Tampilkan postingan dengan label Suka-suka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suka-suka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2015

505

In 2009

Ingin sekali membuat tulisan yang begitu keren tapi apa daya jemari, semua itu masih dalam tahap yang sangat jauh bagi saya. Saya akan sangat bangga mengakui bahwa saya adalah seorang pemula yang masih belum bisa sepenuhnya mencintai kegiatan menulis pun bahkan hasil tulisanku sendiri. Saya masih dalam tahap suka-suka dalam kegiatan menulis (tolong jangan memaknai kata suka-suka sebagai kata sukarela). Saya malah sering sekali menertawai tulisan saya sendiri yang masih dipenuhi dengan hal bodoh. Namun, jika saya tengok lagi ke belakang, ternyata sudah ada perkembangan yang menurut saya itu cukup membangggakan pun itu sedikit dan kecil sekali persentasenya. Memang benar, manusia diciptakan untuk berkembang, tak terkecuali saya. Saya adalah tipe orang yang sangat menyukai pujian. Saya sudah sering sekali menerima pujian dari berbagai kalangan untuk perihal kebodohan, keteledoran dan ketidakteraturan saya. Ada yang memuji saya ini adalah tipikal orang bermasa depan suram dan terjal, ada yang memuji saya dengan kata-kata kurang ajar, ada yang menyebut saya ini sangat mesum, ada yang memuji saya begitu berantakan, ada yang memuji saya ini orangnya gila, dan yang paling baru, kemarin ada yang memuji saya sebagai pemuja setan setelah menunjukkan salah satu artwork The SIGIT kepada sang pemuji tersebut. Jadi, jangan sungkan untuk memberikan pujian terhadap saya jika anda rasa tulisan ini sangatlah bodoh atau bahkan terlalu bodoh untuk dibaca, karena sebenarnya saya juga sedang dilanda kebingungan luar biasa saat mencari-cari di mana letak kebodohan saya yang lain, seperti puisi yang begitu ijay, cerpenku yang membuang waktu bagi para pembaca, pengalaman hidup yang very forgottable dan beberapa gambar yang not for appreciated di postingan saya sebelumnya. Maka bolehlah saya segera mengakhiri tulisan bodoh ini, tetapi setelah yang satu ini. Dalam postingan sebelumnya, saya juga dengan bangga memamerkan kebodohan saya yang lain berupa tulisan tentang musik yang mungkin bahkan sama sekali tidak bisa dijadikan sebuah referensi bagi siapa pun. Memujilah, karena kali ini saya akan kembali memaksa anda untuk mendengarkan sebuah tembang berlabel indie namun bernuansa gelap semacam 505 oleh Arctic Monkeys. Arctic Monkeys? Grup band macam apa mereka? Seperti apa penampilan mereka? Jawabannya satu, mereka keren! Memang ada sedikit rasa sebal jika mengingat band ini adalah percikan yang muncul akibat ledakan The Strokes dkk di abad ke-20 yang acap kali disebut sebagai "The saviours of rock n roll" itu, namun saya selalu meyakini, Arctic Monkeys adalah percikan terdahsyat di alam Britania raya dari ledakan tersebut, sebab banyak sekali band-band dari Inggris-- yang seangkatan dengan Arctic Monkeys-- yang sempat terkenal pada awal karirnya seperti The Libertines, Franz Ferdinand, Bloc Party, Editors, The Fratellis, Placebo, Razorlight, Kaiser Chiefs and The Kooks namun mengalami kemerongsotan tajam dalam hal finansial dan akhirnya memilih untuk beristirahat berkarir dalam dunia musik. Kembali ke 505. Selain lagu Arctic Monkeys yang berjudul When The Sun Goes Down dan Fluorescent Adolescent, saya juga sangat menggemari lagu 505. Lagu ini memikat saya lewat awalan yang kelam memikat kemudian klimaks yang hebat pada pertengahan lagu. Sebuah lagu yang entah apa maknanya namun saya meyakini lagu ini diciptakan oleh seorang bajingan yang gelisah terhadap perpisahan dengan seorang yang ia cintai. Gelisah yang ia rasakan berhasil tertuang angkuh di dalam lagu dan menyebar spiral dalam imajinasi saat saya mendengarkannya. Apakah anda sependapat dengan saya bahwa semua ini merupakan sebuah penjelasan yang amat bodoh bagi sebuah lagu yang sangat bagus (atau malah bodoh juga?). Entahlah, namun anda dapat bernafas lega, karena semua kebodohan di dalam kebodohan ini telah berakhir. Jangan lupa, segera dengarkan 505!

Kamis, 12 Februari 2015

(Re-remember) 5 Album Penyelamat

Kemarin malam waktu ngopi bareng di gang VII, Tito menanyakan kepada saya tentang musik apa yang saat ini saya gandrungi. "Sharing po o cuk!" ketusnya. Saya bingung dan diam sejenak. Karena saat ini, saya seperti umat rock yang ling-lung. Saya belum memiliki referensi apa-apa soal perkembangan musik saat ini. Selain karena laptop saya yang sudah dijemput sang malaikat maut, saya juga kurang bisa menabung dengan baik untuk berlangganan majalah musik. Biasanya saya hanya pergi ke warnet dengan paket malam Rp 5000/4 jam untuk sekadar melihat-lihat geliat hiruk-pikuk perkembangan musik favorit. Saya dengan enteng mengaku saja kalau saya sedang kosong dan hampa. Untuk mengalihkan rasa malu dan rasa berdosa saya, saya asal-asalan bilang saja kalau sekarang saya lagi mengingat ulang atau menggandrungi kembali musik-musik pertama saya dulu. Yaitu musik-musik yang menyelamatkan saya dari kekacauan dan krisis musik berkualitas di Indonesia pada waktu itu. Benar, ini resiko umat yang lahir di abad ke-20 seperti saya. Pertamanya memang asal-asalan menjawab, tetapi kemudian saya berpikir kembali menggunakan otak bodoh saya, bahwa ternyata saya telah melupakan banyak sekali album-album pertama saya waktu itu. Maka saya putuskan untuk mendengarnya kembali. Membenahi dan menghafalkan kembali bagian lirik-lirik yang mulai kabur dari kepala. Benar juga, saya adalah seorang medioker yang dangkal pengetahuannya mengenai musik, maka dari itu, musik yang saya dengarkan mungkin sudah didengarkan oleh kebanyakan orang. Ya, saya akui itu. Tetapi saya akan menyangkal bahwa musik yang saya dengarkan adalah musik super menjana seperti musik labilnya Last Child atau Killing Me Inside yang sok-sokan frustasi itu. Saya akan membagikan beberapa album yang berhasil meniriskan saya dari badai krisis musik berkualitas. Saya menyebut mereka album penyelamat. Monggo:  

1. Guns N' Roses - Appetite for Destruction (1987)


Waktu itu saya masih berseragam putih abu-abu. Saya akui lagu-lagu seperti Permintaan Hati dan Betapa Aku Mencintaimu masih hinggap dengan bedebah di ponsel saya yang saat itu masih labil. Saya enggan menyebut nama bandnya. Saya malu. Tetapi kemudian, teman sekaligus kakak kelas saya yang melanjutkan pendidikan di luar kota pulang kampung dan memamerkan lagu yang saat itu belum kuketahui. Namanya Usman, dan lagu yang dipamerkan adalah Sweet Child O' Mine oleh Guns N' Roses. Saya dengan sangat malu juga akan mengaku bahwa waktu itu saya sempat memaki semacam "Lagu macam apa sih?" juga "Lagune wong gendeng" kemudian memamerkan balik lagu-lagu merengek yang baru kucomot dari ponsel teman se-labil saya di sekolah. My sin. Tetapi ternyata Usman sangat berwibawa dan secara dingin mengatakan, "Lagu ngonoiku bahaya. Kon gelem dadi koyok Rangga?" Lagu seperti itu berbahaya. Kamu mau menjadi seperti Rangga? ia berujar. Rangga sendiri adalah tokoh misterius di desa kami yang sering dianggap psikopat karena kurang berbaur dengan masyarakat dan pernah dianggap membunuh salah satu warga desa yang disebabkan oleh masalah sepele. Oke oke, saya juga akan mengakui bahwa, dulu saya mendengar Sweet Child O' Mine karena tidak mau dianggap norak oleh Usman, juga karena momok yang menakutkan. Menjadi seperti Rangga. Pertama saya mendengar lagu ini, kesannya biasa saja. Mungkin karena saya masih murtad dan belum tersadarkan. Saya putar lagi, kepala saya mengangguk-angguk tanpa saya perintah. Dan setelah berkali-kali mendengarnya, saya mulai mencintai lagu ini. Juga Guns N' Roses, juga alirannya. Saat di warnet, saya sudah tidak lagi mengetik kata kunci "Peterpan" pada kotak search engine, tetapi "Guns N' Roses". Karena saya masih mualaf dan bodoh, saya tak terlebih dahulu membaca informasi dan awal mula band ini terbentuk, melainkan langsung menuju pada deretan album mereka. Ternyata Sweet Child O' Mine termaktub dalam album Appetite for Destruction. Bersanding dengan lagu-lagu yang belum pernah kuketahui sama sekali. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendownload semua lagu di album tersebut, kecuali Sweet Child O' Mine tentunya. Hingga saya sangat tergila-gila dengan lagu-lagu nakal seperti Welcome to The Jungle, Rocket Queen, Out ta Get Me hingga You're Crazy. Sebenarnya waktu itu saya juga sudah mengetahui paling tidak beberapa band seperti Avenged Sevenfold, Sum 41 dan Green Day. Tentu bukan karena benar-benar suka, melainkan karena ingin tampil keren dan sok-sokan menjadi rocker. Setelah saya sudah sedikit sadar, saya menghapus semua lagu-lagu penuh borok di ponsel saya, kemudian dengan bangga memamerkan lagu-lagu dan prinsip hidup saya yang baru kepada teman-teman yang masih setia dengan St12 maupun Armada di sekolah. Tak jauh berbeda dengan saya waktu pertama dulu, umpatan semacam "Lagu macam apa sih?" juga "Lagune wong gendeng" mencuar pedas dari mulut mereka. Aduh, saya jadi bingung, saya mau menyadarkan mereka dengan cara apa? Saya tak mungkin memakai cara Usman. Masalahnya, saya tidak tahu nama-nama orang gila di desa mereka masing-masing. Masa iya saya akan memakai nama Rangga? Tentu tidak mungkin. Tapi sudahlah, biarkan mereka mencari jati diri mereka masing-masing sesuka hati mereka. Yang penting saya sudah punya Guns N' Roses di ponsel saya. Saya tidak akan merengek lagi. Maafkan saya jika begitu telat dewasa. Setidaknya, pintu gerbang yang di dalamnya terdapat guncangan sudah mulai terbuka walau sedikit.

2. Megadeth - Rust in Peace (1990)


Setelah berhasil teradiksi oleh Guns N' Roses, saya menyebut diri saya sendiri dengan sebutan anak rock baru melek (baru lahir). Benar, saya merasa seperti baru saja diadakan di bumi ini. Karena masih bayi, saya begitu ingin tahu lebih mendalam mangenai musik rock. Saya banyak membaca artikel di Wikipedia (saya mana tahu kalau saat itu sudah ada Webzine seperti Rolling Stone atau situs mengguncang seperti Metalhammer?). Ternyata unsur labil masih sedikit ada yang melekat di otak saya. Saya belum bisa mencintai suatu jenis musik saja, semuanya kulahap. Satu syarat yang saya wajibkan saat itu adalah, musiknya tak boleh merengek dan harus bisa membuat saya teriak-teriak saat mandi. Baiklah, ternyata itu dua. Tetapi intinya memang satu, saya tak akan lagi menyimpan apalagi membanggakan Peterpan yang mendayu-dayu itu. Saya berjanji. Balik ke cerita. Saya yang belum bisa membedakan genre atau bahkan subgenre dari musik rock malah sempat nyasar ke ranah thrash metal waktu itu. Tetapi abaikan saja istilah nyasar atau tersesat, saya malah menyebut ini sebagai proses yang berharga. Hangar 18 dan Take No Prisoners adalah lakon utama penyebab saya mencintai thrash metal. Mereka berada dalam album ke-empat Megadeth. Rust in Peace. Perjalanan yang menyenangkan. Mungkin akan ada yang memaki saat membaca album nomor tiga. Karena selain hair metal, saya juga menggandrungi grunge!

3. Nirvana - Nevermind (1991)


Untuk para umat hair metal, saya mengerti jika kalian sangat ingin melempari saya dengan botol dan kaleng bir. Sedikit yang saya tahu, musik grunge telah menimbun dan menuntaskan aliran hair metal. Saya tahu kalian sepenuhnya membenci Nirvana dan Nevermind seperti Tuhan yang mengutuk iblis beserta keturunannya. Namun saya tak bisa memungkiri, saya sangat mengagumi Kurt Cobain. Beliau keren, chaos, rasa frustasinya berhasil tertuang penuh dalam lagu-lagunya. Tidak seperti lagu-lagunya Last Child itu. Dan jujur sampai saat ini, saya masih menganggapnya sebagai dewa. Dosakah saya? Mungkin kalian akan menjawab kata benar dengan sangat lantang. Saya bisa mendengarnya. Maafkan saya, saya memang labil dan berusaha menutupinya dengan kata omnivora musik agar tidak malu. Pertama saya mengenal Nirvana, sangat tidak terduga. Waktu itu handphone saya rusak dan sudah tidak bisa lagi diperbaiki, maka dengan sangat memelas, saya minta dibelikan ponsel genggam baru kepada orang tua saya. Saya juga masih ingat, waktu itu Bapak hanya sanggup membelikan ponsel second kepada saya, saya tidak masalah. "Sing penting iso diisi lagu sing akeh pak." yang penting bisa diisi banyak lagu pak, kataku. Ponselpun dibeli, saya sangat girang. Sebentar lagi saya bisa kembali menikmati musik saat sebelum tidur maupun teriak-teriak saat sedang mandi. Setelah ponsel berpindah tangan, saya segera mengaktifkannya dengan gembira. Saya membuka pemutar musik. Hei, ternyata sudah ada isinya! Kebanyakan adalah lagu Barat pula. Seingat saya, antara lain:

- Nirvana - The Man Who Sold The World (David Bowie Cover)
- Nirvana - Smells Like Teen Spirit
- Nirvana - Come As You Are
- Nirvana - Lounge Act
- Green Day - American Idiot
- Guns N' Roses - Sweet Child O' Mine
- Guns N' Roses - Don't Cry
- Nirvana - Breed
- Linkin Park - Numb
- Linkin Park - Breaking The Habit
- Linkin Park - Figure
- St12 - Putri Iklan (Then deleted soon)
- Peterpan ft. Crhisye - Menunggumu (Only hear once, then deleted)

Aduh, yang lain lupa. Pokoknya track list itu didominasi oleh Nirvana. Band macam apa itu? Alirannya apa? Pengaruhnya bagaimana? Lagunya kok kacau begini? Setelah pikir panjang, akhirnya saya menyisihkan uang saku untuk mencari informasi tentang Nirvana di warnet. Akhirnya saya sedikit mengetahui tantang grunge, pula Kurt Cobain, sosok yang membuat saya ingin sekali memiliki rambut pirang yang berantakan menutupi seluruh raut wajah dan menyileti bagian lutut pada celana jeans saya waktu itu. Dan setiap ditanya apa cita-cita saya, saya selalu menjawab ingin seperti Kurt Cobain. Dasar anak kecil nan ingusan. Sebenarnya keinginan itu masih ada setidaknya untuk saat ini. Tetapi sayang, wajah saya tidak cocok berambut pirang. Maka dengan sebuah pertimbangan takut dikira bencong narsis maupun emo labil, saya mengurungkan niat untuk merubah warna rambut saya, dan menguburnya dalam-dalam. Tetapi untuk mengagumi sosok Cobain yang kacau itu, rasa-rasanya tak akan pernah berujung. Sebentar sebentar, ngomong-ngomong, Linkin Park itu siapa lagi sih?

4. Linkin Park - Meteora (2003)


Endusan saya merambah hingga nu metal. Alasannya sama, yaitu karena amat sangat penasaran. Numb adalah dalang dibalik semuanya. Saat mendengar, urat nadiku dipenuhi rasa berdesir. Saya ke warnet lagi. Meteora sudah ada di ponsel. Instrumen yang memikat adalah senjata utama mereka. Lagu-lagu seperti From The Inside, Don't Stay, Easier to Run dan Breaking The Habit menjadi penyebab hari-hari saya lebih banyak saya gunakan untuk diam dan merenung. Saya jadi lupa mengerjakan tugas, jadi malas bersekolah, jadi banyak merokok, kurang peduli urusan perempuan dll. Kecil-kecil sudah brutal!

5. Green Day - American Idiot (2003)


Sebenarnya, musik punk rock sudah saya kenal sebelum empat genre di depan. Saya sudah mengetahui band-band "darah muda" seperti Blink-182, Sum 41, Good Charlotte dan System Of A Down. Tetapi saya menuliskan ini di akhir, karena dulu, saya mendengar Green Day secara sungguh-sungguh memang setelah keempat grub band di depan (Guns N' Roses, Megadeth, Nirvana dan Linkin Park). Sebelumnya, saya hanya mengikuti arus saja, teman-teman saya suka Green Day, maka saya begitu juga. Tetapi kalau sekarang, saya berani bersumpah, saya tidak peduli jika tidak ada seorangpun yang menyukai Green Day, saya akan tetap suka. Berawal dari lagu Boulevard of Broken Dreams, saya berhasil masuk dalam deretan pemuda yang (merasa dirinya) paling berbahaya. Dangerous!

***

Kelima album tersebut merupakan awal perjalanan saya dalam menggemari musik rock. Gerbang menuju kegaduhan. Sejak saat itu, saya jadi sering ke warnet. Tanpa pikir ini itu, pencomotan file secara ilegal dari 4shared pun saya lakukan hari demi hari. Saya lambat-laun mulai paham tentang musik rock dan metal. Saya mulai tahu band ini itu, webzine ini itu, konser sana-sini. Hidup saya mulai penuh guncangan, dan itu sangat menyenangkan. Saya tak akan pernah peduli jika mereka saling berbenturan dan berbeda pandangan, saya tak akan pernah sanggup membenci apalagi mengutuk salah satu dari mereka. Saya yang sangat lalai dan mudah pikun ini berjanji, akan kembali memutar kelima album tersebut kemudian mempelajari kembali lirik-liriknya. Saya bersungguh-sungguh, tidak mengasal-asalan lagi. Dan jujur, saya akui, hingga saat ini, saya masih dengan keras kepala menyebut diri saya sebagai omnivora musik. Hm, dasar remaja labil.

Minggu, 08 Februari 2015

Mari Tertawa: Selamat Datang Semester Empat!

Gambar dari Google
Pada suatu hari saya menemukan buku— yang menurut saya ini aneh— di kamar abang sepupu saya. Judulnya 13 Wasiat Terlarang, gila, padahal seingat saya abang saya yang buncit kekar itu sangat membenci segala hal tentang baca-membaca. “Aku wis pinter” Aku sudah pintar, katanya berkali-kali setiap dinasehati agar gemar membaca. Nah, anehnya itu, mengapa buku ini ada di sini? Hahaha. Setelah berpikir panjang dan absurb tadi, saya buka saja buku itu. Begitu menggurui. Dan tebakan saya benar, ini adalah buku motivasi! Tentang cara berbisnis pula.

Saya adalah anak muda yang sangat membenci segala hal tentang motivasi. Bagiku, motivasi datangnya itu ya cuma dari diri sendiri, motivator itu ya diri sendiri. Karena merubah diri menjadi lebih baik itu mustahil bila orang lain yang melakukan. Ya siapa lagi kalau bukan diri sendiri? Segera saya tutup lagi buku itu, eh, saya malah dibikin penasaran karena membaca sesuatu yang menarik di daftar isi; “Pertama-tama, tertawalah”. Saya buka dan baca lagi, ternyata buku ini enak buat disantap siapa saja (dalam artian bukan hanya pebisnis). Tetapi saya tidak akan menjelaskan semuanya di sini, hanya bagian tentang tertawa saja. Oke? Mari lanjut.

Konon, tertawa bisa mengaktifkan otak kanan, mencairkan suasana, mempermudah urusan, membikin awet muda dan ba-bi-bu. Yap! Saya sangat setuju dengan paman Ippho Santosa! Tertawa itu sangatlah penting! Dan konon, paman Ippho adalah motivator kedua yang saya percayai setelah diri saya sendiri karena ternyata dia adalah orang yang cengengesan pula. Hahaha!

***

Aku ingat betul bagaimana rentetan hal yang bisa membikin otak jebol terjadi dan mati satu persatu pada beberapa bulan lalu. Tepatnya dalam semester tiga. Mulai disiksa deadline tugas, dihajar gigi kumat, hingga diserang habis-habisan secara psikologis oleh ibu kos yaitu dengan terus-terusan menagih paksa bayar kosan. Tentang masalah-masalah bedebah lainnya bisa anda ketahui secara tajam setajam mulut ibu kosan di sini.

Semester tiga memang telah berakhir tiga minggu yang lalu, tentu tidak semudah itu berlalu. Banyak sekali peringatan-peringatan yang membuat saya mengerti bahwa hidup tak selalu berarti apa-apa saja yang kita mau. Hidup tak bisa kita lalui dengan sak penake dewe. Terkadang kita juga harus belajar menerima apa yang memang seharusnya kita terima meski kita tidak menghendakinya. Sebut saja Rintangan. Perihal jalan yang kita tempuh, itu sepenuhnya hak kita. Tetapi kalau yang disebut rintangan, itu mutlak urusan Tuhan. Tak dapat kita sangkal.

Saya adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya dan dengan bedebahnya menempuh jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Entah saya harus bersyukur atau mencaci karena telah masuk di jurusan yang sebenarnya (agak) salah ini. Dari kecil saya mencintai gambar dan lukisan, tetapi setelah besar, saya malah diharuskan untuk menikahi tulisan. Aduh cuk, sepertinya saya memang harus mencaci, tetapi apa dikata, bersyukur ternyata memang lebih menyenangkan. Ternyata menulis tidak menyeramkan seseram perut buncit ibu kosan. Tetapi lantas, rasa syukur itu juga dibarengi dengan sedikit rasa sebal. Di jurusan saya terdapat dua prodi, pendidikan dan sastra, dan saya masuk di prodi pendidikan. Uwasu! Itu kan berarti bahwa saya didorong agar menjadi seorang guru yang PNS itu kelak. Iya kan?

Waduh, membayangkan saya memakai seragam dinas saja sudah membuat saya tertawa sampai perut mual, apa lagi membayangkan jika nantinya saya diharuskan untuk membentuk karakter setiap anak bangsa agar berbudi luhur, beriman, bertaqwa dan tidak menjadi generasi penerus bangsa yang bengal nantinya. Sedangkan semua karakter (baik?) itu sama sekali tidak ada pada diriku. Hahaha. Maka satu-satunya hal yang patut saya syukuri adalah, bahwa, ternyata saya bukan satu-satunya pria cabul yang nyasar di prodi pendidikan! Hore!

Ternyata ada juga beberapa pemuda yang sebelas dua belas dengan saya. Miris sekali memang. Kami sama-sama makhluk nokturnal penikmat malam hingga adzan shubuh menjelang, manusia kriminal yang level kriminalnya hampir menduduki puncak tahta (opo seh cuk!), pengoleksi bokep berdurasi berjam-jam kelas monster (biasanya ketika dosen dan mata kuliah mulai bikin perut kembung dan kepala pening, film seperti ini cukup untuk mengisi waktu hingga perkuliahan selesai, kemudian buru-buru pergi ke kamar mandi untuk …), juga pemalas tingkat racun yang bisa membuat dosen jantungan mendadak.

Saya bersyukur memiliki kawan sekelas yang memiliki banyak kemiripan (bukan berarti wajah). Antara lain Akhadianto— kami memanggilnya mas Antok, kadang bang Ipul (apa-apa selalu dinyanyikan), kadang juga bang Ridho Un-roma (brewok banget). Pria mapan nan berbadan menggelambir ini suka mengkonsumsi CTM sebelum tidur. Pipinya tembem seperti pantat tante-tante. Di gerombolan badung kelas, dialah yang paling tua dan senior, sementara yang lain lahir di tahun 1995, dia sudah lahir setahun setelah Aristoteles wafat. Haha. Kemudian ada Jauhari— kami memanggilnya Joe. Joe ini memiliki rambut yang sangat kribo dan sungguh memikat (sentuh rambutnya, maka tangan anda akan terpikat dan sulit terlepas). Dia tipikal pria idaman tante girang karena memiliki banyak bulu dada. Selain alim, dia juga tampan. Ngomong-ngomong, dia adalah putra kebanggaan jurusan kami. Putra JBSI. Dan yang terakhir ada dua makhluk luar angkasa berbahaya yang menjadikan wanita sebagai mangsa mereka, Lutfi— kami memenggilnya Upik, dan Wendo— kami memanggilnya Wendo. Upik ini suka menonton video bule striptis sebelum tidur, saya tahu karena saya sekamar dengannya sejak pertama perkuliahan semester tiga dimulai. Dan Wendo, selalu merasa bahwa dialah lelaki yang paling mengerti wanita di dunia. Oh ya, dia suka ingusan kalo lihat tante molek. So, be careful with ‘em girls.

Kami memang gerombolan pemuda yang biasa-biasa saja, suka bolos, suka tidur, kebiasaan kami cuma ngerumpi ala ibu kosan bedebah di warung kopi sana-sini. Berbuat apa saja yang sekiranya bisa menyepak jauh rasa bosan, dan sepakan itu berbuah goal! Sebenarnya rasa bosan akan hilang seketika ketika melihat muka mereka yang tipikal korban sodomi itu. Dan benar saja, meski semester per semester sangat sulit merangkak dan banyak rintangan kekar menghadang, mereka siap membantu, setidaknya untuk membuat saya tertawa kapan saja. Dan ketika tertawa selalu digampangkan dan dianggap sebagai hal yang aneh dan remeh oleh kebanyakan orang, maka menurut kami— gerombolan si cengengesan-- itu sangat salah. Bagi kami, tertawa adalah obat, yang paling mujarab tentunya. Buat apa? Tentu ketika anda merasa bahwa diri anda adalah orang yang terasing dan merasa bahwa di dunia ini sudah tak ada lagi yang peduli terhadap anda (guatel bahasane), tertawa adalah jalan satu-satunya untuk menertawakan itu semua. Sebenarnya, tertawa tidak benar-benar mudah buat dilakukan. Benarkah? Tentu, tertawa memang dapat dilakukan tanpa syarat, everytime and everywere. Tetapa tertawa sudah menjadi semacam hal yang tidak dipentingkan, dianggap sia-sia bahkan kurang kerjaan. Kasihan bener orang yang seperti itu. Padahal tertawa itu jelas lebih enak ketimbang harus selalu serius dan mudah beruban.

Segala puji bagi Tuhan, karena badai semester tiga telah berlalu dan ternyata saya masih hidup. Saya heran bagaimana bisa saya tidak mengulang satu pun mata kuliah di semester ini. Padahal saya jarang masuk (setiap mata kuliah setidaknya sudah bolong empat), jarang mengerjakan tugas, apa lagi belajar. Saya memang kurang berani berucap bahwa saya ini orang beruntung, tetapi saya lebih tidak berani lagi mengucap kalau saya ini orang pintar. Untuk mata kuliah Statistika misalnya, presensi saya sudah bolong sekitar enam atau tujuh kali kalau tidak salah— saking banyaknya saya bolos saya sampai lupa sudah bolos berapa kali— tetapi saya malah dapat nilai B+. Tentu ini sangat tidak adil bagi mereka-- para mahasiswa yang rajin belajar tiap malam hingga menjelang UAS namun memiliki nilai yang “di bawah” saya. Hahaha. Mas Antok, teman saya yang buronan om-om suka homo ini mengirimi pesan pendek ketika liburan telah berlangsung: “Asu! Aku entuk B tok cuk, wah gak adil iki, mene aku arep protes nang pak Bambang.” Saya cuma dapet B. Ini tidak adil, besok saya akan protes ke pak Bambang.

Pak Bambang adalah dosen statistika yang ketika masuk, beliau selalu bersama asisten dosen yaitu bu Prima, sedangkan pak Bambang selalu sibuk dan hanya masuk dua kali dalam satu semester. Maka kesimpulannya, mata kuliah statistika kami diampu secara tetap oleh bu Prima. Wajahnya memang tidak seseram ibu kos saya, tetapi seperti dosen baru pada umumnya, bu Prima ini memiliki sangat banyak aturan. Ketat. Harus bawa buku teks lah, harus membaca tiap malam lah, yang telat keluar lah, dan lain-lain. Sedangkan saya? Buku teks tidak punya, mana bisa membaca? Sudah gitu sering telat lagi, dan pada akhirnya? Saya lebih sering bolos daripada harus masuk dan beresiko disuruh keluar lagi karena telat. Benar, lebih baik keluar sendiri daripada dikeluarkan. Hahaha.

Satu-satunya mata kuliah yang bolongnya hanya tiga yaitu Apresiai Puisi yang diampu oleh bapak Jack Parmin. Untuk mata kuliah ini, saya mendapat nilai A. Hanya tiga, yang lain berarti lebih. Lebih herannya lagi, nilai mata kuliah PKn saya adalah A-. Pendidikan Kewarganegaraan loh cuk, harus saya akui saya sudah bolong empat untuk mata kuliah ini. Saya tentu heran sekaligus sangat bangga, saya merasa sudah mengamalkan salah satu hal yang mencermikan bahwa ternyata saya juga termasuk warga negara yang baik. Aih. Pacar saya, sebut saja Bunga, dialah satu-satunya orang yang selalu khawatir jika tahun depan saya akan mengulang begitu banyak mata kuliah karena kebiasaan saya yang sering membolos. Makanya dia tak pernah lelah cerewet kepada pacarnya yang badung ini. Setiap pukul 04:45 pagi dia rutin membangunkan saya yang betah melek begadang dan rajin ngebo pagi buta ini. Karena setiap hari di semester tiga, kuliah dimulai pukul tujuh tepat.

Mungkin menurut kalian itu terlalu pagi untuk bangun, tetapi tidak bagi saya, karena kontrakan saya— yang mirip seperti rumah Spongebob sehabis diserang cacing besar Alaska— berpenghuni enam makhluk, belum termasuk astral dan hanya memiliki satu kamar mandi saja. Dan lebih bedebahnya lagi, salah seekor dari kami positif mengalami penyakit gangguan mandi gila. Bagaimana tidak? Untuk mandi saja dia menghabiskan waktu hingga berjam-jam tanpa peduli teman se-ordonya yang belum mandi akan telat kuliah nantinya. Gila! “Lapoan ae se ngonoiku? Aku ae adus ngeseng sak coline gak sampek sakmunu suwine.” Ngapain aja sih di dalam? Saya saja tidak pernah selama itu kalau mandi. Ujar Upik. Saya hanya tersenyum simpul saja menanggapi Upik yang sedang gusar, dan tentunya sudah tidak sabar coli. Maka setelah banyak-banyak mempertimbangkan, saya dan Bunga sepakat bahwa saya harus bangun sebelum jam lima. Harus! Tentu itu tak mudah bagi makhluk nokturnal paten seperti saya. Padahal jam segitu itu biasanya saya baru mau tidur.

Maka dengan mantap, saya memilih untuk tidak merubah kebiasaan saya yang menyenangkan dan non-sehat itu. Begadang. Tentu sampai fajar menjelang. Saya bemaksud agar tidak bangun kesiangan dan dapat mandi awal agar tidak ikut serta dalam ajang rebutan kamar mandi di pagi buta. Tetapi ternyata, itu tidak membantu sama sekali, saya tetap tertidur pulas sehabis mandi dan akhirnya kegiatan haram macam bolos-membolos sudah tidak bisa diantisipasi. Dan itu sangat sering. Hahaha. Bunga adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang paling berjasa di semester tiga saya. Entah bagaimana saya harus membalas kebaikannya, apakah saya harus membangunkannya di semester empat kelak? Itu tidak masuk akal, dia selalu bangun tepat waktu. Entahlah, soal kebaikanmu, biar Tuhan saja yang membalas ya bung? Hehe.

Dengan keadaan yang seperti itu, tentu saya sangat girang bukan main ketika menyadari bahwa mata kuliah saya lulus seratus persen. Meski pada mata kuliah bahasa Sansekerta mendapat nilai C, saya tetap bahagia. Saya tidak akan mengulang tahun depan. Biarkan saja di transkrip nanti ada nilai C. Karena memang itu batas kemampuan saya dalam berbahasa Sansekerta. Saya tetap bersyukur, meski banyak kawan saya yag ber-IPK sementara di atas rata-rata kemudian memamerkannya dengan cara update status di Facebook maupun Twitter dan melihat kelakuan saya yang semakin brutal tak karuan ini, saya tetap bangga, karena IPK saya hanya turun 0,01 dari IPK sementara semester lalu. Penurunan yang sebenarnya nyaris tidak menurun. Terimaksih Tuhan.

Akhirnya waktu yang dinanti telah tiba. Liburan musim dingin. Meski sebenarnya saya tak pernah tahu akan melakukan apa saja waktu liburan nanti. Saya tetap sangat butuh itu, waktu senggang, setidaknya untuk sedikit beristirahat dan menetralkan kembali otak saya yang mulai overload karena mangalami banyak benturan di sela-sela badai 3rd fucking semester. Pada hari Senin— saya lupa tanggal berapa— saya dengan girang bersiap untuk pulang. Membayangkan nanti saya bisa menikmati kembali banyak sesuatu— yang tidak saya nikmati selama satu semester penuh— di rumah. Seperti kopi susu buatan ibu, tempe goreng yang kriuk, sambal terasi penggugah selera, dan lain-lain. Ah, jadi tidak sabar. I’m coming soon, sweet home!

Dari Surabaya sampai Babat, saya menumpang secara gratis pada teman saya. Namanya Yani, pria kelahiran Tuban ini se-jurusan dan se-angkatan dengan saya. Perutnya tambun, kulitnya hitam maskulin seperti Chuck Berry. Dia gemar sekali mengoleksi stiker-stiker berbagai merk brand untuk kemudian ditempelkan ke helm. Suatu waktu saya pernah menyumbang satu stiker di helmnya setelah membeli salah satu kaos oblong kesukaan saya. Sekarang ini saya sedang menaiki bus jurusan Babat – Bojonegoro. Busnya tidak bagus-bagus amat, tidak menggunakan fasilitas seperti AC maupun kamar mandi, namun full music. Yeah! Aku paham bila sang pemilik bus bermaksud baik yaitu bahwa, dengan menyediakan fasilitas musik, maka perjalanan penumpang akan menjadi lebih rileks dan bokong tidak akan terasa pegal. Tentu itu sah. Tetapi mirisnya, musik di sini malah berkategori mengganggu, membuat perjalanan menjadi menyiksa, dan bokong terasa menjerit seperti habis ditendang sama Flatz*.

Sumpah itu dangdut. Eh, bukan. Itu koplo. Aliran musik yang memasyarakatkan nafsu dan menafsukan masyarakat itu diputar dari pertama saya naik hingga terakhir saya turun. Seingat saya ada yang berjudul “Oplosan (Opo ora eman duwite)”, kemudian “Wedus (mending tuku sate)”, juga beberapa lagu dangdut yang dikoplokan. Mengapa saya sampai hafal? Jelas, lagu yang dibuat tanpa nyawa atau dibuat asal-asalan pasti sangat mudah dihafal, pun oleh anak TK. Ampun! Saya dengan teguh telah mengutuk siapapun itu yang pertama kali memunculkan aliran seperti ini. Saya tidak pernah paham tentang seluk-beluk musik dangut. Tetapi setidaknya saya tahu, jika musik dangdut adalah musik yang mengutamakan cengkok dan nada vokal yang rumit dari sang penyanyi, liriknya juga kebanyakan berisi ajakan untuk berbuat kebajikan, seperti lagu-lagu oleh pionir dangdut, H. Rhoma Irama. Namun lain dengan Koplo, cengkok merdu dan lirik yang bersifat persuasif itu tidak ada sama sekali di sini. Yang ada hanyalah body aduhai sang penyanyi dengan vokal yang pas-pasan, asal bisa mendesah dan bisa menarik perhatian para lelaki hidung belang, dialah yang nomor satu. Maka dari itu, saya tidak pernah menganggap koplo itu dangdut dan sebaliknya.

Dan ketika keadaan mulai menyiksa seperti ini, maka satu-satunya penyelamat yang membela kebenaran adalah, headset! Saya membuka tas, mengobrak-abrik isi tas. Hei! Headsetku mana? Asu! Pasti tertinggal di kamar kos. Oh tidak! Tamatlah riwayat saya. Selain banyak-banyak mencaci karena musik koplo, saya juga harus menahan isi perut saya yang nyaris saja keluar karena guncangan yang luar biasa. Jalanan di sepanjang Babat – Bojonegoro memang masih penuh dengan lubang. Dan bus yang saya tumpangi adalah bus yang bangga dengan jargon “sak mlakune ban” atau “terserah ban mau ke mana berjalan”. Maka keadaan dalam bus pun menjadi begitu chaos dan menyeramkan. Para penumpang tampak sangat was-was, berkeringat dingin, dan dihantui momok mati berjamaah dalam bus. Semuanya berpegangan, menahan nafas, memanjatkan doa kepada Tuhan, dan memaki sang supir. Anjing bener!

Ada seorang bapak entah siapa namanya yang duduk bersebelahan dengan saya, bukannya ikutan was-was, eh, dia malah cengengesan melihat tingkah penumpang lain yang sedang ketakutan. Sesekali kita saling pandang (tolong jangan membayangkan adegan ini terjadi secara slow motion kemudian ada bunga-bunga merah muda bertebaran dan lagu cinta yang berkumandang seperti adegan klasik dalam FTV. Itu menjijikkan), kemudian kami tertawa terbahak menikmati kegaduhan— yang menyenangkan— yang terjadi dalam bus. “supire juancuk! Haha” ujarnya dengan kelakar. Aku hanya bisa mengiyakan perkataan sang bapak dan ikut menjancukkan supir yang menyupirkan jancuk itu. Saat saya turun, bumi terasa bergoyang, aku hampir ambruk karena masih merasakan pening di kepala. Saya hanya bisa menertawakan kejadian barusan yang “one step closer to death” banget. Setidaknya saya masih bisa bersyukur karena masih bisa hengkang dari bus dalam keadaan hidup. Dan tentunya saya masih bisa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk tertawa, membayangkan betapa paniknya para penumpang yang masih terpenjara dalam bus sialan itu. Hahaha.

***

Pukul 18.45. Suara eyang Ozzy sang dewa kegelapan lamat-lamat terdengar memikat melalui headset berumur senja yang sedang hikmat tertancap di kuping sejak selepas maghrib tadi. Di luar mungkin masih begitu lembab karena hujan yang masih belum lama reda. Sedang tidak terlalu sulit menebak apa-apa saja yang dilakukan para penduduk desa saat seperti ini, kebanyakan pasti sedang menonton sinetron yang memasyarakatkan racun dan meracunkan masyarakat itu. Saya jadi prihatin. Karena satu-satunya adik kandung saya yang berjenis kelamin laki-laki itu juga sangat teradiksi oleh sinetron kampungan itu. Dan mungkin tingkatannya hampir mencapai over dosis. Ya Tuhan, sinetron terkutuk macam apa ini? Yang dengan bedebahnya meracuni pikiran orang-orang awam dan anak kecil nan tidak berdosa.

Adik saya baru kelas 5 SD, namanya Dika. Dia sangat gemar menoton sinetron Ganteng-ganteng Serigala. Semua embel-embel mengenai sinetron itu disukai olehnya. Saya sempat miris ketika melihat adik sepupu saya— namanya Messy— datang main ke rumah kemudian mereka bermain perang-perangan. Di sini, karakter Power Ranger merah maupun putih sudah bukan menjadi hal yang akan diperebutkan lagi, tetapi karakter Tristan yang vampire dan Galang yang serigala itulah yang akan menjadi rebutan. Dan lebih mirisnya lagi, saat saya baru saja sampai rumah dengan hati gembira, hampir mati akibat serangan jantung karena melihat stiker murahan bergambar wajah imut dan menjijikkan salah satu bintang sinetron tersebut nempel di bagian luar pintu kamar saya. Jancuk! Menggelikan! Benar-benar terkutuk kau Aliando! Untunglah saya bergegas mencopot kemudian segera membakarnya dengan penuh memaki sehingga nafas saya yang semula sangat sesak dapat kembali lega dan teratur. Gila bener ini si bocah. Sepertinya sebagai anak tertua di rumah, saya gagal memberikan contoh tayangan yang baik kepada adik-adik saya. Ah sudahlah, mungkin mereka memang belum cukup dewasa dan belum cukup tahu bagaimana busuknya tayangan televisi Indonesia.

Lagu selanjutnya, masih dari Black Sabbath, Snow Blind. Hey, ternyata bukan! Ini bukan Snow Blind yang biasanya dinyanyikan secara ‘ngalem’ dan memikat oleh eyang Ozzy itu, ternyata lagu yang sedang saya dengar ini adalah System Of A Down yang membawakannya. Musiknya lebih cepat dan menghentak (mungkin karena dibawakan oleh para preman Armenia). Saya semakin betah di rumah saja, di desa saya masih terdapat persawahan yang lapang dan setidaknya masih ada sekitar ratusan pepohonan— dulu ada ribuan-- yang membuat desa saya terlihat asri dan hijau. Penduduknya jelas, mayoritasnya adalah bapak dan ibu petani yang gagah dan berkharisma agung. Sedang enak-enak menikmati lagu, tiba-tiba ada sebuah pesan pendek yang saya terima. Itu dari teman saya yang mengajak ngopi: “Jancok, ngocok nang kamar ae, ayo ngopi.” By: Gembel. Aku hanya tersenyum tampan— meski aku buruk rupa— menanggapi pesan dari si buncit tadi, tak kubalas, maaf mbel, aku sedang malas keluar, kulanjut saja aktivitasku mendengar lagu. Selang lima menit, saya kembali mendapatkan pesan pendek. Masih oleh Gembel: “Wo jieeemmb**o**t.” Kali ini saya sedikit lebih cengengesan menanggapi short massage tersebut dan membalasnya, setelah aku bertanya macam ‘di mana?’ dan ‘apakah sekarang?’ hingga akhirnya Gembel yang bermuka arogan dan berhati dangdut itu misuh-misuh karena saya kebanyakan nanya.

Kami akhirnya janjian di salah satu warung kopi di desa kami. Di sana pasti sudah banyak sekali orang-orang yang sudah berkepala tiga atau empat bercengkerama masalah pertanian dan ladang. Dulunya itu adalah warung kopi langganan bapak-bapak karena tempatnya yang asri dan nyaman hingga kemudian kami— gerombolan si darah muda— mengacau dan menyerang, bapak-bapak terkadang harus menutup kuping dan banyak-banyak beristighfar karena kami yang sering membuat kegaduhan. Haha. Baru sampai di warung. “Wah, iki lho master skak wes teko.” Wah, ini lho master catur sudah datang. Teriak mas Romli, pemilik warung. Dan benar dugaan saya, di salah satu meja tempat menaruh kopi sudah ada dua papan catur yang tergelar dan dua orang yang terlihat mikir keras sedang berhadapan.

Saya memang sangat menyukai permainan catur sejak saya kelas empat SD, sebelum itu saya sangat membenci permainan catur kerena belum bisa. Begitulah saya, kalau belum bisa melakukan ya bisanya cuma memaki. Hehehe. Di desa ini kemampuan saya menggerakkan bidak-bidak catur memang mendekati kata lumayan. Meski saya adalah orang yang malas belajar tentang mata kuliah, tetapi saya sangat gemar dengan permainan otak seperti catur, mengisi teka-teki silang, tebak gambar, dan lain-lain. Ada yang bilang master catur segala lagi (duh, sesatnya mereka yang bilang. Semoga cepat disadarkan). Belum lama melihat, paklek Wadhi yang berkumis tebal itu telah tumbang oleh paklek entah siapa— orang-orang memanggilnya pak’e Pan. Permainan selesai. “Nyah kilho nek ape main.” Nih kalau mau main, saya ditawari olehnya. Maka dengan girang saya segera menganggukkan kepala kemudian duduk di hadapan paklek pak’e Pan.

#Round 1: Dari pertama saja saya sudah bisa mengobrak-abrik pertahanan paklek pak’e Pan yang sebelah kanan dengan kuda dan menteri. Oh ya, dalam permainan catur, saya sangat menyukai kuda sebagai lakon atau dalang penyerang utama, karena selain sulit ditebak, langkah kuda juga tiada yang bisa membendung. Saat sedang asyik main, tiba-tiba muncul Hari, sosok penampakan keling yang membenci permainan catur. “Kayu ae dipikir nemen-nemen. Koyok mikir negoro ae.” Kayu saja kok dipikir serius, kayak mikir negara saja. Katanya ketus. Kami— saya dan paklek pak’e Pan— hanya tersenyum cool menanggapi bocah mesum tadi dan tetap melanjutkan permainan kami yang sudah mulai seru. Sebenarnya saya sangat membenci perkataan yang menyakitkan hati seperti itu. Saya tak habis pikir, memangnya hubungan kayu sama negara itu apa toh? Bodoh sekali kan? Iya, bagi saya, siapa saja yang bercakap bahwa catur hanya sekadar tentang kayu saja itu sangatlah bodoh dan awam. Dan satu-satunya alasan yang tidak akan meleset adalah, itu karena mereka sama sekali tidak bisa main catur. Itu sangat masuk akal.

Dulu waktu kecil saya juga membenci permainan catur karena saya tidak bisa, tetapi setelah belajar— dengan cara melihat— pada teman-teman saya, lama kelamaan saya bisa. Malahan, sekarang saya lebih mencintai catur melebihi mereka. Saya suka bermain catur meski pun saya akan kalah. Itu tak apa, setidaknya otakku yang jarang kugunakan ini sudah ada kegunaannya untuk sekarang ini. Jelas, saya dan bahkan semua orang yang sangat suka bermain catur, akan sangat sukar bila ada yang menghina permainan catur itu adalah permainan tentang kayu saja. Permainan sia-sia berpikir dan lain-lain. Padahal permainan catur adalah permainan bagi mereka yang berotak cerdik dan licik, membutuhkan strategi yang jitu agar menang, dan yang terpenting, kita harus sangat teliti. Karena jika tidak, kita akan bernasib sama seperti paklek Wadhi yang berhasil takluk oleh paklek pak’e Pan dan hanya bisa berkata menyesal: “Aduh, lali aku nek nang kono enek ster.” Aduh, saya lupa kalau di situ ada menteri. Hahaha.

Sudahlah, intinya saya tidak suka mendengar orang— siapapun itu— yang merendahkan dan meremehkan permainan catur. Dan satu lagi, mungkin saking bodoh dan awamnya, mereka tidak tahu bahwa sekarang sudah ada teknologi catur berbahan plastik (tidak menggunakan kayu lagi). Mungkin lebih baik jika mereka jangan sampai tahu, karena saya tidak bisa membayangkan kalau saja mereka sampai ngomong: “Plastik kok dipikir nemen-nemen, koyok mikir negoro ae.” Lah, memangnya hubungan plastik sama negara itu apa? Hahaha sudahlah, mari kembali ke permainan. Akhirnya, setelah pasukan-pasukan saya melewati masa kritis selama beberapa menit, sang raja dari kubu lawan yang sudah pasrah dan menunduk getir— karena sudah diambang kematian— harus rela mengibarkan bendera putih. Saya menang! Dan tertawalah saya. Hahaha. Mari lanjut paklek! #Round 2: ...

***

Bolehkah saya bersyukur sekali lagi? Tolong jangan bosan mendengar kalimat syukur dari saya. Karena mungkin, hanya itu yang bisa saya lakukan. Terimakasih banyak Tuhan. Semester tiga telah banyak memberi pelajaran kepada saya. Seperti jangan lupa sikat gigi malam agar tidak sakit gigi, jangan lupa bersedekah agar rejeki lebih lancar, juga jangan lupa membersihkan kamar agar tidak banyak nyamuk, dan yan terpenting, jangan terlalu berambisi yang sekiranya itu dapat membuat persahabatan kalian rusak (seperti tidak mau menemani teman yang membolos, tidak mau menemani teman yang begadang, teman yang asyik, dan lain-lain), dan oke, sepertinya itu pelajaran yang berharga sekali. Sudahlah, saya sudah ngomel terlalu banyak. Lebih baik saya sudahi saja tulisan acak-adul ini sampai di sini! Selamat menikmati liburan cuk, selamat bersenang-senang. Untuk kali ini saja, tolong iyakan ajakan saya untuk tertawa bersama. Mari tertawa! Hahahaha! Oh ya, sambut hangat untuk semester empat mendatang. Saya sudah tidak sabar untuk kembali bertarung!

“Let’s just laugh. We can never do anything about anything, anyway
Whatever will be, I guess we’ll see. So let’s just laugh.”
(The Lemonheads)

Post Script: Kalau nanti aku belum pintar, jangan pernah bosan membangunkanku ya bung? :D
*Flatz: Karakter dalam kartun Spongebob yang gemar menendang bokong


Jumat, 26 Desember 2014

13th at Friday

 
Mengapa tidak Friday the 13th? Karena di sini saya tidak akan menuliskan tentang film horror produksi Amerika yang di rilis tahun 2009 itu. Ataupun hari Jumat tanggal 13 yang dipercaya mengandung berbagai misteri, mitos, dan lain sebagainya. Tidak sama sekali karena angka 13 yang saya maksud juga bukan berupa tanggal, melainkan sesuatu yang menurut saya istimewa dan perlu saya tulis. Benar, angka 13 sendiri sering disebut angka sial dan patut dihindarkan. Maka dari itu di beberapa negara seperti Amerika, China, bahkan di Indonesia, tidak akan kita jumpai gedung-gedung pencakar langit yang memiliki lantai 13 di dalamnya. Di dunia ini sendiri terdapat bermacam-macam kepercayaan, mitos, dan legenda, yang tidak terhitung banyaknya. Namun bagi kaum rasionalis, kepercayaan-kepercayaan orang-orang tua tersebut malah ikut punah seiring dengan modernisasi yang merambah di seluruh sisi kehidupan manusia. Bergantung kita ingin percaya dengan hal semacam itu atau tidak sama sekali. Kalau saya jelas tidak. Apalagi mengenai hari Jumat tanggal 13 yang sering dianggap keramat. Saya malah lebih suka mempercayai bahwa hari Jumat kliwonlah yang paling keramat. Maklumlah, wong jowo tulen bung! Hehehe-- Memang terkadang kita harus membuktikan terlebih dahulu sebuah hipotesis yang sudah dianggap benar oleh kebanyakan orang namun belum tentu benar. Memang ada peluang mitos itu muncul dan benar-benar terjadi beberapa kali dalam sebuah kehidupan, tetapi tidak akan mungkin bila mitos yang ditakutkan akan berlaku sepanjang hidup. Cukup mengenai mitos, saya akan membahas tentang angka 13 yang saya alami Jumat sekarang. 13 adalah rekam jejak setelah berlalunya 12; 13 adalah catatan tentang manis pahit sebuah labirin kehidupan; 13 adalah proses sederhana menuju kesempurnaan hakiki; 13 merupakan jalan untuk menembus angan-angan yang masih berawan; 13 adalah doa yang telah terkabulkan juga janji yang telah tertepatkan; 13 adalah keistimewaan yang jelas diberikan oleh Tuhan di hari Jumat; dan 13 adalah kebahagiaan yang tak akan pernah saya lupakan. Setidaknya itu adalah kata-kata yang pantas untuk menggambarkan 13 yang saya alami Jumat sekarang. 13 bulan telah terlewati tepat di hari Jumat, sayang. Semoga tidak ada kesialan yang menimpa. Semoga tidak ada mitos yang berlaku. Aku akan mencintaimu, tak hanya sampai 13 bulan saja. Berbahagialah di hari yang dikata sial ini, tentunya hanya bersamaku.

Sabtu, 13 Desember 2014

Kurt Cobain Jauh Lebih Beriman dari Fir'aun!


Tak pelak lagi, saat menghidupi hidup, tak akan jarang kita temui berbagai kesulitan, cobaan dan hambatan. Begitulah jalan yang akan dilalui semua umat untuk mencapai setingkat derajat yang lebih tinggi. Mengenai hal itu, kita tidak akan pernah ngeh tentang kesulitan apa saja yang tengah menghadang gagah di depan. Kali ini saya ingin membahas bagaimana cara menikmati kesulitan. Kebetulan sekali sekarang ini kehidupan saya sedang dalam  keadaan sulit, entah akan ada lagi yang lebih sulit atau tidak. Saya sedang hidup dalam perantauan, menjalani perkuliahan di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, katanya sih mencari ilmu dan pengalaman, katanya sih dijamin bakalan sukses di masa depan. Dijamin sukses ndasmu a? Tidak segampang itu bitch! Sudah tak terhitung berapa kali aku rela tidak makan selama beberapa hari untuk mengirit uang saku, tidak bisa tidur karena kelaparan, hutang sana-sini, dan sebenarnya bukan melulu soal finansial saja yang sering kukeluhkan. Banyak cuk! Banyak! Buanyak! Cuk!
Lalu bagaimana aku menghadapinya? Kuakui sesekali aku pernah terbujuk oleh petuah Maria Tegoeh-- motivator handal katanya-- bahwa hidup harus dijalani dengan hikmat tanpa mengeluh dan harus selalu bilang "Aku bisa!", "Aku dapat!", dan lain-lain. Dan nyatanya hidup tak melulu soal bagaimana kita bersyukur, tetapi juga bagaimana cara kita mengeluh. Mengeluh disini bukan berarti menuntut, melainkan bagaimana cara kita mengakui bahwa kodrat kita yang sebenar-benarnya adalah makhluk rapuh ciptaan Tuhan. Kita tidak harus mengaku sangat kuat di depan Tuhan kita bukan? Bukankah Tuhan mengutuk kepribadian yang seperti itu? Coba ingat kembali kisah tentang seorang Raja Fir'aun yang mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan. Apakah Tuhan kemudian mencintainya dan memertahankan tahtanya lebih lama? Jawabannya adalah sangat benar-banar tidak pernah tidak! Tuhan dengan segala amarahnya segera membinasakan Fir'aun dalam sekejap melalui tongkat Musa. Maka dari itu, mengapa harus berkata bisa jika memang tidak bisa? Mengapa harus bermunafik dan beromong kosong jika kita masih diberi kesempatan untuk berkata jujur? Maka dari itu juga, ada kalanya kita mesti frustasi, menunjukkan kelemahan dan bersimpuh kepada Tuhan. Memang benar Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya, namun tak menutup kemungkinan jika Tuhan akan menguji hamba-Nya tepat pada titik maksimal kemampuannya. Dan pada saat itulah rasa ingin menyerah akan cepat timbul. Tidaklah munafik, pasti kita akan banyak merengek minta diringankan beban yang menimpa kita. Jadi, jika harus merengek, kenapa tidak? Ahmad Dhani sepenuhnya benar soal lagunya, menangislah bila harus menangis, karena kita semua manusia. Manusia diciptakan juga untuk menangis, bukan hanya tertawa bahak. Juga untuk mengeluh, bukan hanya tegar. Juga untuk frustasi, bukan hanya berlaga layaknya tanpa beban. Manusia diciptakan untuk jujur dalam bertutur dan berperilaku, bukan untuk bermunafik. Sekarang mari tengok cara hidup mendiang dewa Grunge, Kurt Cobain, pentolan band agung Nirvana-- yang bahkan aku tak tahu-- sampai kapan ia akan berhenti dipuja dan dikenang oleh umat penggila musik cadas. Cara hidupnya yang disimbolkan dengan kebebasan dan kebrutalan ternyata hanya sebuah bentuk keluhan terhadap banyaknya hal-hal yang membuatnya frustasi. Bahkan ketenaran yang ia dapat pun juga membuatnya begitu frustasi. Baginya, hal duniawi sudah tidak lagi nikmat. Hingga akhirnya ia memilih menghukum dirinya sendiri karena merasa tidak mampu menghadapi semua hal yang membuatnya frustasi. Bagiku itulah insan sejati, kalau kacau ya kacau saja, tidak usah sok rapi. Kalau cengeng ya akui saja, tidak usah sok kuat tetaapi diam-diam menyeka air mata dalam kesepian. Kalau mau mengaduh ya mengaduh saja, tidak usah diam dalam kepalsuan. Kesimpulannya, Tuhan mencintai makhluknya karena mereka lemah dan patut untuk dikasihi, bukan karena mereka merasa sangat kuat dan dapat berdiri sendiri. Jadi, masih mau berlaga tegar?

Sabtu, 08 November 2014

Just "Mezmerize" for this Fucking Days!


Kembali hati terbakar saat mengingat kekasih pernah manis manja dengan lelaki lain. Kembali gundah saat mengingat uang sewa kos harus segera kubayar. Kembali tangis haru saat mengingat suara ibu di ujung telepon, terlebih ketika beliau berucap, "Kuliah sing tenanan le, bayare larang. Ojo boros. Ojo lali sembahyang. Sing pinter yo le." Kuliah yang benar ya nak, bayarnya mahal. Jangan boros. Jangan lupa ibadah. Jadi anak yang pintar ya nak-- Duh bu, maafkan anakmu, semua arahan dan nasehatmu belum sama sekali bisa aku perbuat. Apalagi mengingat kelakuanku yang akhir-akhir ini bisa dikata amburadul. Berantakan. Sering bolos kuliah; boros di saat kebutuhan meledak; jarang beribadah; sering foya dan lain-lain. Maafkan anakmu bu, segala hal di hari-hari belakangan ini memang sangat menyulitkan. Seolah semuanya berjalan tanpa ada harapan. Aku kesulitan; kelabakan. Namun tak sebenarnya seperti itu. Ada hal yang perlu kuceritakan. Bukan tentang acara sinetron Indonesia yang semakin hari semakin hilang asal-usulnya. Tidak jelas. Ini tentang hiburan yang menurut saya benar-benar menghibur. Lewat lagu dari pemusik favorit. Meski dalam kesulitan, tetap kucoba ucap persetan dan membuang jauh kepenatan dengan sekadar mendengarkan bahkan ikut melafalkan. Secara suka-suka, seenak jidat. Tolong hapus ingatan kalian tentang intermezzo tidak penting di atas. Mari perhatikan hal-hal menyenangkan yang biasa disebut kebiasaan. Memang benar akhir-akhir ini hari-hari terasa sulit dijalani, tak segampang ocehan motivator penuh pencitraan, tetapi selalu ada solusi yang entah darimana datangnya. Menurutku itu akan datang saat kau benar-benar dalam keadaan buntu, putus asa, pasrah dan kau memilih untuk berhenti berpikir kembali tentang masalah yang sedang kau hadapi. Kemudian saat solusi itu datang secara tiba-tiba kau akan mengolok diri sendiri dengan kalimat: "Mengapa daritadi tidak begini atau begitu saja?", "Mengapa baru terpikirkan?" dan sebagainya. Hm, lagi-lagi bahasan yang tidak penting. Ngomong-ngomong soal solusi, ia akan datang saat kau berpikir santai, saat pikiranmu lepas tanpa paksaan untuk berpikir. Kembali ke topik kebiasaan. Kebiasaan yang menyenangkan akan membuat pikiran nyaman, santai bak sedang di pantai. Lalu apa kebiasaanku yang sekiranya dapat membuat pikiranku kembali santai dan yang kemudian dapat menghadirkan solusi saat ku dikepung masalah?-- Kalau hari-hari belakangan ini sih hanya kegaduhan yang dibuat oleh System of a Down. Grup band yang mengidentitaskan diri sebagai band bertajuk alternative metal itu memang gaduh dan riuh. Saya ingatkan, lagu-lagu dari mereka tidak ada yang enak didengar. Mereka selalu liar dan terkesan tanpa ampun saat membawakan lagu. Suara yang mistis dari front-man Serj Tankian dan tambahan vokal dari sang gitaris Daron Malakian yang membuat lagu mereka terdengar meriah. Tambah ngeri ketika sang bassis Shavo Odadjian menjadi backing vokal dengan nada suara yang tinggi. kemudian tabuhan drum yang menggebu oleh John Dolmayan membuat lengkap suasana mirip seperti penghancuran. Karena lirik-lirik mereka yang kental dengan ide, pandangan-pandangan tentang masalah-masalah sosial-politik, band keras ini pernah diartikelkan Kompas sebagai band anti kekerasan. Album mereka yang saat ini sedang kugilai adalah Mezmerize (2005). Album nomor urut dua dari belakang setelah Hypnotize (2005) ini pernah mendapat gelar Grammy Award pada tahun 2006 untuk penampilan hard rock terbaik. Lagu-lagu di dalamnya pun menurutku sangat menarik. Seperti Violent Pornography yang isinya mengarah pada perlawanan terhadap televisi. Terutama dalam hal korporasi besar atau komersialisme. Mungkin juga bentuk pemberontakan terhadap hal-hal mengenai kekerasan seksual pada tayangan televisi. Pengertian itu bisa kau temukan pada lirik "It's the violent pornography. The kind of shit you get on your TV" pada lagu ini. Melihat ironisnya tayangan televisi di Indonesia, andai saja di Indonesia ada grup band yang lagunya berisi tentang kritikan terhadap tayangan televisi, tentu akan sangat menarik dan menyeret penghargaan dari publiik. Kemudian lagu penggugah kekacauan yang lain yaitu B.Y.O.B (Bring Your Own Bombs). Lagu yang sudah dapat dikata sangat mainstream bagi kalangan pecinta musik rock. Juga lagu penenang yaitu Lost in Hollywood. Mengapa lagu penenang? Ya karena lagu ini yang menurutku paling tenang dan memang menenangkan setelah mendengar deretan lagu yang menegangkan. Lost in Hollywood dapat menjadi refleksi yang dingin setelah imajinasi terkoyak panas oleh lagu-lagu keras di album Mezmerize lainnya. Mezmerize memang tiada duanya, setidaknya untuk saat ini. Dan well, pada kenyataannya aku masih bisa menghadapi bahkan melewati masalah apapun meski terasa berat dan terasa penuh keputus asaan. Karena solusi siap didapat saat pikiran tenang, dan pikiran tenang siap didapat saat mendengar Mezmerize. Yeah!!!

Kamis, 23 Oktober 2014

Semester Tiga

Semester tiga ini, kuliah tidak berjalan sebagaimana lumrahnya. Aku, semakin tidak karuan saja. Brutal, kacau, porak-poranda. Jarang mimpi basah, sering bertikai dengan kekasih, sering pesta miras, judi sampai pagi, begadang walau ada kuliah pagi, berakhir dengan bangun siang, kemudian berujung dengan membolos kuliah. Seperti malam (bedebah) ini, waktu ada janji nobar liga champion dengan teman sekelas dan teman-temannya teman sekelas. Tak tahu darimana pikiran kotor itu berawal dan berasal, akhirnya kami putuskan untuk patungan, beli miras. Air yang diyakini dapat memberi kedamaian duniawi, dapat digunakan sebagai alibi melupakan masalah duniawi, juga dapat digunakan sebagai penghilang rasa sakit pada gigi berlubang dan gusi bengkak.

Anjing! Aku benar-benar tak bisa menolak rogoh kocek ketika mereka menarikku uang patungan, terlebih ketika mendengar alasan yang terakhir tersebut. Gigiku sedang nut-nutan cuk! Aku ndak bisa berpikir jernih dan berpikir panjang-panjang, tolong jangan ajak bercanda ketika gigiku kumat, mendengar lalat terbang saja rasanya ingin bunuh orang. Serius! Sakit gigi bukan hal yang remeh temeh, tak ada hal yang menghibur, dibuat bergerak sakitnya minta ampun, apalagi diam, lebih minta ampun. Sendiri ataupun ada teman, berdiri ataupun berbaring, tak ada yang manjur. Hanya bisa menggeliat seperti cacing panggang, berjalan mondar-mandir sambil memegangi pipi dan bilang jancuk! Cuk! Mari o cuk!, ada keinginan untuk lompat salto, pukul muka orang, cekik leher mantannya pacar, tendang tembok, bahkan menyilet tangan sendiri. Semuanya amburadul, kapal pecah, pesawat tempur meledak, kampus kebakaran, tabrakan beruntun, bahkan sinetron Indonesia, semua kekacauan menjadi satu dan sontak menyeruak di dalam kepala. Bahkan lebih kacau dari sekadar semua itu. Antartika meleleh, Amazon banjir, Berlin ambruk, atau apalah. Pokoknya sakit gigi itu jancuk, ngerti o!

Masih banyak lagi kebedebahan di semester tiga. Urusan percintaan misalnya, tentu pertikaian yang terjadi dalam hubungan adalah hal lazim, tetapi sekarang ini beda seperti sebelumnya, bahkan hanya gara-gara hal sepele kita bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk saling bermaaf-maafan. Mungkin dimulai sejak orang tua kekasihku pindah ke luar pulau, dan kami harus berjuang sekuat tenaga agar kekasihku tak ikut pindah kesana. Semuanya tampak lebih berat. Melihat kejanggalan di raut wajahnya, tentu bukan hal yang menyenangkan.

Aku tahu ia sangat berat merelakan dirinya tetap disini bersamaku, tetapi aku juga lebih merasa keberatan jika harus merelakan dirinya meninggalkanku. Soal itu, aku tak yakin hubungan kami bisa bertahan jika ia benar-benar harus pindah atau, mungkin akan tetap bertahan walau jarak membentang namun tentu masing-masing dari kita akan sangat mati-matian bertahan menahan kerinduan nantinya. Persetan dengan omongan orang bijak, cinta itu butuh pertemuan cuk! Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Jadi, tenang yo sayang, aku berjanji akan membuatmu bahagia. Hingga kapanpun dan bagaimanapun keadaannya. Maka pak, buk, aku minta doa restu kalian untuk menjaga anak bapak dan ibu disini. Izinkan kami menjalani apapun berdua hingga kapanpun. Kumohon. Aku berjanji tidak akan mengecawakan kalian. Atas izinnya, saya ucapkan terimakasih banyak. :)
O ya, lebih miris lagi urusan keuangan. Aku harus rela membuang jauh rasa malu dan mengharap rasa iba dari teman sekelas agar dipinjami berapa ratus ribu untuk hidup seminggu. Bagaimana tidak? Jatah sanguku sudah habis seminggu lebih awal. Semester tiga ini aku memang lebih boros dari semester sebelumnya. Lebih banyak kebutuhan tepatnya, padahal sudah coba mengirit dengan tidak membeli buku perkuliahan dalam bentuk apapun. Tetapi tetap saja, belum lagi harus segera bayar kosan, dinaikkan pula biaya kamarnya, katanya sih, alasan listrik yang naik gara-gara teman sekelas sering main game di laptop dan menurutku itulah alasan terbodoh yang pernah dicakap mulut bedebah para ibu kos.

Memang tiada yang lebih memuakkan daripada muka ibu kosan. Bisa jadi aku akan kelabakan bayar hutang ke temanku nantinya. Belum lagi ada mata kuliah yang mengharuskan untuk melakukan penelitian bahasa ke luar pulau di akhir bulan nanti, dan biayanya tidak murah pula, njing! Aku harus bagaimana? Mungkin jika tak ada kekasihku disini, maka aku sudah cuti satu semester untuk mencari pekerjaan dan menenangkan pikiran yang hampir bisa dikatakan tidak waras ini. Satu lagi, hutang pulsa ke teman sekelas perempuan juga sudah menumpuk! Pusing banget cuk! *Ndang cepet ta lah rek nek tuku ombenan. Gigiku wis kumat parah!!!-- Lhoalah.. Mene onok kuliah isuk. Bolos maneh wis. Fuck! O:)

Minggu, 10 Agustus 2014

Oh Bulan

Sudah hampir pagi ya? Oh Tuhan, mengapa harus berakhir setragis ini? Malam tak berbintang namun cukup terang dengan satu bulan saja. Lagipula.. Hai, bulan! Mau kemana? Mau tidur? Mengapa harus buru-buru? Mengapa tak kau habiskan dulu secangkir kopi ini bersamaku? Ayolah... Tak perlu malu. Kau tak lebih buruk dariku. Aku tahu kau juga sangat merindukanku. Sejak kapan kau menjadi manja begitu? Baru dua bulan lebih tak bertemu saja sudah lupa bagaimana aku. Aku mana bisa begadang sendiri tanpa temanimu? Tentu kau ingat sesuatu tentangku, bukan? Tepat sekali, ini aku bulan, kekasihmu. Tentu kau tahu, hanya aku yang selalu merindukanmu sebagai seorang pungguk. Tempatku dan singgasanamu begitu jauh. Lalu apa? Apa yang bisa dilakukan oleh seorang pungguk selain merindu? Kumohon, untuk malam ini saja. Mari berbincang soal apapun yang kau mau. Apapun itu asal kau tak mendahuluiku. Hai bulan? Kenapa diam saja? Oh tidak. Kau benar-benar telah tertidur? Mengapa bisa, bulan? Mengapa tak kau.... Hm, lupakan. Baiklah bulan, kudoakan saja semoga kau mendengar ini semua dalam mimpimu. Ketahuilah, aku sedang berjuang keras menahan rinduku padamu, rindu tak berujung saat sedang jauh seperti ini. Tak peduli 'kan kau temani melewati malam sampai benar-benar pagi atau tidak, aku akan selalu mencintaimu. Selamat tidur, bulan. Biarkan aku berandai-andai dapat mencium keningmu sebelum tidur. Tidurlah.

Senin, 09 Juni 2014

Great, Opa!


Ketika bosan dengan tugas kuliah. Pacar udah tidur duluan dan sedangkan aku masih kepikiran hutang di warung gang sebelah. Maka kuputuskan untuk ber-facebook ria dan secara tidak sengaja nemu ini di beranda.


Ozzy Osbourne offers some brutally honest revelations about his life in a brand-new interview, including admitting he "was a bad father" and "an abusive husband."
Sumber gambar: Facebook Page: Loudwire
 
Orang di atas adalah Ozzy Osbourne, pelopor band bertajuk thrash metal, Black Sabbath.
Lihat dan baca baik-baik! Orang sedahsyat Ozzy Osbourne saja masih merasa memiliki banyak kekurangan. Merasa memiliki banyak kekurangan bukan berarti merasa serba kekurangan. Yang saya maksud disini adalah tahu diri, bukan takabur. Kalau dalam bahasa jawa, eling atau ingat. Ozzy merasa bahwa dirinya adalah ayah yang buruk dan suami yang kasar. Dia bahkan tak peduli dengan siapapun yang bakal mengolok-oloknya. Bagiku itu hebat! Jika kita lihat kebanyakan manusia jaman sekarang, banyak dari mereka yang enggan membeberkan keburukan mereka, tetapi malah menyombongkan hal-hal tak penting ataupun lelucon yang menurut mereka itu memesona. Haha, lihat dan tirulah seseorang yang sering dipanggil dewa kegelapan ini, kawan!

Rabu, 22 Januari 2014

Hitam Suci

"Hitam itu kotor"
"Hitam itu buruk"
"Putih itu suci"
"Putih itu baik"

Ah, munafik!

Hey kalian, pecundang!
Hentikan omong kosong kalian tentang hitamku!
Bungkam mulut pelacur kalian!
Pengumpat!
Kenapa kalian bilang putih itu suci?
Kenapa kalian mengklaim bahwa hitam adalah sebaliknya?

Bukankah mereka sama?
Bukankah keduanya tak ada bedanya?
Bukankah keduanya merupakan warna dasar segala hal dalam kehidupan?
Putih memang suci, namun demikian juga hitam.
Putih memang akan kotor jika ada hitam di dalamnya.
Lha memang hitam bukan begitu?
Hitam juga akan kotor jika ada putih di dalamnya!
Benar, keduanya suci dan dapat terkotori.
Lha apa bedanya?
Tolol!
Kalian tolol!

Senin, 06 Januari 2014

Wall of Death for Living Life



Kau bisa saja membuang-buang waktumu pada kemunafikan
Tapi percayalah, ini adalah langkah terdekat untuk menjadikan hidupmu lebih hidup
Dimana kau akan bergerombol dengan orang-orang gila di sebuah tempat luas, bebas, dan tanpa atap

Kau akan dapat merasakan langsung ganasnya sentuhan angin siang dan malam
Kau akan dapat melihat seringai matahari dan bulan secara langsung
Kau akan dapat merasakan sepak-terjang yang benar-benar menerjang;
Kau akan merasa tersepak dan terterjang, kau akan merasa seperti dihempaskan pada batu karang oleh badai ombak yang sangat dahsyat
Kau akan dapat bernapas lega di alam terbuka, kau dapat berteriak dan bergerak bebas
Kau benar-benar akan merebut kembali kebebasanmu
Kau akan merasa seakan kau sedang terbang dengan mimpi-mimpimu 

Dan kau akan merasa seakan berputar di atas roda waktu
Di Wall of Death!


Katakanlah terowongan cinta sedikit bisa menghiburku
Katakanlah Bahtera Nuh dapat melindungiku

Dan katakanlah semua orang di dunia akan menjauh dariku. Aku tak peduli!
Aku akan tetap naik di
Wall of Death!
 

Karena ini adalah rute terdekat (dan satu-satunya) untuk menjadi sangat bebas, buas, dan ganas
Bayangkan saja ketika kau sedang naik Roller Coaster
Mungkin kau akan merasa kuat dan aman dengan sabuk pengamanmu

Tapi apa sebenarnya gunanya sabuk pengaman
Hanya merasa aman tidak akan benar-benar menjamin hidupmu. Namun merasa bebas!
 

Jangan sesekali menengok ke belakang, karena itu akan membuatmu segera gila!
Waspadalah terhadap pria bertopi, berpakaian rapi berjenggot, berbekal cambuk dan pistol di belakangmu!
Tetap biarkan dirimu mengambil kesempatanmu

Biarkan aku mengambil kesempatanku
Di Wall of Death!
Hanya di Wall of Death!

Naiklah tanpa rasa ragu dan takut
Kau akan baik-baik saja disana. Bersama kami

Jumat, 03 Januari 2014

Ketika Mimpi tak lagi dapat Setinggi Langit



Melihat arloji untuk ketiga kalinya, penat dan resah ketika menunggu bus di stasiun. Sebenarnya aku tak berharap banyak pada datangnya sang bus, namun aku lebih tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan saat itu.
Bukan lain hanya untuk pergi ke tempat lain yang jauh, begitu jauh, dan bahkan sangat jauh. Jauh sekali, menurutku. Pergi, dimana tak seorang pun enggan untuk menyapamu atau siapapun. Sesungguhnya mereka tidak bisu, namun mereka tak akan bersedia berbicara dengan siapapun yang mereka tidak ketahui. Ya, siapapun.
Kemudian ku berakhir didalam kerumunan beberapa pabrik yang penuh kotoran.
Aku berjalan menuju sebuah rumah kecil yang amat berantakan, aku meletakkan barangku, kemudian aku berbaring melemaskan otot-ototku, sesekali duduk kemudian kembali berbaring. Aku benar-benar merasa kosong dan tak berdaya di ranjang tidurku, di sekitar kehampaan, sendiri.

Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi percayalah, ini terasa.. Seperti berkunjung ke Rockville.
Lingkungan dengan limbah-limbah pabrik yang menyengat dan tak akan pernah luput dari indera penciuman. Tanah berbau seperti kotoran pada tujuh benua. Menjijikkan! Lebih menjijikkan dari kotoran dajjal. Keparat! Bau ini benar-benar menusuk tajam, menggores lubang hidung. Benar-benar sesak dan menyedihkan. Sesekali pada malam hari, aku minum air beralkohol, sendiri. Hanya sekedar untuk membayar lunas lelap pada saat akan tidur, kemudian berpura-pura tidak peduli jika kau tidak berada disini bersamaku. Karena memang menurutku tempat terindah disini adalah alam nirwana yang hanya ada di alam mimpi indahmu, yang hanya akan kau dapatkan ketika tidurmu sangat pulas. Benar-benar sulit kau temukan.
Menurutku, itu adalah cara terbaik untuk menangani semua masalahku jika aku terlalu jauh masuk ke dalamnya. Entah sesuatu yang lebih baik segera terjadi nanti atau tidak. Aku tak peduli.
Atau sesuatu itu akan menjadi terlambat terjadi nanti atau tidak. Akupun tak peduli.
Disini, semua orang hanya akan memperhatikanmu ke bawah, dan itu sangat bukan sebagaimana mestinya.

Ketika dunia menjadi raksasa, ketika dunia adalah rakasa.
Kepedihan akan segera menelan (utuh) mu. Kau akan menjerit minta tolong kepada kesia-siaan.
Para jelmaan dari Troll akan melemparmu keluar pintu. Kau akan di tendang, kemudian tak tahu arah jalan.

Inilah saat-saat dimana hidup mulai kejam dan kasar. Saat mimpi harus kau ubah menjadi kenyataan dengan tanganmu sendiri. Bicara soal mimpi, tentu kita memiliki banyak mimpi yang ingin kita wujudkan, banyak sekali, bahkan tak terbatas. Banyak kok yang mengatakan hal semacam itu. "Gapailah mimpi setinggi langit". Tentu kalimat itu sudah sangat tak asing di telinga kita. Namun yang ada di jaman sekarang, mimpi seseorang seakan di tentukan oleh orang lain. Mimpimu, seakan harus sesuai dengan keinginan mereka. Kau, seakan harus patuh terhadap yang mereka tentukan. Entah berupa peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan dalam bermimpi. Inilah saat dimana kau tak dapat bernafas lega dalam hal mewujudkan mimpi, dimana kau tak dapat bebas menentukan mimpimu, saat dimana mimpi-mimpi itu mulai menyiksamu, dan saat dimana mimpi-mimpi itu mulai menggerogoti habis kebahagiaan sejatimu. Kali ini kau akan merasa benar-benar tersesat, kau tak akan bisa berpaling, kau tak bisa menoleh ke belakang, kau tak bisa berucap "Masa Bodoh!", kau harus benar-benar berjalan mengikuti arus ke depan. Kau harus taat pada peraturan yang telah mereka buat. Kau harus benar-benar merasa tertarik saat kau mulai ditarik, tak peduli jari-jarimu akan remuk, bahkan putus di tengah jalan. Mereka akan terus menarikmu dari depan, dan mencambukmu dari belakang. Hm. Mimpi memang bukan lagi mimpi, mimpi memang telah berubah menjadi semacam kewajiban yang memuakkan. Meskipun kau telah mendapat waktu istirahat, kau akan menjadi seseorang yang penuh dengan tugas, hukuman, dan tantangan. Benar-benar munafik! Menurutku.
Mungkin jika badai tak mampu membunuh mimpimu, peraturan tersebut dengan mudah dapat melakukannya.
Aku sempat berpikir, apa yang harus aku lakukan agar benar-benar bisa keluar dari kepala bedebahku sendiri. Apa yang harus aku lakukan agar aku mendapatkan hari-hari baru, dengan aroma kopi yang masih hangat dan memikat di pagi hari. Entahlah, walaupun aku baru saja menikmatinya tadi pagi, tapi aku kembali sangat merindu dan mendambanya. Karena aku tahu, aku akan sangat lama tak bertemu kembali dengannya: Hari-hari indahku, pagi sejuk dengan aroma kopi panas yang benar-benar melegakan. Demikian juga kau.
Aku tak begitu paham dengan semua hal yang ada pada jaman sekarang. Revolusi dan Evolusi diri yang aneh dan menyedihkan.
Mungkin ini sedikit tabu bagi mereka, tapi tidak bagiku.
Solusi satu-satunya hanya dengan membenci mereka dengan belajar dan mempelajari dirimu sendiri. Jangan dengarkan auman mereka. Abaikan saja. Maka mimpi-mimpimu akan segera dibebaskan. Ya, kau akan merasa sangat bebas dengan jalanmu, jalan hidupmu sendiri. Kemudian buatlah surat perpisahan berlumurkan bahan bakar dan sulutkan dengan api, bakarlah dan lempar jauh ke udara. Segala macam nyeri, kebencian, dan kemunafikan yang terkabung dalam tubuh dan jiwa, bakar dan buang semuanya! Tak ada yang harus mengambil alih kemudi dalam hidupmu. Bukalah lembaran Al-kitab barumu sendiri. Para malaikat telah kembali bernyanyi, suara mereka akan kembali terdengar lagi. Dan bahkan ketika hidupmu harus berakhir di sini. Berbahagialah! Berbanggalah! Dan katakan "Selamat tinggal para pecundang!". Pergilah sekarang, Ini adalah revolusi yang kejam.
Pergilah dengan membunuh kemunafikan peraturan dalam dirimu. Teriakkan: teriakan melawan kebohongan.
Berjalanlah dan bicara bak jam yang tok-tik maupun tik-tok. Dengan Rock and Roll. Berjalanlah melalui jembatan dan tol. Dengan Brillance dan cahaya. Dengan rasa bangga mengepalkan tangan dan melawan. Kemudian lihat jalan di depanmu, lupakan mereka, tinggalkan saja mereka, jalan mereka, peraturan mereka. Dirimu adalah milikmu.

Ini bukan sebuah perumpamaan. Ini adalah hal yang mengerikan, sangat mengerikan.
Ya, aku akui itu, setelah, setelah semua yang telah ku lakukan hari ini. Aku telah mendapatkan tangan dan sayapku kembali. Dan itu terjadi pada saat itu juga. Setelah aku berhasil mengubah haluan hidup, setelah aku berhasil berputar balik, kemudian berpaling dan meninggalkan mereka. Setelah aku menentukan dan menemukan jati diriku sendiri. Jalanku sendiri.


Bojonegoro, 03 Januari 2013.
Sekedar bersuara. Semoga kau dan mereka dapat mengerti.

Kamis, 19 Desember 2013

Cerita PKKMB

Saya bernama lengkap M. Habib Syafaat, tetapi entah iblis macam apa yang membuang kotoran di otak teman-teman saya sehingga dengan bedebahnya dan seenak kepala mereka memanggilku dengan sebutan akrab Bob. Memang kurang masuk akal, tetapi di sini saya tidak akan membahas asal-usul mengapa saya dipanggil Bob. Terserah siapa saja mau memanggil saya dengan nama yang mana, asal jangan dipanggil orang ganteng saja. Baiklah, saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya pada waktu ospek sebagai Maba Fakultas Bahasa dan Seni di UNESA angkatan 2013. Seperti manusia normal pada umumnya, saya pun sedikit merinding waktu mendengar kata ospek. Namun jangan salah, walaupun banyak yang bilang ospek itu tidak enak atau pun tidak nyaman, tetapi saya berani memastikan jika kegiatan tersebut akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah kalian lupakan! Serius!

****

Bermandikan kolam susu di tengah cahaya rembulan, bersuguhkan berbagai macam buah-buahan oleh para bidadari surga. Perlahan meredup, kemudian terpecahkan oleh suara alarm telepon genggam yang saya buat tadi malam. Ya, tadi itu hanya mimpi. Waktu menunjukkan tepat pukul 04.00. Badan terasa pegal dan enggan untuk bangun dari kasur yang tidak terlalu empuk. “Seharusnya hari ini aku sudah ada di rumah, bertemu dengan keluarga, juga teman di kampung halaman yang jarang kusapa,” geram saya dalam hati. Setelah mengucek mata berkali-kali, saya segera menuju ke tempat yang benar-benar membuat saya ingin kabur dari dunia ini, kamar mandi. Mungkin tak perlu kujelaskan lagi apa-apa saja yang saya lakukan di sana. Setelah benar-benar melek oleh dinginnya air pagi kamar mandi, saya bergegas memakai pakaian dan atribut yang ditentukan pada saat Pra-PKKMB, antara lain: Baju putih lengan panjang, celana putih panjang, kaos kaki putih polos, sepatu hitam pantofel polos, kalau untuk pakaian mungkin masih bisa dibilang wajar, tapi kalau untuk atribut? Rasa-rasanya tak bisa dibilang wajar deh, masak iya sih cuk, kami disuruh memakai tas yang harus kami buat sendiri menggunakan kain mori? Memangnya kami ini poba (pocong baru) apa? Dan satu lagi yang terlihat aneh tapi tidak bin ajaib sama sekali, yaitu atribut kepala dan mulut yang jika dipakai akan memiripkan kami dengan ksatria monyet Hanoman yang gagah dan beringas (Lambang kebanggaan kami anak Fakultas Bahasa dan Seni). Namun jangan salah cuk, ya di sini ini letak keseruan sebenarnya, letak perbedaan kami dengan anak fakultas lain yang atributnya menurutku biasa-biasa saja. Ngomong-ngomong dibanding fakultas lain, bisa dibilang penampilan kami lebih ekstrim, lebih menantang, dan lebih istimewa pokoknya. Kembali ke jalur cerita, setelah berpakaian lengkap, saya bergegas menuju kampus. Tentunya dengan hati yang serba was-was, gelisah, disertai rasa takut terhadap kakak Kamtib yang wajahnya sok garang dan murah hati. Di jalanan yang sedang kulewati tampak banyak sekali maba-maba yang berpakaian sama seperti saya, berjalan dengan langkah gontai dan getir seolah-olah kami ini adalah para kambing yang akan disembelih pada waktu hari Qurban. Kami pasrah dengan apa yang akan terjadi di waktu nanti. Hanya berulang-ulang memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa dan meminta doa restu dari orang tua agar selamat dan dipermudah urusan saya. Setiba dikampus.

“Wiiiuuuuuwiiiiuuuuwiiiiuuuuuuu” suara sirine memecah belah samudera keheningan, tanda kami harus bergegas menuju lapangan untuk ditertibkan. Kami berlarian panik seperti terguncang gempa. 

“Cepat Dik!” bentak para Kamtib

Saya hanya bisa bersyukur karena saya tidak terlambat, di sana banyak maba yang dihukum karena terlambat, sementara itu ada sebagian Kamtib yang menertibkan kami agar segera berbaris dengan rapi. “Tanpa Suara!” teriak mereka seperti penjajah kepada tawanannya, suasana pun menjadi hening, penuh rasa takut dan disertai kantuk yang maksimal tentunya. “Tetap Kondusif!” lanjutnya. Tak lama setelah pemeriksaan atribut dan lain-lain oleh Kamtib selesai, acara diisi oleh Si Acara, sedikit lebih lega, tetapi tetap saja kami masih kurang semangat karena alasan kurang tidur, belum sarapan, dan lain-lain.

“Selamat pagi adik-adik?” sapa genit mereka

“Pagi.(setengah lantang kurang semangat)” jawab kami

“Loh. kok kurang semangat? ayo diulang sekali lagi. Selamat pagi adik-adik!” Dilanjutnya karena kurang puas

“Pagiiii!” Jawab kami dengan lantang, namun dengan sedikit unsur keterpaksaan. Singkat cerita, di sana kami disemangati, dibimbing untuk bersuka ria. Namun itu tak berlangsung lama, karena acara diisi lagi oleh Si Kamtib. Sialan!

“Berdiri Dik!” teriak Kamtib. Kami pun segera beranjak dari duduk kami dengan gemuruh suara-suara tawa, bercanda, dan lain-lain. “Tanpa suara!” pungkas mereka. Kami terbius oleh kata-kata tersebut. Semuanya diam. Nah, di sinilah acara yang paling popular dan bergengsi dimulai. Acara itu adalah O-R-A-S-I! Di sana kami dibimbing untuk mengeluarkan suara, pendapat, ataupun uneg-uneg tentang acara PKKMB, tentu banyak muka-muka sok pahlawan dari kalangan kami yang dengan beraninya mengeluarkan pendapat, walaupun harus menentang Kamtib sekalipun. Tepuk tunggal untuk mereka! *Plok! Setelah itu kami diistirahatkan, benar-benar kami tunggu saat-saat istirahat seperti ini, karena di situ kami bisa merelakan dahaga, membuang lapar, mengkonsumsi udud, dan berbincang-bincang satu sama lain untuk melepas penat.

Namanya Bagas, dia teman satu kelompok saya. O iya, dalam kegiatan PKKMB (ospek) dibentuk sekitar 28 kelompok dari berbagai jurusan yang berbeda.

“Edan cuk, badanku pegel banget. Asu!” ujarnya memulai percakapan

“Sama cuk, aku juga!” jawabku

“Masih seminggu lagi bro, iso kuat gak yo iki?” lanjutnya

“Ah santai, dijalani saja, yang penting jangan sampai absen.” kataku meyakinkan, padahal saya tahu perasaan kami sama (sama-sama takut dan gelisah). Ah biarkan saja, yang penting saya masih hidup. Lagi-lagi suara (bedebah) sirine berbunyi tanda waktu istirahat habis, kembali kami berlarian menuju lapangan dan berbaris sesuai kelompok masing-masing. Orasi ronde kedua pun dimulai. Ya benar, seperti orasi pertama, kami disuruh untuk maju ke depan dan menyuarakan aspirasi kami. 

“Ayo dik, jangan bisanya cuma mbebek, keluarkan pendapat kalian! Kalian sudah Mahasiswa! Ada label Maha didepan Siswa!” suara dorongan dari Kamtib agar kami berani maju dan bersuara. Pokoknya acara ini adalah acara yang paling berkesan bagi saya, walaupun saya sering tertidur pulas pada waktu acara ini berlangsung. Berselang waktu cukup lama, kami dihadapkan kembali pada Si Acara untuk pemberian tugas-- yang membuat kami tidak bisa tidur sampai shubuh-- untuk hari berikutnya, kemudian  kami dikondisikan untuk pulang. Begitupun hari-hari selanjutnya juga berjalan seperti hari pertama. Ospek dilakukan selama 7 hari, banyak sekali pelajaran-pelajaran yang dapat saya ambil dari kegiatan tersebut. Mulai dari kekompakan, kebersamaan, melatih kejujuran, keberanian, dan menunjung tinggi nilai kebenaran (jancuk bahasane nggateli). Terima kasih kepada kakak-kakak yang telah membimbing kami. Semua kesan suka maupun duka juga tertuang di sana. Tangis, tawa, susah, bahagia, sedih, senang, lelah, juga semangat. Semua terangkum dan termaktub dalam setiap rangkaian kegiatan tersebut. Oke cuk, itu hanya secuil gambaran umum seputar Ospek Fakultas ala Bob, yang jelas tak semua ospek itu menyeramkan seperti yang kita bayangkan, saya saja dulu takut setengah hidup mendengar yang namanya (kedzaliman) ospek. Tapi setelah saya jalani sendiri, ternyata ospek itu asyik juga, sangat asyik tepatnya.

Kenangan yang tak kan pernah terhapuskan oleh bahana badai sekalipun. How do you think?

https://www.facebook.com/MuhammadHabibSyafaat?ref=tn_tnmn
Aku durung adus cuk! :D