tadi tidak langsung ke pinggiran saja?" Sapaku
"Aku hanya ingin melihat seberapa besar kesabaran abang saja, ternyata abang memang telaten ya? Hehe" Jawabnya dengan suara lirih nan menggoda

Tanpa basa-basi aku langsung menggandeng tangannya kemudian kembali ke tempatku menunggu lama tadi. Pinggiran sungai. Setelah sampai kurebahkan ia di hadapanku. Aku memandanginya sejenak, memang butuh waktu untuk mempercayai semua ini.

"Tunggu apa lagi bang?" Rayunya

Kulumat semua bagian tubuhnya, aku buas, bahkan lebih buas dari binatang yang paling buas. Tak peduli dingin, kotor, bau amis, tak peduli apapun. Ini adalah kali pertamanya aku dapat merealisasikan imajinasi-imajinasi yang sering kupakai saat onani. Benar-benar megah. Tak dapat kubayangkan semua ini akan berakhir.

***

Sudah esok hari, aku bangun dari tempat yang bahkan tak kukenali. Aku kebingungan, ling-lung, tak tahu siapa-siapa dan tak tahu apa-apa. Setelah tengak-tengok kesana-kemari, aku putuskan saja untuk pulang ke rumah. Untung saja jalanan yang sedang kulalui tampak tak terlalu asing. Aku lega, tampak warung kopi di depan. Adalah warung kopi langgananku. Ah, mampir dulu saja, mumpung masih begitu pagi, karena akan sangat nyaman sekali bila ngopi dengan suasana sejuk dan sepi seperti pagi ini. Aku duduk kemudian membaca koran yang mungkin baru saja dilempar oleh kurir. Aku memang selalu membaca koran terlebih dahulu sebelum memesan kopi hitam kesukaanku. Aku sama sekali tak merasakan ada yang aneh di sekitarku, walaupun pak Dadang pemilik warung terlihat diam saja, tidak seperti biasanya. Mungkin masih terlalu pagi, beliau mungkin masih merasa ngantuk yang luar biasa. Atau mungkin, beliau masih ingin bercumbu dengan istri barunya. Ha-ha-ha-- Aku melanjutkan aktivitasku membaca koran saja tanpa mempedulikan diamnya pak Dadang. Kubaca berita tentang olahraga, itu-itu saja. Kemudian politik, sama sekali tak ada yang menarik dan terakhir, kubuka halaman tentang kasus-kasus tentang kejahatan maupun kejadian-kajadian yang bisa menyebabkan orang mati mengenaskan. Mataku terbelalak; jantungku meledak-ledak; pikiran tersentak-sentak. Berita itu memuat tentang korban penunggu sungai Denai, tempat mesumku dengan Yulia malam itu. Juga mayat gadis yang ditemukan mengambang di hilir sungai. Tak lain lagi gadis itu adalah Yulia. Aku menangis, tak tahu harus berbuat apa, aku benar-benar tak percaya Yulia mati dengan cara mengenaskan seperti itu. Aku tak percaya bahwa aku sudah tidak bisa menikmati molek tubuhnya lagi.  Oh tidak! Gadis malam itu bukanlah Yulia yang asli. Dan yang masih tak dapat kupercaya hingga sekarang ini, aku sudah resmi menjadi budak di istana penunggu sungai Denai.

Senin, 09 Juni 2014

Aku Bukan Pengecut!



Tengah malam itu sangat sepi, segalanya sepi. Tak seperti malam biasanya saat aku baru bangun tidur tengah malam seperti ini. Coba siapapun bayangkan, betapa tabu jika ketika pertama kau membuka mata dari lelapmu, dan kau tak mendengar suara apa-apa, bahkan suara jangkrik yang biasanya jemangkrik sangatlah sulit kau jamah dengan pendengaran telanjang; semak-semak yang biasanya gemrisik diterpa anginpun ikut-ikutan senyap. Aku hanya mendengar suara remang-remang lagu dari grup band rock Social Distortion yang mungkin berasal dari sebuah headset yang kupasang di telingaku sebelum aku tidur tadi sore; yang kini telah lepas dari telingaku. Ya, memang benar-- Ya, aku memang tak bisa tidur jika tak mengenakan headset untuk mendengarkan lagu-lagu bernuansa rock, maka sebelum tidur, aku selalu memasang erat benda tersebut sesaat sebelum terlelap, dan pada saat bangun, aku selalu menemui headsetku telah terlepas. Segeralah aku mengambil ponsel tempat kutancapkan headset tadi dan mematikan pemutar suara. Nah, sekarang baru, tak ada suara apapun. Benar-benar senyap dan mencekam. Jika kubilang, ini seperti kota berhantu yang sama sekali tak berpenghuni. Entahlah, mungkin tak seseram itu. Aku segera beranjak dari tempat tidurku; melepas semua pakaianku; meraih handuk dan menuju kamar mandi. Tak usah heran, aku memang memiliki kebiasaan mandi tengah malam seperti ini. Setelah mandi, aku keluar untuk mencari makan tengah malam. Kebetulan, di daerah yang aku tempati kini, selalu ada penjual nasi goreng hingga pun tengah malam langgananku. Maka aku tak perlu bingung-bingung ketakutan kelaparan di tengah malam sepi seperti ini. 

Tengah malam itu aku jalan kaki. Benar-benar sepi, seperti kota yang setengah penduduknya adalah vampire, sehingga para manusia enggan keluar tengah malam seperti ini, bahkan jauh sebelum tengah malam hari. Mungkin para ayah dan ibu sedang sibuk menidurkan para buyungnya sembari menyandang golok di tangan dengan maksud berjaga-jaga, mungkin ada juga yang sibuk memasang beberapa balokan kayu di pintu dan jendela dengan maksud supaya vampire tidak bisa masuk dalam rumahnya dan mungkin, ada yang bersujud sembari memegangi kaki patung dalam gereja yang dianggapnya bisa melindunginya dari serangan vampire. Dan kalaupun ada yang di luar, mungkin itu hanya beberapa gelandangan berrambut panjang gimbal yang menyanyi-nyanyi di pinggiran jalan kota di samping tong sampah sembari menghisap asap rokok bekas yang mereka punguti dari tong sampah di dekatnya, seakan-akan menantang para vampire untuk segera menebas mereka. Namun nyatanya, mereka malah selalu terlihat aman dan tak ada satupun gelandangan yang diberitakan mati disantap vampire. Apa iya vampire itu mirip manusia? Makan saja kok pilih-pilih?

Entahlah, mungkin kesepian bukanlah halangan bagi mereka yang merasa lapar, bahkan kelaparan, seperti aku. Aku berjalan seorang diri menyusuri gang yang sempit dan anyir. Oh ya, sepi. Aku menuju warung penjual nasi goreng yang biasanya kusinggahi tengah malam seperti ini. Aku memesan satu piring nasgor dan melahapnya seperti vampire yang baru bangun setelah ribuan tahun berhibernasi. Beratus-ratus butir nasi goreng habis tanpa sisa. Setelah makan, aku menuju warung kopi di pinggir jalan raya. Mungkin di sana lebih ramai, pikirku. Sesampainya di sana. Sialan! Lagi-lagi sepi. Ah, nikmati saja, toh mungkin kesepian bukan halangan bagi mereka yang ingin menikmati malam dengan ber-caffeine ria di warung kopi langganan, seperti aku. Setelah memesan kopi, aku duduk bersila di bangku luas berbahan dasar bambu. Aku mengirim pesan singkat kepada kekasihku yang mungkin kini telah asyik bermimpi denganku. “Sayang, aku rindu.” Kenapa? aku toh memang dalam keadaan sangat merinduinya setelah beberapa hari tanpa temu. Kemudian membaca koran; sejenak menyulut rokok; sesekali menyibak rambut yang menutupi keningku; meludah ke arah got jika bosan. Ya, bosan. Di Koran tak ada yang menarik, sudah keseribukiankalinya aku membaca kasus pencabulan di bawah umur. Memuakkan. Kembali kuludahi got di sampingku. Kulipat koran kemudian kuletakkan. Kemudian ku pergi setelah membayar secawan kopi dan beberapa batang rokok yang telah kubakar dan kuhisap tadi. 

Pulang saja, berjalan lagi. Seperti pemburu vampire— Oh bukan, sejujurnya aku malah lebih suka dikata sebagai vampire yang berbalik memburu para pemburunya. Aku pasti akan sangat bangga dengan diriku sendiri. Aku akan melindungi dan mempertahankan garis ras keturunanku supaya tak semudah itu dilenyapkan oleh para pemburu. Aku tidak akan terima jika dikata sebagai vampire pengecut. Camkan ini! Aku akan kebal dari peluru mereka yang berbahan perak murahan itu; aku tak akan begitu saja lenyap oleh sorotan sinar ultraviolet buatan mereka; aku tak akan lebam oleh bom rakitan mereka; aku tak akan kenapa-kenapa oleh senjata buatan mereka. Hahaha, aku hanya akan tertawa terbahak-bahak melihat wajah mereka yang dipenuhi rasa keheranan. Aku akan terus menghantui mereka. Aku akan terus hadir dalam mimpi buruk mereka. Bahkan ketika mereka lari ketakutan, aku tak akan melepaskan mereka. Aku akan mengejar mereka. Aku akan menerkan mereka dari belakang seperti raja belantara dan mencabik-cabik mereka tanpa sedikitpun rasa kasihan. Persetan dengan anak-cucu mereka yang menangisi kematian mereka, aku tak peduli. Lalu bagaimana dengan kawan-kawanku yang telah mati dihabisi mereka? Apakah aku akan diam saja? Tentu tidak! Balas dendam adalah sesuatu yang manis dan menyenangkan. Maka segeralah aku menggoglok darah segar mereka. Dan tentunya, aku akan menyisakan beberapa kantong plastik darah untuk anak -cucuku kelak, agar mereka tahu, aku bukanlah vampire pengecut! Aku tak akan peduli, aku tahu bahwa anak-cucu mereka pun pasti tak akan diam saja dan akan berbalas dendam padaku. Aku siap menerima akan membalaskan dendam kematianku. Loh, bagaimana aku bias mati? Entahlah, sebenarnya aku juga tak begitu yakin. Tetapi siapa yang dapat menyangka apa-apa yang akan terjadi kelak. Bagaimanapun juga, aku sama dengan bangsa mereka, aku hanya partikel-partikel kotor yang diciptakan Tuhan untuk mengisi kekosongan alam. Tentu aku bisa mati kapanpun sesuka Tuhan. Siapa sangka, kelak anak-cucu mereka akan kebal terhadap seringai taring tajamku, siapa sangka juga, kelak anak-cucu mereka memiliki senjata yang jauh lebih canggih dari nenek moyang mereka yang darahnya tengah asyik kucicip sekarang ini. Tapi sekali lagi, aku tidak gentar. Aku bukan vampire pengecut! Toh jika aku memang benar-benar akan mati, aku yakin anak-cucuku kelak akan membalaskannya. Aku yakin, anak-cucu mereka juga akan berpikiran sama setelah membunuhku. Anak-cucu mereka juga tidak akan pernah menyangka apa-apa yang akan terjadi kelak lagi. Anak-cucu mereka juga akan berpikir bahwa mereka sama dengan bangsaku, anak-cucu mereka akan berpikir bahwa mereka hanya partikel-partikel kotor yang diciptakan Tuhan untuk mengisi kekosongan alam. Tentu anak-cucu mereka juga bisa mati kapanpun sesuka Tuhan. Siapa sangka, kelak anak-cucuku akan jauh lebih hebat dan kebal dariku sehingga senjata anak-cucu mereka yang katanya jauh lebih canggih itu tak lagi mempan, seringai taringnya juga jauh lebih tajam dariku sehinnga anak-cucu mereka yang katanya kebal dari taringku tak akan lagi kebal oleh taring anak-cucuku. Dan mungkin akan seterusnya begitu. Yang bermusuhan tak akan pernah redam. Balas dendam adalah hal terindah dan paling menyenangkan yang bisa dilakukan. Maka dari itulah, aku menyebut kami sebagai partikel-partikel kotor yang benar-benar sangat kotor.

“BRUGGG!!!” Sialan! Memikirkan apa aku tadi? Aku sempoyongan bangkit dari jatuh yang baru saja aku alami karena tersandung batu yang lumayan berukuran besar. Ya, akibat melamun akan hal tak berujung tadi. Permusuhan dan balas dendam. Hey! Apa ini? Darah segar mengalir di kakiku? Loh, bukankah darah segar adalah santapan lezat bagi para vampire? Lalu bagaimana jika tiba-tiba kemudian mereka menyerangku, menerkamku dari belakang seperti raja belantara dan mencabik-cabikku tanpa sedikitpun rasa kasihan? Lha, siapa peduli? Toh aku bukan manusia pengecut!!! (*)

Jumat, 28 Maret 2014

Rindu Basah


Segala yang pernah kulakukan, segala yang pernah kuperjuangkan, segala yang pernah kukorbankan. Semata-mata hanya untuk kau yang kuindahkan, kukagumkan. Kau yang terindah. Kau mahir dalam membuatku merindu, kau hebat dalam membuatku mencinta. Kau. Kaulah yang benar kumaksud. Sedangkan aku? Tentu kau mengenalku, aku yakin itu. Tentu kau tahu aku mencintaimu dengan amat sangat. Aku mencintaimu dengan segala keterbatasanku yang sebenarnya tak seluas cintaku yang tak terbatas untukmu. Terlepas dari kalimat bertele-tele. Sungguhlah, aku mencintaimu.

Bunga, kekasihku. Sejatinya dulu aku malu saat memiliki harapan akan memilikimu, aku iba terhadap rapuhnya diriku. Aku ringkih. Aku. Melihatmu saja terkadang aku tak bernyali, ciut. Namun keadaan malah berbeda, tak seperti yang kubayangkan. Yang kuharapkan malah dikabulkan. Kini aku milikmu, kini kau milikku. Kini kita saling memiliki. Kita. Sering kukatakan serba-serbi kemampuanku, sering kuceritakan padamu apa-apa saja yang dapat kulakukan untukmu. Setia, menyemangatimu dari belakang, melindungimu dari depan, menggandengmu dari samping. Menjagamu. Sekali lagi, aku mencintaimu.

Tahukah kau? Kini aku merindukanmu.

Aku merindukanmu. Rindu ini. Ini bukan soal jarak dan waktu. Aku merindukanmu. Tak peduli setelah kapan sehabis kita bertemu. Sebentar. Aku tak peduli. Seberapa dekatnya kau saat ini. Aku hanya buta jika tak sedang bersamamu. Aku tak peduli. Sekedip, Beberapa menit. Aku tak peduli. Sejangkah, beberapa meter. Aku tak peduli. Tetap saja aku merindukanmu.

Bunga, terkasih. Aku tak mampu menuliskan apa-apa tentang persoalan rindu-merindu. Aku tak begitu mengerti tentang abjad apa: vokal konsonan apa yang harus kulukiskan saat kumerindu. Aku takut kau salah paham jika semua yang telah tertulis disini nanti adalah gombal atau hanya sekadar rayuan. Bukan. Bukan itu yang kumaksud. Yang kumaksud adalah, jika sekarang ini aku benar-benar merindukanmu.

Teruslah baca, Bunga.

Biarlah bumi tak lama lagi mati, biarlah langit tak betah mencumbui rembulan lagi, biarlah pagi atau siang nanti mereka pergi. Biarlah. Biarkan aku tetap masturbasi dikamarku yang terlalu pengap ini. Meski begitu, tolong jangan berhenti membuatku merindu, sayang. Aku lebih memilih kehilangan segalaku daripada aku harus melepaskan begitu saja rasa rindu ini. Aku akui, pikiranku semakin liar saat merindukanmu. Semakin tak dapat kutahan penat. Pekat pun tak segera enyah. Hawa panas kuasai kamar. Penuh rindu. Penuh nafsu. Maka masturbasilah aku.

"Mas....... Mie instannya sudah jadi."

"Mas.......?" Teriak seseorang dari luar kamar.

Oh sial! Aku bingung gelagapan saat membenahi celanaku yang tengah melorot, kulorot. Aku memang memesan mie goreng beberapa menit tadi, karena aku sukar menunggu, maka kusuruh sang penjual untuk mengantarkannya ke kamarku.

"Iya mas, sebentar." jawabku dari dalam kamar. Kemudian kubuka pintu kamar.

"Uangnya nanti ya mas, tak bayar sekalian pas mengembalikan mangkuk."

"Oh, iya mas ndak apa-apa." ucapnya, lalu pergi.

Aku kembali menutup pintu kamarku, kemudian kembali kuhisap aroma lehermu, kucecap perlahan pipi kenyalmu, kujilat-jilat penuh nafsu sebagian dari wajahmu. Begitu panas. Kau menggoyang-goyangkan tubuhmu saat kucumbu. Mungkin kau juga merasakan kenikmatan luar biasa yang sama seperti aku.
Benar-benar kunikmati saat-saat seperti ini. Mencumbui, menikmati mie instan sebagai pelampiasan rinduku padamu. Walau mie instan jauh kalah banding denganmu.

Setelah menghabiskan semangkuk mie tadi, aku lelah, aku kenyang, aku puas. Aku serasa habis mencumbuimu, menghabisimu. Aku merebahkan tubuhku. Kini aku tak lagi memperdulikan penisku yang sudah tak lagi menegang. Aku melemaskan otot-otot kerinduanku. Kembali aku merindukanmu. Sesekali memanggil namamu. Sesekali menengok fotomu. Lukisan wajahmu. Indah. Bahkan aku tak yakin ada hal yang lebih indah dari bundar wajahmu. Belum sampai situ aku merindukanmu. Entah apa itu, seperti sosok perempuan didepan pintu. Remang-remang hingga tampak. Jelas. Itulah sosokmu, sembari tersenyum simpul kau menghampiriku perlahan. Berjalan. Aku mengucek-kucek mataku berkali-kali. Kau malah semakin nyata. Kau memanggil namaku,  kau berhasil meraih tanganku, kau seperti ingin mengajakku ke suatu tempat. Tentu aku tak peduli. Walau ini hampir tak masuk akal. Aku bangun dan mengikuti langkahmu. Kau mengajakku keluar kamar. Berjalan.

"Kita mau kemana, sayang?" tanyaku sembari tanganku masih kau genggam.

Kau diam, kau malah hanya sekadar tersenyum menanggapi kebodohanku.

"Kita mau kemana?" kembali ku bertanya.

Lagi-lagi kau malah hanya tersenyum. Sial! Aku hanya bisa terbisu menuruti kemauanmu. Aku tak mengerti apa tujuanmu. Aku tak lagi ingin bertanya. Kali ini, aku hanya bisa turut dan larut terhadapmu.

Kita berjalan sudah sangat jauh, melewati belantara, menaiki tebing, menuruni kaki bukit, menjelajahi semesta. Setelah beberapa hari kita berjalan. Kita tetap saja berjalan. Kau tetap saja berjalan menggandengku, menarikku. Lelah tak kuhiraukan. Aku sama sekali tak ingin makan atau minum. Hei! Aku tak ingin terlihat cengeng di depanmu, sayang. Entah aku akan kau ajak kemana, entah aku akan baik-baik saja atau tidak. Entahlah. Tiba-tiba kau menghentikan langkahmu.

"Kau lelah?" tanyamu dingin.

"Tidak kok, memang kita mau kemana to?" lagakku kebingungan.

Kau kembali tersenyum. Senyumanmu semakin membuatku luluh. Diam. Kau kembali tak menjawab pertanyaanku setelah ku tanya akan kemana. Kau kembali pada pandanganmu, dan berjalan. Berjalan. Kita berjalan sudah sangat jauh. Aku bahkan lupa, berapa hari, berapa minggu atau bahkan berapa bulan kita berjalan. Yang aku tahu, aku sangat bahagia. Aku sedang tak merasakan lagi pahitnya merindu. Ya, karena aku sedang berjalan. Sedang bersamamu. Kembali pagi, siang lagi, sore dan malam kita lewati dengan berjalan. Berjalan bergandengan. Aku bahagia. Meski mimikmu beku, kita jarang terlibat dalam sebuah pembicaraan hangat. Karena mungkin memang kau sedang asyik membisu. Tetap saja, aku bahagia. Maka semakin jauh kita berjalan, semakin bahagia pula aku. Terimakasih Bunga, aku benar-benar bahagia bisa berjalan sejauh ini bersamamu, menggandeng tanganmu. Bahkan aku tak yakin, ada seseorang diluar sana yang lebih bahagia dariku. Aku mencintaimu.

Selama kita berjalan. Di pinggiran sana banyak yang memandangi kita. Mencibir, menggerutu perlahan. Mencoba menggulingkan niat kita. Kau tak terlihat sama sekali menanggapinya. Kau tetap menggandeng tanganku. Berjalan menuju sebuah tempat yang tak kuketahui.

"Sebentar lagi sampai." ucapmu tanpa melihat ke arahku.

"Sampai dimana? Aku mau kamu ajak kemana sih sebenarnya?"

Kau tak menghiraukanku. Langkahmu semakin cepat sembari menggandengku. Semakin cepat. Berlari. Kau berlari menarikku. Aku pun berlari mengikutimu. Semakin cepat dan "Pyaaaarr!!" Kita seperti menembus sebuah dinding kaca tebal. Kau menghentikan langkahmu. Aku terengah-engah. Kau melepaskan tanganmu dari genggamanku.

"Kita sudah sampai." katamu sambil tersenyum.

Aku terkejut. Tempat ini sepertinya pernah aku kunjungi pada saat bermimpi. Ya, tak salah lagi. Ini tempat yang aku impi-impikan pada saat bermimpi. Aku pernah kesini sebelumnya bersamamu. Namun itu hanya mimpi. Aku menelan ludah berkali-kali sambil mengusap keringat. Aku tak percaya, aku bisa benar-benar kesini. Tempat surgawi, samudera langit yang warna-warni, pepohonan terlihat rapi menyejukkan mata, hewan-hewan berbulu warna-warni yang hinggap menghiasi pepohonan, juga pendar-pendar cahaya berkilauan bak berlian terlihat tenteram mengalir seperti sebuah sungai. Sayu. Sementara aku masih terjebak dalam lamunan takjub, kau menghampiriku. Kembali kau gandeng tanganku. Tidak. Berbeda dengan yang tadi, kali ini kedua tanganku yang kau raih. Kau mengecup kedua tanganku. Aku membalas mengecup keningmu. Aku memelukmu. Dan kembali ku berpikiran mesum. Anehnya, kau tak mencegahku mencumbuimu, kau malah membiarkanku, sesekali membalasku dengan cumbuanmu. Segalanya semakin terlihat sempurna. Lengkap dengan hawa nafsu yang mengiringi. Sempurna. Terimakasih Bunga, aku mencintaimu. Sungguh.

Entah apa yang membuat semua kacau. Kau perlahan meredup, kretip-kretip hingga menghilang. Aku membuka mataku perlahan. Sial! Lagi-lagi hanya mimpi basah. Celanaku basah. Pelupuk mata basah. Rindu ini pun basah. Semua basah. Sial!

Aku melamun menangisi kejadian-kejadian indah tadi, kulihat kembali kamarku yang begitu berantakan, banyak puntung rokok bertebaran di setiap sudut kamar, lengkap dengan lalat-lalat yang mengerubungi mangkuk kotor bekas ku makan mie instan siang tadi. Oh, ternyata aku ketiduran hingga menjelang 'isya. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku mengembalikan mangkuk yang seharusnya aku kembalikan setelah aku makan tadi.

Sial! Kini kembali ku merindukanmu, Bunga. Dan aku tak yakin aku bisa lari darinya. Merindukanmu, memang selalu seindah dan serumit ini. Aku mencintaimu. Terimakasih telah membuatku merindu. Terimakasih telah membuatku basah.


Surabaya, 2014

Selasa, 18 Februari 2014

Pertarungan Dewa



Kalaupun mereka ada, pastilah mereka bukan Tuhan.
Jika mereka memang memiliki kekuatan nan dahsyat, tetaplah itu pemberian dari Tuhan.

                                                 ***

Musim kemarau memang selalu membingungkan. Panas terik ketika siang terjelang, malam yang dinginnya melebihi musim penghujan; Membuat kami penyakitan. Memuakkan! Persis ketika malam itu, kala malam pertama musim kemarau. Gelegar petir yang tak di ketahui persis apa maksudnya datang, menyapa begitu saja dengan beringasnya, liar seperti raja rimba yang tengah kelaparan. Angin yang menyibak - nyibak rerimbunan liar, membuat atap sebuah rumah tua mengkap - mengkap, melambai - lambai seperti mengharapkan pertolongan bagi siapa saja yang menatap. Apa maksud semua ini? Aku tak tahu jika musim kemarau masih bersedia menyimpan sisa - sisa hujan dari musim sebelumnya. Aku semakin mereka - reka arah, menikmati setiap kegelisahan yang bernaung. Raut kasat wajahku beku, lengkap bersama debu - debu dingin yang menempel begitu saja. Suasana kian menjadi - jadi kejamnya. Hujan mulai menerobos, menusuk tajam ke bumi, bumi terlihat menggigil kala itu. Hujan kemarau memang sangatlah berbeda, dingin yang tak terhindarkan, petir yang benar - benar "Janchuk'an." Lalu? Siapa sebenarnya sang dewa yang menghantamkan petirnya, meniupkan anginnya, dan menyemprotkan hujannya? Zeus? Amun? Atau Yupiter? Atau bukan mereka bertiga? Lha, mereka juga itu siapa? Ah, ada - ada saja. Aku saja tak yakin mereka itu ada.

Oh sial! Aku melupakan kekasihku, apa - apaan ini? Aku malah asyik melamuni para dewa yang tak jelas asal - usulnya, tak jelas apa maksud dan masalah mereka. Masa bodoh, aku menengok ponselku yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Terbaca pada layar ponsel yang sedang terkunci, "1 pesan baru" siapa lagi, darimana lagi kalau bukan dari kekasihku, yang kabarnya sangat takut mendengar dentuman petir. Aku membuka pesan itu. Dan...

"Dimana kamu saat aku ketakutan seperti ini? Dimana kamu saat aku sakit seperti ini? Dimana kamu saat aku sangat membutuhkanmu seperti sekarang ini, kasih?"

Aku diam, aku kedip - kedipkan kedua mataku berulang kali kemudian menguceknya. Oh, syukurlah, yang tadi itu hanya tafsir mesumku saja.
Yang benar begini:

"Sayang, badanku seperti sakit, aku kedinginan, hidungku pun tersumbat, aku sulit bernafas. Aku takut.. Petirnya keras sekali, aku tak bisa tidur."

Aku bingung, apa yang harus aku katakan (balas: read) kepadanya. Aku memang tak berguna. Ah, balas seadanya saja, toh aku memang bukan makhluk bersayap seperti malaikat atau pun bidadari, aku lambat dan penuh pikiran mesum. Pikirku.

"Sayang, kamu tak boleh sakit, kamu selimutan yang rapat ya? Hujan kemarau memang tak masuk akal dinginnya, mereka penuh penyakit." Balasku.

Hujan kemarau memang penuh tipu daya surgawi bagi penggila hujan sepertiku. Lihat saja, gemerlap indah cahaya kilat yang lalu - lalang bertebaran di puncak langit yang sedang terkuasai oleh mendung.
Setelah ku balas, aku kembali menggeletakkan ponselku di atas meja tadi, meja berisi mangkuk kotor bekas mie instan yang sudah ku makan sekitar dua jam lalu, juga cangkir berisi kopi yang tinggal separuh, sudah dingin pula. Benar, waktu itu aku memang sedang asyik terjebak di warung kopi pinggir jalan raya bersama para penikmat kopi lainnya. Aku kembali melanjutkan lamunanku yang sempat tertunda tadi. Masih tetap bergemerlap, seperti atraksi para dewa. Mungkin dewa petir, dewa angin, dan dewa hujan sedang unjuk kebolehan. Oh, atau mungkin mereka sedang mengadu kekuatan. Sehingga dahsyatnya sampai membahana seperti saat ini, petir yang meledak - ledak, dan angin yang kian membadai.

"Bob? Gak mulih ta? Uadem gini, Cuk!" Ajak temanku bernama Zain sambil mendekap tubuh dengan kedua tangannya.
"Wah, pasti uenak iki di gae turu sampek dzuhur. Ha - ha - ha." Tambahnya.

Aku hanya tersenyum kecil sembari menyeruput sisa kopiku tadi sebelum benar - benar tak tersisa kemudian.

"Udan deres ngene lho." Jawabku.

"Aku bawa jas ujan, ayo!"

"Delok'en ta, geludhuk'e buanter. Bahaya! Wes ta lah... Mengko dhisik!"

"Yowis karepmu."

Sementara ia kembali asyik membaca koran, aku pun kembali asyik dengan lamunanku. Kian lama, aku kian terjebak dengan pikiran - pikiran yang membingungkan. Aku bingung, apakah ini takjub atau sebaliknya.
Oh, tidak! Kekasihku! Kali ini "2 pesan baru". Sial! Aku merasa sangat bodoh, berat sekali saat akan membuka pesan itu. Pikiranku pasrah, pasti ia sangat marah denganku. Aku baca pesan pertama (urutan teratas di daftar kotak masuk).

"Sayang? Kamu ngapain sih? Sibuk ya? Pasti lagi ngopi ya? Ya sudah, aku memang tak senikmat kopimu itu. Maaf sudah mengganggu. Selamat malam." Aku lemas.

Pesan kedua (urutan nomor dua setelah pesan pertama. Logikanya, pesan kedua lah yang ku terima terlebih dahulu)

"Iya sayang, ini aku sudah selimutan rapat - rapat, sudah pakai sarung tangan juga kaos kaki. Kamu jangan terlalu khawatir ya? Aku tak apa, kamu jaga diri baik - baik ya? Kamu juga jangan sampai sakit, di luar sana dingin sekali kan?"

Aku bukan lagi merasa berdosa, aku bahkan merasa lebih dari itu. Ah, entahlah! Aku bingung apakah harus membalasnya atau tidak, sedangkan aku yakin ia belum sepenuhnya terlelap dan mengharapkan kata maaf dariku. Sedangkan di sisi lain, aku juga masih terisak menangisi hujanku yang terlantar dan menjadi buas di musim kemarau seperti ini. Aku bingung..... Hah! Ku beranikan dan ku paksakan diriku untuk membalas pesan singkat dari yang terkasih.

"Kasih.... Tolong maafkan aku, maafkan kebodohanku tadi. Aku benar - benar tidak tahu saat ada pesan darimu. Maaf."

Dasar Idiot! Tolong lupakan sejenak tentang hujan, tentang langit yang kini laknat dan memikat, juga tentang para dewa yang sedang berseteru. Kini aku harus benar - benar memfokuskan pandanganku terhadap ponselku. Aku harus sanggup berjanji untuk tidak sedikit pun luput dari ponselku. Aku harus benar - benar berada disitu, saat kekasihku membalas pesan singkatku. Apa mungkin? Ya di tunggu saja. ***
Entah pada kedipan mata yang ke berapa ratus, layar ponselku menyala. Aku sangat bernafsu dan segera membuka pesan dari kekasihku itu. Oh, Fuck! Ternyata bukan dari kekasihku, tetapi dari teman lelaki satu kelasku, namanya Antok. Aku membacanya dengan semangat yang kurang.

"Mas, barangnya nggak jadi di antar sekarang. Katanya yang jadi kurir sedang ada halangan."

"Lha terus sampai sini kapan mas?"

"InsyaAllah besok."

"Oalaah.. Ya sudah mas, nggak apa - apa."

Tolong jangan pikirkan barang apa yang sedang aku pesan, karena itu adalah barang terkutuk. Ya, tebak saja sendiri.
Masih kembali tak luput, aku terus memandangi layar ponselku, berharap ada kata maaf dari sosok yang di harapkan. Bedebah! SMS dari sosok tersebut tak kunjung datang.

"Mungkin ia tertidur, biar saja lah. Biarkan ia terhibur oleh alam fatamorgana di mimpinya." Batinku.

                                                      ***

Apa kabar hai sang hujan?
Aku tak menyangka kau berubah secepat ini
Mengapa kau bisa menjadi sebrutal ini?
Aku bisa saja menyukaimu lebih lama jika saja kau tak menyakitiku malam ini.
Lalu bagaimana dengan langit? Tentu saja tak kunjung padam, lebih berkobar malahan. Yang tadi hanya sekedar riuh, kini malah semakin ricuh. Sepertinya memang pertarungan antar dewa. Laksana perang antara dewa petir, dewa angin, dan dewa hujan beserta para pasukannya masing - masing.  

"Jedduuuuaaaarrrr!!!!!!!"
"Jancoook!" Teriak para penghuni warung sambil tutup kuping sehabis petir yang sebegitu dahsyatnya.

"Hua - ha - ha - ha...." Pak Hadi pemilik warung malah tertawa puas melihat kiprah reaksi para pengunjungnya.
"Geludhuk'e buanter gitu e pak, kaget aku. Asu!" Gumam seorang bapak di sampingku.
Sementara aku? Aku hanya mengreyitkan dahi dan tetap terpaku pada ponselku. Aku lebih khawatir pada kekasihku setelah petir jahannam tadi. Aku coba mengetik pesan untuk ku kirimkan kepadanya.

"Kasih, maafkan aku. Aku tak bermaksud mengabaikanmu, aku........" Belum usai mengetik, aku mendapatkan 1 pesan baru. Langsung saja ku buka itu. Ternyata darinya, dari sosok yang ku harapkan tadi.

"Sayang... Aku takut, aku terbangun karena suara petir tadi. Aku benar - benar takut."

"Ya sudah, biar aku menemanimu sampai kau terlelap kembali ya sayang? Oh iya, maafkan aku atas kejadian yang tadi. Aku tak bermaksud cuek begitu, aku memang sedang lalai tadi. Maaf ya?"

"Tak apa kok, makasih ya sudah mau menemani."

Kami terus ber - SMSan ria hingga akhirnya ia kembali terlelap.
Syukurlah, aku termaafkan.

Malam telah berada pada puncaknya, warung kopi tak lagi ramai, semuanya tampak sangat semrawut. Meski begitu, aku lega. Kekasihku memaafkanku. Ah, apa aku yang terlalu berlebihan? Tadi itu kan hanya kesalahan kecil, tak sengaja pula. Embuhlah! Lupakan!

"Cuk, Ayo mulih. Wis terang." Aku mengajak temanku.

"Ayo, mbayar o dhisik!"

"Lho, kate muleh ta mas?" Tanya pemilik warung.

"Enggih pak, besok ada kuliah." Jawabku sambil membayar secangkir kopi, semangkuk mie instan, dan beberapa batang rokok yang ku nikmati saat hujan turun tadi.

"Mas, Pak, balik riyen nggih?" Pamitku kepada para sesama pengunjung.

"Oo.. Iyo mas, hati - hati, di gang 6 ada bencong mangkal lho. Ha - ha - ha.." Jawab seorang pria tua yang sedang asyik main catur dengan rekannya.

"Ha - ha - ha.... Ah, bapak ini, ada - ada saja. Mari pak!"

"O.. Enggih mas.."

Dan akhirnya aku menuju kost menggunakan sepeda motor dengan temanku. Hujan tinggal sejengkal, gemuruh petir meredam, angin hanya tinggal semilir. Lha, ngomong - ngomong, yang tadi itu siapa yang menang? Dewa petir? Dewa angin? Atau kah  dewa hujan? Aku mana peduli? Yang aku tahu, kalaupun mereka ada, pastilah mereka bukan Tuhan. Jika mereka memang memiliki kekuatan nan dahsyat, tetaplah itu pemberian dari Tuhan. ***

Selasa, 04 Februari 2014

Bahaya Terindah Ladang Kemarau



              Hari segera bangun dari lelapnya, kemudian tanpa segan ia membuka mata. Kegelapan mulai memudar tanpa menunggu aba - aba. Perlahan pendar cahaya sang surya mulai menyebar, menyusup, merangkul sang bumi, memukul beku dinginnya malam.

              Di seberang jalan tampak para penghuni pasar yang lalu - lalang mengecer dagangan. Terdengar merdu dan menggoda auman seorang Ibu penjual kue serabi. Andai kata hangat sang mentari sudah cukup, tentunya aku tak bungkam. Namun dinginnya pagi kemarau memang terlalu picik, terlalu cerdik untuk di bodohi.

              Pagi ini memang tak seperti sedia kala. Rerumputan liar terlihat tajam menyeringai tanpa embun berlinangan menghiasinya. Namun aku tak dapat memungkiri, bahwa selalu ada keindahan di setiap kenistaan. Aku tetap takjub ketika mendengar dendangan para anak burung yang kelaparan. Maka sang biyung, bertebaranlah mereka merayapi cagar alam semesta.

                                                                          ***

              Aku pun tak seperti biasanya. Biasanya, aku tak pernah mau peduli dengan hadirnya pagi. Aku tak mau tahu tentang kelahiran sang surya di awal hari. Tapi entah, hari ini. Pagi ini, seakan ia menyeretku, memaksaku untuk menikmati elok parasnya. Aku mana berani menolak? Dengan malam saja aku berani bercumbu.

              Sempat aku menatap wajah pagiku di balik cermin. Oh, ini terlalu menjijikkan! Sial! Aku tertipu oleh pagi. Mengapa aku tak elok sepertinya? Tapi tak apalah, aku harus tetap melayani sang pagi meski dengan kantuk yang ku seret paksa ke ruang bedebah di pagi hari. Ya, kamar mandi. Oh, jangan salah paham, ini masih terlalu pagi untukku mandi. Aku hanya sekedar mengusap - usap raut wajah dengan dingin air pagi kamar mandi yang mengusir sisa - sisa kotoran saat ku terlelap.

              Aku menuju ruang tamu, ku dapati disana setengah gelas kopi hangat yang mulai mendingin. Aku mengerti, sebagian dari minuman itu telah di nikmati Ayah pagi - pagi tadi sebelum berangkat kerja. Oh, bahagianya. Aku dapat berjoin kopi dengan ayahku. Walaupun bukan secara langsung dan tanpa ada obrolan hangat di antara kami, aku bahagia. Ini sudah cukup bagiku. Maka segera ku minum kopi tadi. Nikmat. Terimakasih Ayah.

                                                                         ***

              Kembali hati di gelayuti rasa gelisah yang datang tanpa pernah ku undang. Oh, aku segera mengetahui, ini bermula sejak perpisahan itu. Perpisahan yang tak dapat di katakan sementara, namun tak juga selamanya. Aku yakin aku dapat melewatinya. Pun aku tahu batas kemampuanku. Aku sadar aku hanyalah seorang Hamba tanpa mu'jizat yang terjerembab ke dalam kehidupan. Aku tak pernah menyesali itu. Meski hanya sekedar remang - remang wajahnya yang dapat ku cumbu di sela - sela waktu. Aku bersyukur dapat di beri kemampuan dapat merindunya. Sssst. Asal kau tahu saja. Dia adalah kekasihku.

              Aku terbisu sejenak menikmati sisa - sisa bayangnya yang mulai memudar. Seperti fajar yang mati perlahan di telan pagi.

                                                                        ***

             "Nak, sarapannya di makan dulu sana, nanti dingin lho!"

             Terdengar jelas suara tadi, walau aku tahu suara itu berasal dari ruang dapur. Suara tersebut sukses menghapus sisa separuh bayangan yang masih ku rapal dan ku nikmati. Benar, lamunanku terpecah seketika.

             "Iya bu.. Sebentar lagi..!" Teriakku dari ruang tamu.

             Terdengar langkah kaki menuju tempat singgahku.

             "Ibu mau pergi mengajar dulu. Kamu baik - baik di rumah ya.." Pamitnya.

             Tak pelak lagi, itu adalah suara sesosok wanita yang kerap ku panggil Ibu. Seorang wanita luar biasa dengan kharismanya yang tak mampu ku ungkapkan betapa banyak sisi baiknya. Oh Ibu.... Ah! Apalah itu sebuah kata yang dapat melebihi kata "sempurna". Untukmu.

             "Iya bu, hati - hati." Jawabku singkat sambil mencium tangannya.

             Setelah beliau berangkat, aku beranjak dari tempatku menikmati pagi, tempat singgahku. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan selain mematuhi perintah Ibu. Aku mulai mengorek apa yang dapat aku korek di sebuah ruang yang sama sekali tak bersih. Penuh bau - bau berbagai bumbu disana. Walaupun begitu, aku bahkan malah sangat nyaman disana. Dengan jemariku, aku segera menuntaskan rasa laparku. Lagi - lagi, terimakasih untukmu, Ibu.

             Keputusan sang waktu memang tak dapat di halangi oleh siapapun. Lihat saja dirimu, kau bukanlah siapa - siapa. Waktu tak akan pernah mau peduli terhadap apa yang sedang kau lakukan. Entah kau asyik atau muak dengan itu. Ia akan berjalan sebagaimana mestinya. Ini seperti saat kau sedang asyik membaca, saat kau sedang asyik dengan halaman satumu. Ia tak akan pernah segan membuka lembaran baru dan memaksamu untuk membaca halaman dua, walaupun kau belum selesai dengan halaman satu. Memang bedebah. Saat aku sedang asyik dan belum selesai dengan pagiku. Ia lancang merenggutnya tanpa mempedulikanku dan merubahnya dengan siang. Detik - detik menghilangnya pagi. Aku tak berdaya, aku memang tak berhak menangisinya. Ah, biarkan saja. Toh aku pun bukan siapa - siapa juga bagi sang pagi.

             Hari mulai terasa hambar. Sang surya yang tadi ramah seolah berbalik memusuhi dan menyerang bumi dengan teriknya yang membakar. Sang belukar rerumputan terkesan lebih buas dari sebelumnya. Padahal aku tahu ini adalah ruang pedesaan yang akrab dengan kesuburannya yang menawan. Oh, aku tahu. Mungkin telanjang dada adalah cara terbaik mengatasi hawa panas yang memadat di ruangan tempat ku merebahkan tubuhku.

             Sungguh, aku merindukan musim penghujan. Musim yang penuh dengan kelembaban para daun. Dimana aku bisa merasakan kehangatan selimutku saat ku merasa kedinginan. Dimana kopi terasa begitu nikmat, walaupun masih mendidih. Dimana aku dapat bermain - main sepuasnya di halaman rumah saat hujan turun. Dan dimana aku rela berkotor - kotoran dengan lumpur di area persawahan. Sungguh, aku sedih saat harus mengenang masa - masa itu. Masa kecilku.

             Kau tahu? Masa kecil adalah masa yang paling sempurna di banding masa - masa lainnya. Kau akan selalu merasa menang dan enggan mengalah saat kau kecil, walaupun kenyataannya kau sering kalah. Kau akan menentang siapapun tanpa rasa takut. Kau akan menangis tanpa rasa malu saat kau kesakitan. Kau akan berbuat hal - hal baru yang menurut orang dewasa terlalu berbahaya untukmu. Hanya saat kau masih kecil. Benar - benar masa tiada banding.

            Tapi sayang, pagi telah munafik. Siang pun tak mau kalah. Sore siap berebut sang waktu. Tetapi sang malam tetap nyaman dengan waktu separuh hari yang di kuasainya. Ia tertawa puas melihat mereka berebut waktu separuh hari lainnya. Mereka tak akan pernah berhenti berkecamuk mengisi sang waktu. Apa mau di kata, waktu memang telah merenggut masa kecilku. Aku telah beranjak dewasa kini. Aku telah banyak di cekoki berbagai kepahitan - kepahitan hidup selama ini. Aku telah melihat banyak sekali perubahan di desaku. Kemarau pun tak terasa sekejam ini saat ku kecil.

                                                                        ***

            Aku ingat kemarau saat ku kecil dulu. Aku pernah bermain - main di sebuah ladang yang lama tak di tanami palawija. Disana tumbuh rerumputan liar dan semak belukar di sekitar yang tumbuh bebas. Tempat itu memang terkesan terlalu berbahaya bila di kunjungi anak kecil. Ah, apa peduliku waktu itu.

            "Mau kemana le..?" Tanya Ibuku saat ku hendak menjalankan sepedaku.

            "Mau sepakbola bu di lapangan desa sebelah" Jawabku.

            "Jangan pulang maghrib - maghrib ya?"

            "Iya iya!" (Memang dasar anak kecil, sukar untuk di atur)

            Kau pasti tahu aku telah membohongi Ibuku. Jelas - jelas aku akan pergi ke tempat yang saya sebutkan tadi. Sebuah ladang tak terpakai.

            Ku kayuh sepedaku menuju sebuah ladang tadi. Setelah sampai, aku hanyut di sambut oleh lambaian para ilalang yang hampir merengus akibat kemarau panjang. Angin sepoi kemarau yang memang ku rindukan saat ini, yang ku nikmati saat itu. Aku melempar sepedaku kemudian berlarian disana. Aku tak peduli dengan apa - apa yang (menurut orang itu buruk) ada disana. Bahkan aku sempat menirukan teriakan sang kodok yang tengah sekarat di makan ular. Entahlah, aku seakan malah gemas dengan hal - hal yang berbahaya waktu itu.

            Sang senja mulai membuka mata. Aku berbaring di tengah ladang itu tanpa mempedulikan keras dan tajamnya rerumputan yang menyelusup mengenai tubuh melalui celah - celah pakaianku. Aku benar - benar menikmati pemandangan menakjubkan yang sebelumnya ku anggap biasa saja. Aku melihat matahari senja yang hampir menyerahkan seluruh tubuhnya kepada sang malam yang penuh nafsu.

            "Hey nak! Jangan disitu, berbahaya!! Ini sudah hampir maghrib. Ayo cepat pulanglah!!" Teriakan seorang petani dari kejauhan yang membuatku gagal meniti keindahan senja.

            "Iya paklek, bentar lagi!!!"

            "Sekarang! Kasihan orang tuamu, pasti mereka sedang gelisah mencarimu!!"

            Iyaiya paklek!!!" Jawabku kesal.

            Oh, sial! Bagaimanapun dikata, aku tetaplah Si kecil yang harus patuh terhadap orang dewasa. Orang tuaku akan marah besar jika ada yang mengadukanku berbuat tidak sopan di desa. Ya, tetangga - tetangga di desaku memang kerap dengan kebiasaan mengadu, menggunjing, dan lain - lain. Maklumlah, warga pedesaan.

            Esok harinya, aku kembali ke tempat itu dengan sepedaku. Aku kembali memuaskan diriku dengan bermain - main bersama teman - teman khayalanku disana. Aku gila? Mungkin saja. Tapi, jika di pikir - pikir lagi, memang hanya anak kecil gila sepertiku yang tak mengenal apa itu bahaya. Dan semua bahaya - bahaya pertamaku memang ku dapat dari ladang itu. Mulai dari jatuh di mulut bumi yang mulai retak, sampai aku hampir mati di sengat ular di balik semak belukar. Sungguh, bagiku itu sangat luar biasa.

            Singkat cerita, aku memang tak pernah bosan mengingat segala yang termakhtub di ladang tersebut. Benar - benar ingatan yang membahagiakan. Cukup mendinginkan ketika panas kemarau sedang menderu seperti saat ini. Kemarau dulu memang tak sepanas kemarau sekarang dan kemarau sekarang memang tak sehangat kemarau dulu. 

*Meski telah berdiri tembok bangunan disana, bagiku itu tetaplah ladang tempatku bermain dan belajar tentang apa arti bahaya sesungguhnya. "Selamat tinggal mara bahaya pertamaku."

SEKIAN.. ^^


Surabaya, 04 Februari 2014